Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Tidak habis pikir


"Baiklah... lalu apa yang harus kami bantu saat ini?" Tanya Gerry.


"Aku ingin kalian membantuku mendekorasi kamar ini." Balas Hana.


"Oh astaga... kau tahu jika kami tidak berbakat dalam hal seperti ini, Hana." William menepuk jidatnya.


Hana tertawa kecil. "Tak masalah. Untuk mendesainnya biar aku saja yang mengerjakannya. Kalian hanya perlu membantuku mempersiapkan bahan-bahan dekorasinya saja." Terang Hana.


"Maksudmu bagian meniup balon?" Tanya Gerry dengan menaikkan sebelah alis tebalnya. Menatap pada bungkusan balon dan pita-pita yang baru saja mereka bawa.


Hana mengangguk membenarkan.


William dan Gerry saling pandang lalu menghembusakan nafas di udara.


"Sebenarnya aku bisa saja menolak permintaanmu dan menyuruh anak buahku yang mengerjakannya. Namun karena kau adalah wanita yang dicintai sahabatku dan sahabat baik istriku, aku terpaksa mau mengikuti kemauanmu walau aku tak ingin." Seloroh William.


Gerry menepuk pundak William keras hingga membuat pria itu meringis. "Jangan sembarangan bicara." Cetus Gerry.


William tertawa. "Aku hanya bercanda." Balasnya. Hampir saja ia melupakan jika Hana adalah wanita sensitif saat ini.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita bekerja." Ajak Hana.


"Jangan terlalu lelah. Ingat kondisimu saat ini." Pesan Gerry.


Hana mengangguk seraya tersenyum. Setelahnya ia pun mengeluarkan ponsel dari tas sandangnya untuk melihat desaian yang akan mereka buat hari ini.


*


Ke esokan harinya.


"Ada apa kalian datang ke sini?" Dika dibuat sedikit terkejut melihat kedatangan kedua sahabatnya pagi itu yang datang ke perusahaannya tanpa memberitahunya lebih dulu.


"Kami datang untuk membawamu bertemu dengan seseorang dari masa lalumu." Ucap Gerry dengan wajah serius.


"Seseorang dari masa lalu apa yang kau maksud?" Tanya Dika tidak mengerti.


"Seseorang dari masa lalumu yang ingin meminta pertanggung jawabanmu." Tambah William.


"Kalian ini bicara apa? Jangan sembarangan berbicara!" Cetus Dika.


"Lebih baik sekarang kau ikut dengan kami dan temukan jawaban sendiri. Dan yang terpenting kau harus bertanggung jawban!" Ucap Gerry tanpa menyurutkan wajah seriusnya.


"Aku tidak mau. Kau tidak lihat aku sedang sibuk saat ini!" Tolak Dika.


"Hei apa yang kau lakukan!" Dika hendak menghempaskan tangan Gerry namun tenaganya kalah kuat dengan Gerry yang memegang tangannya cukup kuat.


"Ayo bawa dia!" Titah Gerry pada William.


William mengangguk lalu memegang sebelah tangan Dika.


"Gerry... William... jangan membuatku marah!" Ucap Dika dengan suara tertahan.


"Jika kau tidak ingin marah maka ikut dengan kami baik-baik. Karena kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu!" Ucap Gerry.


"Lepaskan tanganku! Aku bisa berjalan sendiri!" Cetus Dika. Ia semakin dibuat tak habis pikir dengan tingkah kedua sahabatnya saat ini.


Gerry dan William menurutinya namun tak sedikit pun membiarkan Dika lepas dari jangkauannya.


*


"Kenapa kalian membawaku ke sini?" Tanya Dika saat mereka baru saja keluar dari dalam lift menuju sebuah kamar hotel yang terletak di ujung ruangan.


"Karena wanita masa lalumu ada di dalam sana." Balas William.


Dika semakin dibuat geram dengan ucapan kedua sahabatnya yang tidak masuk akal. Wanita masa lalu siapa yang kedua sahabatnya itu maksud? Jelas saja ia tidak memiliki wanita masa lalu selain Hana yang pernah singgah di hatinya.


"Masuklah dan selesaikan permasalahan kalian saat ini." Ucap Gerry seraya membuka pintu kamar hotel.


***


Teman-teman yang tidak sabar silahkan diskip saja ya☺️


***


Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗


Like


Vote


Komen


Hadiah


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui jadwal update.