Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Akan membuat malu nantinya


"Hai, Hana." Liza mendekat ke arah Hana.


Hana menatap datar Liza yang kini menatapnya dengan tersenyum penuh maksud. "Ada angin apa kau sampai menyapaku seperti ini?" Hana menarik sebelah alisnya. Tatapannya masih datar walau Liza berusaha tersenyum semanis mungkin padanya saat ini.


"Tidak ada angin apa-apa. Memangnya ada yang salah jika aku menyapamu?" Wajah Liza berubah tersenyum mengejek.


Hana mendengus. "Menyingkirlah. Aku tidak membutuhkan sapaan dari wanita sepertimu." Hana pun berjalan melewati Liza begitu saja. Namun baru beberapa langkah, pergerakannya terhenti saat Liza menahan pergelangan tangannya.


"Kau tidak sopan sekali ya, Hana." Suara Liza mulai terdengar tidak ramah.


Hana menolehkan wajahnya pada Liza. "Apa maumu?" Tanya Hana tak ingin basa-basi dengan wanita ular di depannya.


"Apa mauku?" Liza menarik sebelah bibirnya ke samping. "Aku tidak menginginkan apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan selamat atas gelar sarjanamu dan juga ..." ucapan Liza terputus.


Hana menatap Liza tajam. "Tidak perlu berbasa-basi!" Cetus Hana.


"Dan juga untuk kehancuran rumah tangga kedua orang tuamu. Ups!" Liza pura-pura keceplosan. Meletakkan telapak tangannya di bibir.


Kedua bola mata Hana membola. "Apa maksudmu?" Hana menatap ke sekitarnya sejenak. Untung saja pagi itu belum banyak mahasiswa yang datang ke kampus hingga percakapan mereka tidak akan terdengar ke telinga siapa pun.


"Apa maksudku?" Liza tertawa kecil. "Aku yakin kau sangat paham apa maksudku, Hana." Tawa Liza menyurut berganti dengan senyuman mengejek.


Kedua tangan Hana terkepal. "Kau jangan sembarangan bicara!" Geram Hana.


Wajah Hana memerah. Jantungnya berdetak dengan cepat. Hana cukup terkejut karena Liza mengetahui permasalahannya saat ini.


"Apa kau ingin bertanya dari mana aku bisa tahu?" Sebalah alis Liza tertarik. "Tentu saja aku tahu karena Papamu itu menikahi tetanggaku." Jelas Liza yang membuat Hana semakin terkejut.


"Apa kau pikir selama ini aku diam untuk membebaskanmu memiliki Dika sepenuhnya?" Liza menatap tajam Hana. "Aku diam karena aku menunggu saat ini tiba. Saat dimana Papamu menikah dengan tetanggaku dan aku dapat melihat kehancuranmu."


"Kau!" Hana menggertakkan giginya yang beradu.


"Aku belum selesai bicara Hana!" Pungkas Liza. Kembali menatap ke sekitarnya yang masih menunjukkan situasi aman. "Dengan melihat kehancuranmu saat ini, aku sangat merasa senang. Karena apa? Karena aku yakin kau cukup sadar diri untuk melepaskan Dika."


"Apa maksudmu?" Suara Hana terdengar meninggi.


"Hana... Hana... aku rasa kau bukanlah wanita yang bodoh." Liza mengeluarkan ponsel di dalam tasnya. Memperlihatkan sebuah berita yang sedang membicarakan kekayaan yang dimiliki keluarga Dika. "Kau lihat ini, keluarga Dika itu adalah keluarga yang terpandang dan terhormat. Apa kau pikir keluarga Dika akan menerimamu yang berasal dari keluarga yang hancur karena sebuah perselingkuhan? Tentu saja tidak. Perselingkuhan Papamu hanya akan membuat keluarga Dika malu nantinya." Liza menjeda ucapannya. Menatap wajah Hana yang kini berubah tegang.


"Dika mungkin saja bisa menerimamu apa adanya, namun tidak dengan kelurganya. Aku rasa kau cukup sadar diri untuk meninggalkan Dika jika kau tidak ingin membuat martabat keluarga Dika jatuh karena memiliki calon menantu yang tidak sederajat dengan mereka bahkan keluarganya hancur karena sebuah perselingkuhan."


***


Lanjut? Berikan vote, gift dan komennya dulu yuk😊