
"Apa kau tidak mengingat ucapan Dokter kandungan jika kondisi kandunganmu masih lemah? Dan apa kau ingin membahayakan mereka di dalam sana dengan terus bekerja?" Tanya Dika.
Hana terdiam. Kepalanya pun tertunduk dengan jari bertaut. Kondisi kandungannya memang terbilang lemah hingga dokter kandungan menyarankan agar ia bisa istirahat total sampai usia kandungannya sudah memasuki bulan ke empat.
"Aku tidak akan melarangmu bekerja jika keadaanya tidak seperti ini. Kondisimu yang sedang hamil anak kembar dan kandungan yang lemah membuatku takut jika terjadi apa-apa denganmu nantinya." Lanjut Dika.
"Aku mengerti. Tapi bisakah aku tetap bekerja besok hari saja? Aku sangat ingin bertemu dengan Fitri. Sejak kemarin dia selalu menanyakan keadaanku namun aku selalu lupa membalas pesannya karena terlalu fokus denganmu." Pinta Hana.
"Baiklah. Tapi hanya sebentar saja." Putus Dika tak ingin Hana bersedih.
"Terimakasih, Dika..." Hana meraih sebelah tangan Dika lalu mengusapnya.
Dika pun tersenyum sebagai jawaban membalas ucapan Hana.
*
Pagi harinya.
Hana terlihat terbangun lebih dulu dibandingkan Dika yang masih nyaman terlelap dalam tidurnya tanpa menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Ditatapnya jam gantung di dinding yang kini menunjukkan pukul lima pagi.
Hana terdiam beberapa saat seraya berpikir ada yang kurang dari rutinitas paginya. Senyuman lebar terbit di wajah cantiknya saat menyadari apa yang kurang dari rutinitas paginya. "Setelah bertemu dengan Dika, rasa mualku di pagi hari perlahan mulai berkurang." Gumamnya sambil mengusap-usap perutnya yang masih rata.
Hana menatap sejenak wajah Dika yang terlihat begitu damai. Diusapnya perlahan tangan Dika yang memeluk erat pinggangnya lalu menyingkirkannya dengan hati-hati. Setelahnya Hana pun turun dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membasuh wajahnya sebelum turun ke bawah untuk membuat sarapan pagi.
*
Setengah jam setelah kepergian Hana dari dalam kamar, Dika terlihat mengerjapkan kedua matanya. Sebelah tangannya meraba-raba sisi ranjang dimana Hana tertidur namun tidak ada apa pun yang ia rasakan di sana.
"Sayang..." suara Dika yang terdengar cemas memanggil namanya membuat Hana yang sedang fokus mengaduk makanan di dalam kuali mengalihkan pandangannya ke sumber suara.
"Dika? Ada apa?" Tanya Hana dengan kening mengkerut.
Bukannya menjawab, Dika justru memeluk pinggang Hana dengan posesif. "Apa yang kau lakukan di sini, hem?" Tanya Dika. Suaranya masih terdengar cemas.
"Tentu saja aku memasak. Tidak mungkin aku sedang mandi di sini." Seloroh Hana.
Dika semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Hana. "Siapa yang memperbolehkanmu memasak? Bukankah sudah aku katakan untuk banyak istirahat dan jangan melakukan pekerjaan berat." Ucap Dika.
Hana menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. "Aku hanya memasak Dika. Pekerjaan ini tidak terlalu berat. Dan aku tidak merasa lelah melakukannya." Balas Hana sambil mengusap tangan Dika dengan sebelah tangannya. "Lagi pula aku ingin melakukan tanggung jawabku sebagai istri untukmu." Lanjut Hana kemudian.
***
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.