
"Apa hubunganmu dan Dika baik-baik saja? Aku dengar kau dan Dika sudah tidak lagi menjalin kasih akhir-akhir ini." Tanya Liza dengan wajah pura-pura polosnya.
Hana memutar kedua bola matanya malas. Ia sudah sangat paham arti tatapan wanita yang ia juluki dedemit di depannya ini.
"Tentang hubunganku dan Dika?" Hana menarik sebelah bibirnya ke kuping.
Liza mengangguk.
"Aku lihat kau seperti sangat ingin tahu sekali tentang hubungan kami. Tapi jika kau bertanya hubunganku dan Dika apakah baik-baik saja saat ini, lebih baik kau tanyakan saja pada pria di sampingmu dari pada bertanya kepadaku." Hana berucap tenang. Namun berbeda dengan dadanya yang sedang bergemuruh. Ingin sekali ia mencakar wajah pura-pura polos Liza saat ini.
"Aku hanya ingin mendengar jawaban darimu. Lagi pula Dika sepertinya tidak berselera jika membahasmu." Liza tersenyum mengejek.
"Oh...." kepala Hana mengangguk. "Aku rasa kau cukup membuang waktuku." Hana melangkah meninggalkan Liza tanpa memperdulikan lagi jika Liza masih ingin berbicara kepadanya.
"Hana..." Liza kembali berteriak namun Hana tak merespon panggilannya.
"Dasar dedemit kegatelan!" Rutuk Amel dari kursi belakang yang mendengar dengan jelas percakapan Liza dan Hana. Amel memutar kepalanya ke belakang dimana saat ini beberapa teman wanitanya nampak sedang membicarakan hubungan Hana dan Dika. "Apa kalian tidak memiliki pekerjaan lain selain membicarakan hubungan orang lain?" Tanya Amel dengan tatapan tajamnya.
*
Kucuran air yang mengalir deras dari keran mulai menggenangi kedua telapak tangan Hana yang menengadah di bawahnya. Hana menatap kosong pada cermin di depannya tanpa sadar jika kini air yang ia tampung sudah melimpah keluar dari telapak tangannya.
"Cinta memang membodohkan!" Hana menggelengkan kepalanya. Merasa bodoh dengan dirinya sendiri yang kini kehilangan rasa semangatnya sejak melihat kedekatan Dika dan Liza beberapa minggu terakhir ini.
Baru saja pintu kamar mandi ia buka, Hana sudah dibuat terkejut melihat Amel sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Hana, apa kau oke?" Tanya Amel dengan wajah menunjukkan kekhawatiran.
Hana menggelengkan kepalanya. "Aku tidak oke." Jawabnya jujur. Lagi pula ia sudah malas membohongi sahabatnya itu yang pasti tahu bagaimana kondisi hatinya saat ini.
Amel menabrak tubuh Hana lalu memeluk Hana erat. "Wanita dedemit itu benar-benar terkutuk. Lihat saja aku akan membalas perbuatannya padamu." Ucap Amel sambil memeluk tubuh Hana erat.
Hana tertawa. "Kau tidak perlu melakukannya. Biarkan saja dia. Lagi pula sekarang aku sudah mulai baik-baik saja." Balas Hana sambil menepuk lembut punggung Amel.
"Tidak bisa. Dia itu sengaja mau mempermalukanmu, Hana." Tekan Amel.
"Kita tidak perlu melakukan apa-apa. Biarkan saja dia mau melakukan apa. Jika kau atau pun aku membalas perbuatannya, itu sama saja kita menunjukkan pada Dika jika aku masih mengharapkan Dika menjadi kekasih pura-puraku." Ucap Hana setelah pelukan mereka terlepas.
***
Lanjut?
Mohon berikan dukungan untuk karya shy dengan cara like, komen dan votenya. Teman-teman juga bisa memberi gift dalam bentuk poin🥰
Semakin banyak dukungannya, shy semakin semangat melanjutkan ceritanya. Hehe☺️