Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Baik-baik saja


"Sayang..." suara Dika terdengar begitu cemas saat sudah berada dekat Hana yang kini tengah terbaring di ranjang sambil memejamkan mata.


Mendengar suara pria yang begitu dicintainya membuat Hana membuka kedua kelopak matanya. "Dika..." lirih Hana seraya tersenyum tipis.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Dika dengan suara yang masih cemas.


Hana mengangguk. "Aku sudah lebih baik." Balasnya.


Hembusan nafas Dika terdengar lega. "Katakan bagaimana ini semua bisa terjadi?" Tanya Dika dengan tatapan yang sudah berubah nyalang.


"Hanya sebuah masalah kecil dan semua ini terjadi karena kecerobohanku." Balas Hana tak ingin mengungkapkan kejadian yang sebenarnya.


Dika menggelengkan kepalanya. "Kau tahu kau tidak pandai berbohong lagi jika itu denganku, Hana." Tekan Dika. Ia ingin Hana mengungkapkan kejadian yang sebenarnya dari mulutnya sendiri.


Hana terdiam. Rasanya percuma saja jika ia menutupi kejadian yang sebenarnya karena cepat atau lambat Dika pasti akan mengetahuinya.


"Baiklah. Aku akan menceritakannya tapi berjanjilah agar tidak bertindak gegabah." Pinta Hana.


Dika terdiam sesaat lalu mengangguk menyetujui. Ia pun semakin mendekat pada Hana lalu mengusap perut Hana dengan sayang.


Perasaan Hana pun mulai terasa damai dengan elusan tangan Dika di perutnya. Setelah menghela nafas sesaat, Hana pun mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi di cafe saat ia berada di kamar mandi. Tidak ada satu pun cerita yang ia tambah atau pun ia kurangi. Hana berkata apa adanya atas apa yang ia lihat dan rasakan tadi.


Mendengar ungkapan dari istrinya sontak membuat kedua tangan Dika terkepal. Perasaan marah dan bersalah bersatu menjadi satu menghimpit dadanya karena kejadian yang menimpa istrinya adalah akibat kelalaiannya yang terlalu lama mengungkapkan jati diri Hana yang sebenarnya.


"Aku mohon agar kau tidak melakukan apa pun pada mereka." Pinta Hana yang cukup merasa takut melihat perubahan ekspresi wajah Dika.


Dika tak memperdulikan ucapan Hana dan lebih memilih menggenggam erat sebelah tangan Hana yang tidak tertancap jarum infus. "Maafkan aku, Sayang... maaf telah membuatmu dan anak kita terluka." Sesal Dika. Wajah tegasnya berubah layu menatap pada istrinya.


Hana tersenyum mendengarnya. "Kau tidak salah. Aku lah yang bersalah karena tidak bisa menjaga diriku dan anak kita dengan baik." Balas Hana.


Dika menggelengkan kepalanya. "Tidak ada satu pun kesalahan yang terjadi karena dirimu. Semua ini murni kelalaianku dan kesalahan mereka." Tekan Dika.


Ceklek


Suara pintu yang terbuka dari luar mengalihkan pandangan Hana dan Dika ke sumber suara.


"Mama..." ucap Hana dan Dika berbarengan menatap pada Mama Puspa.


"Hana..." wajah Mama Puspa terlihat begitu cemas menatap pada Hana. Mama Puspa pun berjalan tergesa-gesa ke arah Hana. "Sayang... bagaimana keadaanmu saat ini? Dan apa yang terjadi? Bagaimana kau bisa celaka seperti ini?" tanya Mama Puspa sambil menatap Hana dengan cemas.


"Hana sudah baik-baik saja, Ma. Tadi ada kejadian kecil yang membuat Hana terjatuh di kamar mandi." Balas Hana.


"Terjatuh di kamar mandi? Katakan dengan jelas ada apa ini?" Wajah Mama Puspa semakin cemas.


"Mama tenanglah..." Dika pun mulai menceritakan apa yang diceritakan Hana hingga membuat raut wajah cemas di wajah Mama Puspa berubah berang.


***


Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗


Like


Vote


Komen


Hadiah


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.