
"Dia terlalu berisik." Jawab Rey.
Kyara melipat bibirnya. Merasa lucu dengan jawaban dari putranya.
"Walau pun berisik tapi dia gadis yang lucu bukan?" Goda Kyara.
"Tidak." Balas Rey singkat.
Kyara semakin melipat bibirnya agar tidak tertawa. Semenjak ia membawa Rey datang ke cafe langganannya putranya itu memang menjdi incaran gadis mungil yang menjadi anak sang pemik cafe. Gadis mungil dan lucu itu selalu saja suka mencari perhatian putranya dengan berbagai tingkah lucunya.
"Baiklah. Kalau begitu ayo kita turun. Papa sudah menunggu kita di bawah." Ajak Kyara.
Rey mengangguk lalu bangkit dari duduknya. Sedangkan Rachel memilih mengulurkan kedua tangannya pada Kyara meminta digendong.
"Anak Mama..." ucap Kyara merasa gemas dengan Rachel. Setelahnya Kyara keluar dari dalam kamar mengikuti Rey yang sudah keluar lebih dulu.
Pukul satu siang, keluarga Dika dan William nampak sudah berkumpul di ruang tamu rumah Gerry dan Kyara. Suasana di ruang tamu pun mulai heboh saat Rachel dan Flower saling berlari ke sana kemari sambil membawa mainan di tangan mereka masing-masing. Alan dan Alana pun tak tinggal diam untuk menyusul kakak-kakaknya yang kini sedang berlari.
"Mereka sungguh lucu, ya." Ucap Rania tersenyum menatap pada anak-anak mereka yang kini semakin heboh bahkan Rachel mulai menunjukkan taringnya dengan berteriak sekencang-kencangnya saat Alana berniat mengambil mainan di tangannya.
Hana mengangguk membenarkan. Sedangkan Kyara sudah berdiri untuk menasehati Rachel yang tidak mau membagi mainannya pada Alana.
"Tidak boleh seperti itu. Ayo pinjamkan adik mainannya." Tutur Kyara.
Bibir Rachel mengerucut tajam namun tangannya tetap terulur memberikan mainan di tangannya pada Alana.
"Mommy!" Merasa senang mendapatkan apa yang ia inginkan, Alana pun berlari ke arah Hana seraya memamerkan mainan di tangannya.
Di atas karpet bulu, Rey hanya diam sambil menatap interaksi antara adik-adiknya yang sedang bermain dan berteriak satu sama lain.
"Mereka sungguh berisik." Ucap Rey lalu menggelengkan kepalanya.
"Ayo kita berangkat. Mobilnya sudah siap." Ajak Gerry yang baru saja kembali dari depan rumah.
Kyara, Hana dan Rania mengangguk. Mereka pun membimbing anak-anak mereka untuk keluar dari dalam rumah.
"Rey, ayo." Ajak Gerry pada Rey yang masih duduk diam di atas karpet.
"Baik, Pa." Balas Rey lalu bangkit dari duduknya.
"Rey bisa jalan sendiri, Pa." Ucap Rey merasa risih.
"Tapi Papa ingin memegang tanganmu." Balas Gerry.
Rey diam dan membiarkan Gerry melakukan apa yang diinginkannya karena menurutnya percuma saja membantah ucapan Papanya itu.
"Kenapa Rey hanya diam saja sejak tadi?" Tanya William pada Gerry yang sedang fokus mengendari mobil.
"Memangnya sejak kapan kau melihat putraku banyak berbicara?" Cetus Gerry.
William tertawa mendengarnya. "Kau benar juga. Tapi kali ini putramu terlihat lebih diam dan wajahnya sangat datar dan dingin." Ucapnya.
"Biarkan saja. Putraku itu sedang menyiapkan mental untuk datang ke cafe langganan Kyara."
"Menyiapkan mental? Tapi untuk apa?" Tanya William bingung.
"Kau akan mendapatkan jawabannya nanti." Balas Gerry tak ingin banyak menjelaskan.
William mendengus dan memilih diam sambil menatap interaksi Flower dan Rachel dari kaca spion mobil.
Tiga puluh menit berlalu, mobil pun akhirnya sampai di depan cafe yang terlihat sedang ramai siang itu. Rey yang baru saja turun dari dalam mobil mengurungkan niatnya untuk berjalan saat melihat gadis berisik yang sering menganggunya turun dari dalam mobil sambil menangis.
Kenapa dia menangis? Tanya Rey dalam hati
***
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.