
"Aku tidak menyangka jika usahaku menjauhi Dika satu bulan belakangan justru membuatnya jatuh cinta kepadaku." Hana memeluk erat gulingnya seolah-olah tengah memeluk Dika. Menyebutkan nama Dika saja sudah membuatnya merasa gemas.
Amel dan Anin saling pandang lalu menggeleng bersamaan melihat sikap Hana yang tengah berbunga-bunga untuk pertama kalinya.
"Dikaku... aku sangat ingin menggigitmu..." Hana semakin memeluk erat gulingnya.
"Bagaimana rasanya memakan ucapan sendiri, Hana?" Cibir Anin.
Hana melepaskan pelukan dari gulingnya. Menatap sebal pada Anin yang tengah tertawa mengejek kepadanya bersama Amel.
"Sungguh nikmat. Rasanya ... agh mantap." Hana kembali tersenyum saat membayangkan betapa manisnya sikap Dika kepadanya tadi siang. Rona merah pun mulai menyembul di kedua pipinya saat mengingat ciuman Dika yang terasa mematikan.
"Pasti kau sedang berpikiran jorok!" Amel melempar boneka di tangannya ke wajah Hana.
"Amel!" Pekik Hana karena wajahnya terasa sakit terkena lemparan boneka dari Amel.
"Lihatlah Hana, dia sedang berpikiran kotor!" Adu Amel pada Anin.
Anin mengangguk mengiyakan. "Kau benar. Dia pasti sedang berpikiran mesum." Balas Anin.
Lidah Hana berdecak. "Kenapa kalian selalu saja mengetahui isi pemikiranku sih!" Cetus Hana.
Amel dan Anin saling pandang lalu tertawa bersamaan diikuti oleh Hana.
"Kau itu benar-benar mesum ya, Hana!" Anin naik ke atas ranjang lalu menghimpit tubuh Hana.
Tak mau kalah, Amel pun turut naik ke atas ranjang lalu menghimpit tubuh Anin hingga membuat Hana semakin keberatan menampung berat kedua sahabatnya.
"Turunlah! Kalian ingin membuatku mati ya!" Pekik Hana dengan helaan nafas mulai memberat.
"Tidak akan!" Balas Amel dan Anin bersamaan lalu menggoyangkan tubuh mereka.
"Kalian ini benar-benar terkutuk!" Umpat Hana.
Amel dan Anin terus tertawa lalu turun dari tubuh Hana setelah cukup membuat tubuh Hana keberatan.
*
"Bagaimana? Apa kau sudah memahami isi hatimu?" Tanya Gerry. Sebelah alis tebalnya tertarik ke atas.
Dika mengangguk. "Aku sudah sadar jika aku menyayanginya dan mencintainya." Balas Dika apa adanya.
"Ck, sudah aku duga." Gerry tersenyum miring. Menatap Dika dengan senyuman yang terlihat menyebalkan di mata Dika.
"Aku cukup berterimakasih padamu untuk saranmu waktu itu." Ucap Dika.
"Jadi bagaimana? Apa kau dan dia sudah menjalin sebuah hubungan yang sebenarnya?" Tanya Gerry tanpa menjawab ucapan Dika.
Dika menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Aku sudah menyatakan cinta kepadanya."
"Ternyata kau cukup berani." Cibir Gerry.
"Aku tidak takut pada siapa pun dan apaun itu."
Sebelah sudut bibir Gerry semakin tertarik ke kuping. "Jadi bagaimana reaksinya? Dia pasti sangat terkejut mendengar ungkapan cinta darimu."
Dika tersenyum tipis saat mengingat reaksi Hana tadi siang yang sangat menggemaskan di matanya. Senyumannya sangat tipis sekali hingga Gerry tak dapat melihatnya.
"Walau pun terkejut tapi dia tetap menerima cintaku." Ucap Dika merasa bangga dengan pencapaiannya.
"Hebat sekali..." Gerry bertepuk tangan. "Jika kau lebih lama memahami isi hatimu, aku yakin wanita itu sudah menjadi milik orang lain sebentar lagi." Seloroh Gerry.
"Hentikan omong kosongmu!" Cetus Dika. Rasanya ia sungguh tak terima jika Hana bersama pria lain walau dalam mimpinya sekali pun.
"Dasar pria posesif." Cibir Gerry.
"Berhenti berbicara atau aku akan merobek mulutmu!" Ancam Dika yang sudah merasa jengah digoda.
***
Lanjut lagi? Kencengin vote, gift, like dan komennya dulu yuk untuk mendukung karya SHy🥰