Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Dia masih single


Hana menarik koper besar di tangannya masuk ke dalam apartemen yang baru dibelinya satu bulan yang lalu. Bukan apartemen mewah seperti apartemen Dika yang besar dan mewah. Aparteman Hana lebih terkesan sederhana sesuai dengan budget yang ia keluarkan.


"Apartemenmu terlihat cukup nyaman untuk ditempati, Hana." Ucap Winda sambil menatap ke sekitar ruangan apartemen Hana.


Hana tersenyum. Kakinya terus melangkah menarik kopernya masuk ke dalam kamar yang sudah ia pilih menjadi kamarnya. "Kelihatannya begitu. Semoga saja aku nyaman tinggal di sini." Balas Hana kemudian. Menaruh kopernya ke sudut ruangan.


"Apa kau yakin tinggal di sini seorang diri? Kau kan biasanya selalu bersama Tante Rita di rumah." Tanya Winda.


Hana melepas ikat rambut di kepalanya lalu mengibaskan rambutnya yang terasa basah. "Tentu saja aku yakin. Lagi pula dulu aku sering ditinggal sendiri di rumah lamaku." Balas Hana tanpa beban.


Winda menutup mulutnya. Ia hampir saja melupakan kejadian tak mengenakkan di hidup Hana beberapa tahun lalu. "Maaf, aku tidak bermaksud." Balas Winda tak enak hati.


"Tak masalah." Hana menepuk pundak Winda lalu berjalan ke arah jendela. Membuka gorden jendelanya hingga ia dapat melihat penampakan gedung-gedung tinggi di kotanya.


"Wah, pemandangan dari sini cukup indah!" Puji Winda sambil menatap kesekitarnya yang dapat ia jangkau.


"Ya, aku memilih apartemen ini karena pemandangannya cukup indah jika dipandangan di siang dan malam hari." Terang Hana.


"Oh..." Winda mengangguk paham.


"Ayo keluar, aku akan membuatkan minuman untukmu." Ajak Hana yang diangguki Winda.


"Jam berapa Tante Rita pulang?" Tanya Winda setelah mendaratkan bokongnya di atas sofa minimalis yang ada di ruang tamu.


"Sepertinya malam. Mama masih ada pertemuan dengan teman-temannya di perusahaan." Balas Hana.


Winda mengangguk paham lalu mengeluarkan ponsel yang sejak tadi masih di dalam tas selempangnya.


"Hana, apa kau tahu jika Dokter Dika masih single?" Tanya Winda saat matanya tertuju pada akun media sosial milik Dika


"Hana..." Winda menepuk pundak Hana. "Kau ini malah melamun." Sungutnya.


"Eh iya." Hana tersenyum kaku. "Aku tidak tahu, lagi pula itu bukan urusanku." Balas Hana.


"Hana... Hana... di saat dokter di rumah sakit selalu membahas tentang Dokter Dika akhir-akhir ini, kau justru terlihat tidak peduli." Cibir Winda.


Hana mengangkat kedua bahunya. "Karena aku tidak tertarik membahasnya." Balas Hana apa adanya. Lagi pula membahasnya akan membuat hatiku semakin terluka. Lanjutnya dalam hati.


"Agh sudahlah. Lebih baik kau membuatkanku minum sesuai perkataanmu tadi." Ucap Winda.


"Baiklah. Kau ingin minum apa?" Hana bangkit dari duduknya.


"Apa saja yang penting dapat melegakan tenggorokanku." Balas Winda yang diangguki oleh Hana.


*


Hana nampak bersenandung mengikuti alunan lagi yang terdengar dari headset yang terpasang di telinganya. Sore itu ia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya di taman sambil menikmati cemilan yang baru saja dibelinya di kantin.


"Rasanya sungguh sepi jika Winda tidak bekerja." Keluhnya saat lagu mulai berganti. Hana terus berjalan mencari kursi yang masih kosong. Tiba-tiba pandangan Hana tertuju pada wanita yang nampak sedang menangis dengan tubuh bergetar di sudut taman.


"Sepertinya aku mengenalnya." Gumam Hana mendekat pada wanita itu sambil melepas headset yang masih terpasang di telinganya.


***


Lanjut? Komen, vote dan giftnya dulu yuk🌹