
"Apa kau tidak sadar ucapanmu tadi kembali membuat Hana bersedih? Kau mengatakan jika Dika tidak mungkin mau mengecewakan Tante Puspa. Sedangkan saat ini Dika mengecewakan Hana yang sudah susah payah menyiapkan perayaan ulang tahun untuknya. Bahkan kau lihat itu? Dika belum menyentuh kuenya sama sekali!" Cecar Gerry.
William menggaruk keningnya yang tak gatal. "Maaf aku tidak sadar jika ucapanku mungkin menyakiti Hana." Sesal William.
Gerry kembali memukul pundak William lebih keras. "Kau ini selalu saja!" Cetus Gerry lalu berjalan menyusul langkah Hana tanpa memperdulikan William yang kini tengah meringis kesakitan akibat pukulannya.
"Apa tadi dia memukulku menggunakan tenaga dalam?" Geram William lalu berjalan menyusul langkah Gerry sambil menahan sakit di pundaknya.
*
Satu minggu telah berlalu sejak terungkapnya perselingkuhan pura-pura Hana oleh Dika. Dan semenjak hari itu pula sikap Dika semakin dingin kepada Hana. Rasa kecewanya yang terlalu dalam pada Hana membuat Dika kembali berubah menjadi pria yang tidak mudah tersentuh. Berulang kali Gerry dan William berupaya menjelaskan pada Dika permasalahan yang terjadi namun Dika bagaikan batu yang tidak ingin mendengar masukan dari kedua sahabatnya.
Sikap Dika benar-benar kembali pada awal perjumpaan mereka setelah enam tahun tidak berjumpa. Bahkan Dika tak lagi mengantarkan Hana pergi bekerja dan membiarkan Hana berangkat bekerja membawa mobilnya sendiri. Namun di balik itu semua, Dika tetap menjadi suami yang menghargai Hana. Setiap sarapan dan makanan yang dibuatkan Hana selalu ia makan walau tanpa ada pembicaraan di dalamnya.
Pagi itu, Dika kembali terjaga karena mendengar suara Hana yang tengah muntah di dalam kamar mandi. Dika menghela nafas panjang. Egonya yang terlalu tinggi dan rasa kecewanya yang terlalu besar membuatnya sulit untuk beranjak untuk menghampiri Hana dan mempertanyakan ada apa dengan istrinya itu. Dika bahkan tidak menyadari perubahan yang dialami Hana beberapa hari belakangan ini.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat perhatian Dika teralihkan ke sumber suara. Dari atas ranjang Dika menatap Hana yang kini tengah memijit kepalanya. Wajah Hana nampak pucat seolah tak teraliri darah di sana.
Apa dia sakit? Batin Dika bertanya. Dika pun turun dari ranjang lalu melangkah menuju kamar mandi.
"Dika, maaf, pagi ini sepertinya aku tidak bisa membuatkan sarapan untukmu." Ucap Hana saat berpapasan dengan Dika.
Dika tak menghiraukan ucapan Hana dan lebih memilih melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Hana mengelus dadanya yang terasa sakit. "Sabarlah Hana..." gumamnya dengan tersenyum miris.
*
"Dokter Hana, apa anda baik-baik saja?" Wajah Fitri nampak cemas menatap Hana yang terlihat lesu dengan wajah sedikit pucat setelah keluar dari kamar pasiennya.
"Dokter sedang tidak baik-baik saja. Lihatlah wajah Dokter sangat pucat." Ucap Fitri sedikit keras.
Arka yang kebetulan sedang melintas pun menghentikan langkahnya sejenak saat mendengar ucapan Fitri. Kakinya pun kemudian melangkah ke arah Hana dan Fitri yang kini masih berdiri di depan kamar rawat.
"Hana, apa kau baik-baik saja?" Arka menatap wajah Hana lalu turun menatap perut Hana yang masih datar.
"Aku tidak apa-apa, Kak." Balas Hana.
Arka menggelengkan kepalanya. "Ayo ikut aku!" Ucapnya lalu menarik tangan Hana.
"Kak Arka ingin membawaku kemana?" Hana mencoba melepaskan genggaman tangan Arka.
"Aku akan membawamu ke ruangan dokter kandungan untuk meminta obat atas kondisimu saat ini." Ucap Arka sambil terus melangkah.
***
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.