Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Selamat cintaku (Dika)


"Kau menduakanku?" Wajah Dika semakin memerah.


"Ya. Aku telah menduakanmu, Dika. Kau pikir aku mau berlama-lama dengan pria sepertimu yang berwajah dingin tanpa ekspresi itu? Tentu saja tidak!"


"Kau!" Dika menahan pergelangan Hana saat Hana hendak menjauhkan tubuhnya.


"Lepaskan aku!" Hana menyentak kasar tangn Dika hingga terlepas begitu saja. "Kau dengarkan aku baik-baik, Dika. Aku katakan kepadamu jika aku lebih memilih kekasih baruku dari pada dirimu. Dan mulai saat ini kita PUTUS!" Hana pun keluar begitu saja dari dalam mobil lalu menutup kasar pintu mobil.


"Hana...!!" Dika berteriak memanggil nama Hana namun Hana tak menghiraukannya. "Agh... sial!" Dika memukul kuat kemudi mobilnya hingga membuat buku-buku jarinya memerah. "Jadi ini alasannu menjauhiku selama ini Hana? Ternyata kau sudah memiliki pria baru di hidupmu?" Dika menjatuhkan wajahnya di kemudi. Hatinya benar-benar hancur saat mengetahui kebenaran jika cinta pertamanya telah menduakannya denga pria baru yang lebih bisa membuatnya bahagia.


*


Suara tepuk tangan yang begitu meriah menggema hingga ke sudut ruangan wisuda pagi itu. Semua mata kini tertuju pada sosok pria yang meraih penghargaan sebagai wisudawan terbaik.


Dika nampak berdiri tegap dan gagah di atas podium sambil memegang penghargaan di tangannya. Ucapan kata terimakasih pun Dika berikan pada kedua orang tuanya yang hadir di dalam ruangan wisuda. Tak lupa Dika mengucapkan terimakasih pada sosok sahabat baiknya dan teman-temannya yang selalu mendukungnya. Namun sayang, Dika tak berhasil mewujudkan niatnya untuk menyebut nama wanita yang sudah menemani hari-harinya selama tiga tahun belakangan ini karena akhirnya niatnya itu melebur begitu saja dengan harapannya dan kekecewaannya.


Dika membungkukkan tubuhnya. Berjalan turun dari podium dengan diiringi suara tepuk tangan yang kembali meriah. Di luar gedung, seorang wanita berpenampilan hitam dengan kaca mata hitam dan masker hitam menutupi wajahnya tengah menatap layar monitor dengan isak tangis di bibirnya.


"Dika.... Selamat cintaku... kekasih hatiku yang tidak akan pernah berubah. Pada akhirnya kau berhasil menjadi wisudawan terbaik. Agh, kau memang pantas mendapatkannya. Hiks..." Wanita itu kembali terisak.


"Hana... ayo kita pergi. Sebentar lagi mereka akan keluar dari dalam gedung." Genggaman lembut tangan Amel membuat Hana membalikkan tubuhnya. Hana menatap Amel yang kini tengah berkaca-kaca menatap dirinya.


Tangan Amel pun terulur mengelus punggung Hana yang bergetar. "Kau masih bisa menghentikan sandiwara ini jika kau mau, Hana. Jangan menyiksa dirimu seperti ini." Tutur Amel dengan lembut.


Hana menggelengkan kepalanya lalu melerai pelukannya. "Ayo kita pergi." Menarik tangan Amel tanpa membalas ucapan Amel. Langkah Hana dan Amel pun semakin lebar saat melihat para wisudawan mulai keluar dari dalam pintu ruangan.


"Dika, kau memperhatikan apa?" Tanya Mama Puspa pada putranya.


Dika mengalihkan pandangannya dari dua sosok berpakaian hitam yang sedang berjalan menjauhinya.


"Aku tidak memperhatikan apa-apa." Balas Dika dengan datar.


"Apa kau sedang menunggu seseorang untuk datang?" Tebak Mama Puspa.


Dika menggeleng. "Tidak ada yang aku tunggu. Ayo kita pergi." Ajak Dika.


Mama Pusta menatap putranya dengan tatapan tak percaya. pandangannya pun beralih pada suaminya yang kini tengah mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu apa-apa.


***


Ayuk berikan dukungan untuk karya Shy ya. Dengan cara vote, like dan komennya. Semakin banyak dukungannya, Shy semakin semangat menulisnya ini hehe☺️