Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Penjebakan yang berhasil


"Papa, ayo kita pergi. Bukankah sebentar lagi Papa ada pertemuan dengan rekan bisnis Papa." Ucap Mama Puspa mengingatkan suaminya.


Papa Indra mengangguk paham. "Kita lanjutkan pembahasan ini di rumah siang nanti." Ucap Papa Indra dengan tegas.


"Papah..." Dika hendak protes namun tangan Papa Indra yang terangkat di udara menghentikan niatnya.


"William, kau pastikan Dika tidak lari dari tanggung jawab!" Ucap Papa Indra pada William yang memasang wajah serius.


"Baik Om." Balas William patuh.


Setelah kepergian kedua orang tuanya, Dika mengusap kasar wajahnya. Pandangannya pun jatuh pada Hana yang kini berada dalam pelukan Rania.


"Bagaimana bisa kau berada di kamar Hana, Dika?" Cecar William memasang wajah sangarnya.


"Aku juga tidak tahu!" Balas Dika frustasi.


"Ck. Bagaimana kau bisa tidak tahu? Kau bahkan memeluk Hana dalam tidurmu. Sungguh memalukan."


"Jaga bicaramu! Aku yakin ada orang yang menjebakku hingga bisa berada di kamar ini!" Cetus Dika sambil menatap Hana.


"Kau ingin menyalahkan siapa? Hana? Yang benar saja. Kau yang salah masuk kamar dan kau pula yang ingin menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kau perbuat. Yang harus kau salahkan itu adalah dirimu sendiri!"


"William... aku sungguh tidak tahu bagaimana bisa Dika masuk ke kamarku." Ucap Hana yang sudah menangis.


"Hana... tenanglah..." Rania mengelus punggung Hana yang bergetar. "Apa kau merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhmu? Aku takut Dika melakukan hal yang—" ucapan Rania melayang begitu saja saat melihat Dika tengah menatapnya dengan tajam.


"Bagaimana bisa kedua orang tuaku bisa berada di sini?" Dika menatap William dengan tatapan curiga.


"Apa kau tidak dengar jika kedua orang tuamu mau melakukan pertemuan di hotel ini? Dan kebetulan saat di lobby tadi mereka mendengar percakapan kami dengan seorang pelayan yang mengatakan jika kau masuk ke kamar Hana tadi malam." Terang William.


"Rania... bagaimana ini? Aku sungguh takut. Aku berani bersumpah jika bukan aku yang menjebak Dika." Ucap Hana.


"Hana tenanglah... aku percaya padamu..." Rania membaw Hana ke dalam pelukannya walau terhalang perut besarnya.


*


"Bagaimana? Apa berhasil?" Tanya Gerry sekedar basa-basi pada William yang baru saja masuk ke dalam mobil.


William menyunggingkan senyuman miring. "Tentu saja. Dan aku pastikan Dika dan Hana akan menikah dalam minggu ini." Balas William.


"Good. Tidak sia-sia pengorbananku berbohong pada Kyara tadi malam." Ucap Gerry.


"Memangnya kau berbohong apa pada Kyara?" Tanya William dengan kening mengkerut.


"Yang pasti aku tidak mengatakan jika kita mau menjebak Dika dan Hana. Kau tau sendiri bukan istriku seperti apa? Dia pasti akan menggagalkan rencana kita jika dia tahu niat kita."


"Tentu saja. Kyara pasti tidak tega melihat Hana yang akan bersedih setelah apa yang menimpanya hari ini." Timpal William.


Percakapan William dan Gerry pun terhenti saat melihat Dika masuk ke dalam mobilnya dengan wajah frustasi.


"Kau lihat wajahnya? Dia pasti sangat bingung karena bisa masuk ke dalam kamar Hana. Untung saja aku sudah meminta Jimmy untuk menghapus rekaman CCTV agar Dika tidak dapat mencari bukti kejadian yang sebenarnya." Ucap Gerry lalu tertawa.


"Good. Aku suka caramu." Timpal William lalu ikut tertawa.


***


Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya untuk lanjut ke bab berikutnya ya🌹