Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Aku akan melawannya


Apa? Liza dan kedua orang tuanya juga akan tinggal di sini? Tanya Hana dalam hati dengan wajah terkejut. Hana pun hanya menanggapi ucapan Liza dengan anggukan kepala.


"Tante, kalau begitu Liza pamit ke kamar sebentar untuk mengambil ponsel Liza yang ketinggalan." Ucap Liza dengan lembut pada Mama Puspa.


"Baiklah, tapi sebentar lagi kau harus segera turun karena kita akan melakukan makan malam bersama." Tutur Mama Puspa.


Liza menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia pun segera melangkah meninggalkan Hana dan Mama Puspa.


"Hana... Liza dan kedua orang tuanya akan tinggal di sini sampai rumah baru mereka selesai direnovasi." Terang Mama Puspa sambil mengelus lembut lengan Hana.


Hana menatap wajah Mama Puspa yang kini tengah tersenyum lembut padanya. "Apa rumah lama mereka sudah dijual, Ma?" Tanya Hana.


Mama Puspa mengangguk. "Ayo duduk dulu." Ajak Mama Puspa.


Hana menurutinya. Ia pun duduk di kursi yang bersebelahan dengan Mama Puspa.


"Rumah lama mereka telah dijual saat keluarga Liza memutuskan untuk pindah ke luar kota dan menjalanakn bisnis keluarga mereka di sana. Dan setelah beberapa tahun perusahaan mereka telah berkembang pesat di luar kota, keluarga Liza pun memutuskan untuk kembali ke kota ini untuk mengembangkan perusahaan cabang mereka yang ada di sini." Terang Mama Puspa panjang lebar.


"Jadi selama ini Liza bekerja di luar kota, Ma?" Tanya Hana.


Mama Puspa mengangguk sebagai jawaban. "Tapi Liza tidak bekerja sebagai Dokter melainkan sebagai direktur di perusahaan keluarganya." Terang Mama Puspa.


Kening Hana mengkerut. Kenapa profesi pekerjaan Liza saat ini sangat berbeda jauh dengan gelar yang ia dapatkan di bangku perkuliahan.


"Mama juga tidak tahu kenapa Liza memilih bekerja di perusahaan dibandingkan menjadi seorang Dokter." Lanjut Mama Puspa sambil mengangkat kedua bahunya.


Mama Puspa menganggukkan kepalanya. "Mungkin saja."


*


Malam harinya, Hana terlihat duduk termenung di balkon kamar Dika memikirkan kejadian yang ia alami hari ini. Keputusan Dika mengajaknya tinggal di rumah kedua orang tuanya justru membuat Hana terjebak tinggal bersama wanita yang sudah jelas sangat ingin merebut suaminya dari sisinya.


"Bagaimana ini, kenapa aku bisa berada di posisi rumit seperti saat ini." Gumam Hana sambil memijit pangkal hidungnya. "Walau aku menikah dengan Dika karena terpaksa, namun aku juga tidak ingin dedemit itu merebut Dika dari sisiku." Hana menghela nafasnya yang kian memberat.


"Apa kau masih ingin berada di sini?" Suara Dika yang berasal dari ambang pintu membuat Hana mengalihkan pandangannya pada Dika. "Masuklah. Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu." Ucap Dika dengan wajah dinginnya.


"A-aku..." Hana mengetuk layar ponselnya untuk melihat sudah jam berapa saat ini. "Emh, aku akan masuk." Putus Hana lalu bangkit dari duduknya.


Dika mengangguk lalu membalikkan tubuhnya berjalan masuk ke dalam rumah.


Dika... kenapa sikapmu sering berubah-ubah akhir-akhir ini? Kau terkadang dingin dan terkadang menunjukkan sisi perhatianmu padaku. Hana dibuat bingung dengan perubahan sikap suaminya.


"Aku harap kau tidak akan melakukan keributan dengan Liza di rumah ini saat aku tidak ada." Ucap Dika saat Hana sudah duduk di sisi ranjang.


"Aku tidak berjanji. Jika dia mengajak keributan aku tidak akan segan melawannya." Ucap Hana dengan tegas. Bukan tanpa alasan Hana berucap seperti itu, mengingat sikap Liza yang sering membuatnya naik darah saat kuliah dulu, sangat tidak mungkin Hana tidak akan melawannya.


***


Konfliknya enggak berat ya gaes ya. Bawa santai saja🫠 jika teman-teman tidak sabaran silahkan diskip saja ya☺️