Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Tetap dia pemenangnya


"Tidak mungkin aku kembali pada wanita pengkhianat sepertinya." Tangan Dika terkepal erat saat mengingat ucapan Gerry beberapa jam yang lalu padanya.


Bayangan masa lalunya dengan Hana mulai berputar di benaknya. Jalinan kasih yang telah ia bina bersama Hana harus pupus begitu saja saat Hana mengatakan jika dirinya telah menduakannya.


Wajah Dika nampak semakin dingin membayangkan saat Hana dengan berani memegang lengan pria lain di depan matanya. Kisah percintaannya yang berakhir tidak mengenakkan itu membuat Dika tidak lagi percaya akan yang namanya cinta di dalam hidupnya.


Hana, nama wanita itu sampai saat ini masih tersimpan di dalam hati dan pemikirannya. Semakin kuat Dika mencoba melupakan cinta pertamanya itu, maka semakin kuat pula bayangan Hana mengisi penuh pemikirannya.


"Agh, sial!" Dika memukul tembok tak berdosa di depannya. Perasaan benci dan cinta kini bersarang di hatinya pada Hana.


Dika selalu berusaha menyangkal jika ia masih mencintai Hana sampai saat ini, namun hatinya tidak pernah berbohong jika Hana masih tetap menjadi wanita satu-satunya yang berhasil merobohkan tembok pertananannya hingga sampai saat ini.


Semalaman Dika tidak bisa tidur membayangkan jalinan kasihnya dengan Hana yang dulu berjalan selama tiga tahun lamanya. Hingga mentari pagi mulai menyambut, Dika pun bangkit dari pembaringannya. Ia memutuskan untuk tidak masuk bekerja pagi itu dan memilih mengistirahatkan hati dan pemikirannya di apartemennya.


"Kau ingin pulang?" Tanya William saat melihat Dika menyambar kunci mobilnya di atas meja.


Dika mengangguk. "Aku tidak bekerja pagi ini, nanti siang aku akan kembali melihat keadaan Kyara." Balas Dika.


Lidah William berdecak. "Sebagai pemilik rumah sakit ini kau tentu memiliki hak kapan kau akan bekerja atau tidak." Cibir William.


Dika menatap William tajam. William pun menanggapi tatapan Dika dengan seringaian tipis di bibirnya.


Dika mengalihkan wajahnya lalu kembali menatap William. "Dimana Gerry? Apa dia sudah bangun?" Tanya Dika.


"Gerry ada di ruangan Kyara. Apa kau ingin berpamitan padanya?" Tanya William.


Dika menggeleng. "Katakan saja padanya jika aku pulang ke apartemen dan akan kembali siang nanti."


"Baiklah. Apa kau sudah menandatangani surat kerjasama lanjutan perusahaan kita?" Tanya William memastikan kembali rencana lanjutan kerja sama perusahaan mereka bertiga.


"Bagus, dalam minggu ini proyek itu sudah bisa dijalankan."


Dika mengangguk paham.


"Apa kau tidak berminat untuk memimpin perusahaan saja?" Tanya William sambil memperhatikan Dika yang kini sedang memakai jaketnya.


"Saat ini aku tidak berminat." Balas Dika dengan singkat.


"Baiklah, aku paham. Kau pasti lebih berminat dekat dengan Hana bukan?" Ledek William.


"Diam atau aku akan melemparmu dari gedung ini!" Ancam Dika.


William tertawa jenaka. "Kau terlalu serius. Aku kan hanya bercanda." William pun segera berlalu dari hadapan Dika sebelum mendapatkan amukan dari Dika karena telah membahas wanita masa lalunya.


Dika kembali melanjutkan niatnya untuk pulang ke apartemennya. Saat sudah berada di parkiran, langkah Dika terhenti saat melihat Hana keluar dari dalam mobilnya.


Hana yang tidak menyadari keberadaan Dika di dekatnya hanya fokus pada ponsel di tangannya sambil berjalan mendekat ke arah Dika.


Bruk


"Aw..." Hana mengelus keningnya yang terasa sakit sebab menabrak tubuh Dika.


"Dasar wanita ceroboh!" Umpat Dika menatap tajam pada Hana yang kini tengah mengambil ponselnya yang terjatuh sambil mengelus keningnya.


***


Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya untuk lanjut ke bab berikutnya ya🌹