Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Siapa yang menghubunginya


Hana tertegun. Tatapan menurun melihat tangan Rania yang kini tengah mengusap-usap perutnya. "Semoga saja." Balas Hana dengan tersenyum kaku.


Rania segera menjauhkan tangannya saat merasa Hana tak nyaman dengan perbuatannya. "Apa kau tau Hana jika bayiku ini akan aku jodohkan dengan Baby Rey." Ucap Rania mengalihkan pembicaraan mereka.


"Oh ya?" Wajah Hana terkejut. Sedetik kemudian ia tertawa kecil menganggap apa yang dikatakan Rania adalah hal yang cukup lucu.


"Rania... bayi kita baru saja lahir tapi kau sudah langsung berniat menjodohkannya." Ucap William tak habis pikir.


"Kau ini bagaimana? Bukankah kemarin kau juga setuju menjodohkannya dengan Baby Rey saat mengetahui bayi kita berjenis kelamin perempuan." Kesal Rania.


William menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Benar, tapi aku pikir kau hanya bercanda mengatakannya." William tersenyum kaku melihat wajah istrinya berubah sangar.


"Kau ini..." Rania menggeram melihat sikap suaminya.


Hana tertawa kecil. "Kalian ini sungguh lucu sekali." Ucapnya tanpa sadar.


Rania dan William sontak mengalihkan pandangan pada Hana yang kini tengah menatap wajah bayi mereka.


"Hana, aku lihat kau sudah sangat cocok memiliki seorang bayi." Ucap William.


Hana mengangkat kepalanya. Ia hanya membalas ucapan William dengan tersenyum tipis.


"Semoga saja sebentar lagi Hana bisa menyusul untuk memiliki bayi, tapi jika Dika cukup mampu untuk membuatnya." Timpal Gerry tiba-tiba.


William sontak tertawa. "Kau benar, aku masih meragukan jika Dika mampu melakukannya." Kelakar William.


Merasa namanya disebut, Dika menatap William dan Gerry dengan tajam.


"Gerry... hentikan tawamu. Kau bisa membangunkan bayi Rania." Kyara menepuk lengan suaminya.


Gerry menyurutkan tawanya lalu mengangguk paham. Pandangan Gerry kembali tertuju pada Dika. Melihat wajah Dika yang kini tengah menahan kekesalannya kerena ucapannya entah mengapa membuat Gerry ingin sekali kembali tertawa.


*


Dari atas ranjang, Dika menatap Hana yang kini duduk di sofa nampak sibuk dengan ponsel di tangannya. Pandangan wanita itu sejak tadi tidak lepas dari benda pipih di tangannya seolah ada hal yang membuatnya tertarik di sana.


Sesekali Dika melihat istrinya itu nampak tersenyum lalu menahan tawa setelah membaca pesan masuk ke dalam ponselnya. Seolah tak menyadari tatapan Dika, Hana terus berbalas pesan dengan seseorang di seberang sana yang sejak satu jam yang lalu terus mengirimkan pesan padanya.


"Kak Arka ini lucu sekali." Ucap Hana tanpa sadar. Hana mematikan layar ponselnya saat Arka tak lagi membalas pesan yang ia balas. Lagi pula matanya sudah mulai berat dan ia ingin segera tidur.


Hana pun bangkit dari duduknya menuju ranjang. Hana melirik sekilas pada Dika yang nampak sibuk dengan laptop di pangkuannya seolah tak memperdulikan keberadaannya. Kemudian ia meletakkan ponselnya di atas nakas lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci muka sebelum tidur.


Tring


Notifikasi pesan masuk di ponsel Hana membuat perhatian Dika teralihkan pada ponsel Hana yang ada di atas nakas.


"Siapa yang menghubunginya malam-malam begini?" Gumam Dika. Dika meletakkan laptop di pangkuannya di atas ranjang lalu merangkak ke arah nakas saat ponsel Hana berdering kembali. "Kak Arka?" Gumam Dika membaca nama pengirim pesan di ponsel istrinya. "Bukankah Arka nama pria yang tadi bersama Hana?" Gumam Dika dengan tatapan yang berubah tajam.


***


Lanjut?