Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Caranya saat cemburu


Dika tanpa sadar mencengkram erat sendok yang berada atas di piring hingga menimbulkan dentingan yang cukup kuat. Pandangannya tak lepas dari wajah istrinya yang terlihat terkejut mendapatkan perlakuan dari Arka.


"Sialan!" Umpat Dika dengan pelan.


William dan Gerry saling pandangan dan memberi kode satu sama lain.


"Sepertinya aku sudah harus kembali ke perusahaan karena masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Gerry bangkit lebih dulu dari duduknya.


"Kau benar. Aku juga harus segera kembali ke perusahaanku." William pun turut bangkit.


Melihat pergerakan kedua sahabatnya, dengan terpaksa Dika memutus tatapannya dari Hana dan Arka. "Ayo kita pergi." Ucapnya dengan datar. Dika pun berjalan lebih dulu meninggalkan William dan Gerry.


"Kau kejarlah Dika, aku akan membayar makanan kita lebih dulu." Ucap William pada Gerry.


Gerry menganggukkan kepalanya lalu berjalan dengan langkah lebar mengejar langkah Dika. "Kulkas itu pasti sedang marah besar saat ini." Gumam Gerry. Gerry sangat paham betul jika Dika tidak akan membiarkan apa yang sudah menjadi miliknya disentuh orang lainz terlebih Hana kini sudah menjadi istrinya. Walau ia menikahi Hana karena sebuah jebakan. Gerry tak dapat membayangkan apa yang akan dilakukan Dika jika ia dan William tidak berkata ingin pergi dari tempat itu saat ini.


"Dika tunggu!" Gerry menahan pergelangan tangan Dika yang hendak masuk ke dalam mobilnya.


"Ada apa?" Tanya Dika. Wajahnya terlihat sudah sangat dingin.


"Apa kau ingin kembali ke perusahaan?"


"Tidak. Aku akan pergi ke rumah sakit." Balas Dika. Dika melepaskan tangan Gerry begitu saja lalu masuk ke dalam mobilnya. Sungguh saat ini ia sedang tidak ingin banyak bicara pada siapa pun terlebih pada sahabatnya.


"Bagaimana?" nafas William terdengar naik turun saat sudah berada di belakang Gerry.


"Dia kembali ke rumah sakit." Balas Gerry.


William menghela nafas panjang. "Dika pasti cemburu buta melihat pria tadi yang bersama Hana."


*


Setelah sampai di rumah sakit, Dika terlihat melangkah menuju ruangan seseorang yang menjadi orang kepercayaannya di rumah sakit selama ia tidak ada di sana.


Brak


Suara pintu yang terdengar terbuka kasar membuat pria yang tengah fokus pada selembar surat hasil pemeriksaan menatap ke arah Dika yang tengah memasang wajah tak bersahabat.


"Dika, ada apa ini?" Pria itu bangkit dari duduknya.


"Siapa Arka?" Tanya Dika tanpa basa-basi.


"Arka?" Pria itu mengkerutkan keningnya.


Lidah Dika berdecak. "Kau tidak tuli kan, Roy!" Bentak Dika.


Pria bernama Roy itu pun nampak berpikir. "Maksudmu Dokter Arka spesialis jantung?" Tanya Roy.


Dika menganggukkan kepalanya.


"Dokter Arka adalah dokter umum di rumah sakit ini beberapa tahun yang lalu. Namun empat tahun belakangan ini ia melanjutkan pendidikan di luar negeri dan baru kembali satu minggu yang lalu." Terang Roy. "Ada apa kau menanyakannya? Bukankah aku sudah mengirimkan data-data Dokter spesialis baru yang bekerja di rumah sakit ini kepadamu beberapa hari yang lalu?" tanya Roy bingung.


Dika hanya diam. Ia membalikkan tubuhnya lalu berjalan keluar dari dalam ruangan Roy begitu saja tanpa berpamitan.


***