
Di perusahaan Fernandez, Dika terlihat tengah sibuk mempelajari beberapa dokumen di atas meja kerjanya. Satu persatu halaman Dika baca agar tidak ada satu pun data yang terlewatkan. Walau tidak menempuh pendidikan di bidang bisnis dan managemen, namun Dika terlihat cukup lihai mempelajari hal apa saja yang berkaitan dengan perusahaannya. Wajar saja, sejak menempuh sekolah menengah atas, Dika sudah mulai belajar bisnis dengan membatu Papa Indra di perusahaannya dan juga sudah melakukan kerja sama dengan Gerry di bidang bisnis.
"Kau tidak lupa bukan dengan janjimu jika kau sudah menikah?" Ucap Papa Indra membuat perhatian Dika terlalihkan dari setumpuk dokumen di depanya pada Papa Indra yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
Dika menganggukkan kepalanya. "Aku tidak melupakannya, Pa." Balas Dika.
Papa Indra menepuk pundak Dika. "Bagus. Berarti mulai saat ini kau sudah harus fokus membantu Papa di perusahaan." Ucap Papa Indra.
"Aku akan melakukannya. Namun aku juga akan tetap bekerja di rumah sakit jika diperlukan."
"Ya, Papa tidak melarangmu bekerja sesuai dengan hobimu. Namun saat ini Papa hanya ingin kau mulai menggantikan Papa bekerja di perusahaan mengingat umur Papa yang tak lagi muda." Suara Papa Indra terdengar parau.
Dika dapat menangkap kesedihan di raut wajah Papa Indra. "Papa tidak perlu khawatir untuk itu. Aku akan berusaha membagi waktuku dengan baik." Jelas Dika.
Papa Indra melebarkan senyumannya. "Terimakasih, Dika. Kau memang anak Papa yang pekerja keras." Papa Indra kembali menepuk pundak Dika. "Andai saja adikmu mau turut bekerja di perusahaan, Papa pasti sangat senang." Lirih Papa Indra.
Dika terdiam. Papa Indra memang menginginkan adiknya untuk mengurus perusahaan cabang yang saat ini tengah berkembang namun adiknya menolak dengan keras dan lebih memilih bekerja sesuai hobinya.
"Sudahlah, Pa. Suatu saat nanti dia pasti akan mewujudkan keinginan Papa. Lagi pula saat ini dia baru saja menyelesaikan studinya." Ucap Dika menenangkan hati Papanya.
*
Suara decitan pintu yang terdengar cukup keras akibat didorong dari luar tak berhasil membangunkan tidur Hana. Dika menatap ke arah ranjang dimana Hana tengah tertidur dengan jas Dokter yang masih melekat di tubuhnya. Guratan lelah tercetak jelas di wajah Hana. Kening Dika mengkerut. Memikirkan hal apa yang dikerjakan istrinya itu di rumah sakit hingga tertidur seperti ini.
Dika memutuskan tatapan matanya dari Hana dan meletakkan tas kerjanya di atas meja kecil di sudut ruangan. Dika kembali menatap Hana yang masih terlelap dengan mulut sedikit terbuka sambil membuka kancing kemejanya. Kepalanya dibuat menggeleng mengingat Hana pasti sudah tertidur lebih kurang dua jam setelah ia pulang bekerja karena hari sudah malam.
Setelah menanggalkan satu persatu kancing kemejanya, Dika segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.
"Dia belum bangun juga." Lidah Dika berdecak melihat Hana yang masih nyaman dalam tidurnya sedangkan ia sudah selesai membersihkan diri di kamar mandi.
Dika memilih mendekat ke arah ranjang untuk membangunkan istrinya yang masih terlelap. Tanpa bersuara Dika mencondongkan tubuhnya lalu menepuk pelan pundak Hana untuk membangunkanya.
Tak memakan waktu lama, mata yang tertutup rapat itu pun perlahan terbuka. Hana hampir saja dibuat berteriak saat melihat wajah Dika yang begitu dekat dengan wajahnya.
***
Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya untuk lanjut ke bab berikutnya ya🌹