Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Kenangan dari Dika


"Gerry? Sejak kapan kau berada di sini?" Tanya Dika.


"Sejak kau mengantarkan wanita itu pulang." Balas Gerry dengan senyum menggoda.


Dika tak memperdulikan godaan Gerry. Melangkah ke arah sofa lalu menjatuhkan bokongnya di sofa berhadapan dengan Gerry.


"Ada urusan apa kau datang ke apartemenku?" Tanya Dika merasa bingung dengan kedatangan Gerry secara tiba-tiba.


Gerry menjatuhkan punggungnya di sandaran sofa. "Tidak ada alasan. Aku hanya ingin mengejutkanmu dengan kedatanganku pagi ini. Namun kini justru aku yang dibuat terkejut saat melihat kau keluar dari apartemenmu dengan seorang wanita." Sindir Gerry.


"Dia temanku." Ucap Dika tak ingin Gerry salah paham.


Gerry menarik sebelah bibirnya ke kuping. "Teman seperti apa yang sampai menginap di apartemenmu?" Pertanyaan Gerry mulai terdengar menyebalkan di telinga Dika.


"Aku hanya menolongnya karena kehujanan di jalan tadi malam." Jelas Dika.


"Apakah itu benar? Aku sangat percaya pada ucapanmu." Gerry melipat bibirnya. Menahan tawanya agar tidak keluar saat melihat wajah Dika mulai berubah.


"Jika kau datang ke sini hanya untuk bertanya yang tidak-tidak, lebih baik kau pulang saja!" Usir Dika merasa jengah dengan sikap sahabatnya.


"Kau terlalu setius, Dika. Lagi pula aku mendukungmu jika kau memiliki hubungan khusus dengan wanita itu."


"Diamlah atau aku akan merobek mulutmu!"


"Hahaha." Gerry tertawa-tawa. Rasanya sungguh menyenangkan melihat wajah kesal Dika.


Merasa semakin jengah dengan sikap sahabatnya, Dika pun bangkit dari duduknya.


"Kau ingin kemana? Aku datang ke sini untuk mengajakmu pergi bermain basket." Ucap Gerry mengungkapkan niatnya datang.


"Aku sedang tidak berselera bermain." Tolak Dika.


"Tak masalah jika kau menolak ajakanku. Namun apa jadinya ya jika Tante Dina tahu jika putranya membawa seorang wanita menginap di apartemennya." Ucap Gerry dengan nada mengancam.


Dika mendengus. "Tunggulah di sini. Aku akan mengambil baju lebih dulu." Balas Dika yang tak ingin Mamanya sampai mengetahui ia membawa seorang wanita masuk ke apartemennya. Karena itu bisa saja membuat wanita yang sangat dicintainya itu salah paham dan kecewa padanya.


*


Keesokan harinya, Hana nampak berjalan terburu-buru mengejar langkah Dika yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.


"Dika..." seru Hana saat tubuhnya sudah hampir dekat dengan Dika.


Dika menghentikan langkahnya tiba-tiba hingga Hana yang masih berjalan cepat itu menabrak punggung kokohnya.


"Aw..." Hana meringis merasakan sakit pada keningnya.


"Kau itu selalu saja ceroboh!" Ucap Dika melihat Hana yang nampak kesakitan.


"Aku tidak ceroboh. Kau saja yang berhenti tiba-tiba hingga aku menabrak tubuhmu." Balas Hana tak ingin disalahkan.


"Sekarang katakan ada apa kau mengejarku?" Tanya Dika tak ingin basa-basi.


"Aku hanya ingin memberikan ini kepadamu." Ucap Hana sambil menunjukkan sebuag paper bag di tangannya.


Kening Dika mengkerut. "Apa itu?" Tanyanya.


"Bajumu yang aku pinjam kemarin." Balas Hana.


Dika menghela nafasnya. "Simpan saja. Tidak perlu dikembalikan karena aku masih memiliki banyak baju di apartemen." Ucap Dika.


"Kau ini sungguh sombong sekali. Walau pun kau memiliki banyak baju, tapi aku sudah mencucinya untuk diberikan kembali padamu!"


"Tapi aku tidak berminat menerimanya. Simpan saja dan anggap itu sebagai kenangan untukmu." Ucap Dika. Tanpa mau mendengar penolakan Hana lagi, Dika pun segera melangkah meninggalkan Hana yang terdiam karena ucapannya.


Ke-kenangan?


***


Lanjut?