
"Mungkin saja jika kita kembali ke kota saat ini juga." Balas Hana dengan tersenyum merekah.
"Apa? Kau jangan bercanda, Sayang." Dika menggeleng tak percaya dengan permintaan Hana.
"Aku tidak bercanda. Saat ini aku benar-benar ingin memakan sosis bakar buatan Kyara." Ucap Hana dengan wajah yang sudah berubah sendu.
"Tapi..." Dika menghentikan ucapannya saat Hana menatapnya dengan sendu.
"Kau tidak ingin mengabulkan permintaan kedua anakmu?" Tanya Hana lirih.
Dika menghela nafas panjang. "Tapi kau belum pulih sepenuhnya, Sayang. Kondisi kandunganmu masih lemah." Tutur Dika.
Hana menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa dan saat ini tubuhku sudah sangat kuat untuk bepergian." Ucapnya meyakinkan.
Dika kembali menghela nafas lalu memijit kepalanya yang terasa pusing. Bukannya tidak ingin mengabulkan permintaan Hana. Namun saat ini Hana masih dalam masa pemulihan dan Dika takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada istri dan anak-anaknya. Namun melihat wajah sendu Hana membuatnya tak tega untuk menolaknya. "Baiklah. Kita akan pulang hari ini juga." Putusnya pada akhirnya.
"Kau serius?" Hana mengecup sebelah pipi Dika.
"Ya. Aku serius." Balas Dika yang tanpa sadar tersenyum karena mendapatkan ciuman dari Hana.
"Terimakasih, Sayang." Ucap Hana lalu memeluk erat tubuh Dika.
*
Setelah menyelesaikan makan malam mereka, Gerry dan Kyara yang baru saja mendaratkan bokong mereka di sofa ruangan keluarga dibuat terkejut dengan kedatangan Hana dan Dika yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Dika... Hana?" Gerry pun bangkit dari duduknya saat Dika dan Hana berjalan mendekat ke arah mereka.
"Hai Gerry..." balas Hana dengan senyum merekah. Sedangkan Dika hanya diam tanpa ekspresi seperti biasanya.
"Hana... kau sudah keluar dari rumah sakit?" Bukannya memeprtanyakan alasan Hana datang ke rumahnya, Kyara justru menanyakan hal yang lainnya.
Hana mengangguk. "Bukankah aku sudah mengirimkanmu pesan jika aku sudah keluar dari rumah sakit?" Ucap Hana.
"Agh syukurlah..." Kyara memeluk tubuh Hana barang sejenak. "Sepertinya aku belum membaca pesan yang kau kirimkan. Karena beberapa hari belakangan ini Rachel selalu rewel jika tidak berada dalam gendonganku." Balas Kyara.
"Ohh begitu..." ucap Hana seraya tersenyum.
"Jadi ada angin apa yang membawa kau dan Hana datang kemari?" Tanya Gerry tanpa basa-basi.
"Hana menginginkan sosis bakar buatan Kyara." Balas Dika apa adanya.
"Apa? Kau menginginkan sosis bakar buatanku?" Tanya Kyara menatap pada Hana.
Hana mengangguk membenarkan. "Aku sangat menginginkannya. Bisakah kau membuatkannya untukku malam ini, Kya?" Tanya Hana penuh harap.
Kyara melebarkan senyumannya. "Tentu saja. Apa saat ini kau sedang ngidam, Hana?" Tebak Kyara.
Hana mengangguk. "Sepertinya begitu. Bayangan sosis bakar buatanmu beberapa bulan yang lalu selalu menari di pemikiranku sejak tadi siang."
"Jangan bilang jika kalian baru saja dari rumah Tante Rita dan langsung datang ke sini?" Pungkas Gerry.
"Tentu saja. Kau pikir aku tega menunda lebih lama ngidam istriku dengan pulang lebih dulu ke apartemen." Cetus Dika.
Gerry mendelik. "Kenapa kau tidak santai begitu? Aku kan hanya bertanya."
Dika pun hanya diam tanpa berniat membalas ucapan Gerry. Pandangannya kini beralih menatap Kyara yang juga sedang menatapnya dengan tersenyum lucu.
"Kyara, maaf telah mengganggu waktumu. Tapi aku mohon kabulkan ngidam istriku saat ini." Pinta Dika.
***
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.