Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Karena aku merindukanmu


"Ada apa dengan wajahmu, Hana?" Tanya Amel melihat kerutan di kening Hana.


Hana menatap pada Amel lalu menunjukkan chat yang Dika kirim.


"Dika mengajakmu bertemu di mobilnya?" tanya Amel dengan pelan.


"Seperti yang kau baca. Aku tidak tahu kenapa dia mau mengajakku bertemu di mobilnya. Aneh sekali." Balas Hana dengan suara pelan.


"Tidak usah banyak berpikir. Mungkin ada hal penting yang ingin dia bicarakan padamu dan tak ingin orang lain mendengarnya."


Kening Hana semakin mengkerut. "Hal penting apa?" Tanyanya bingung.


"Sudah aku katakan jangan banyak berpikir. Lebih baik kau temui dia nanti dan kau akan mendapatkan jawabannya." Tekan Amel.


"Baiklah. Nanti aku akan menemuinya." Putus Hana tak ingin banyak berpikir.


*


Jam perkuliahan pertama pun telah selesai. Setelah dosen pengajar keluar dari dalam kelas, Dika nampak bangkit dari duduknya lalu keluar dari dalam kelas.


"Dika sudah pergi. Ayo cepat susul dia." Ucap Amel.


Hana menghembuskan nafas kasar di udara. "Kenapa jantungku berdetak kencang hanya karena ingin menemuinya." Gumam Hana.


"Karena kau sedang gugup, Hana. Lagi pula itu wajar karena kau ingin berduaan di dalam mobil dengan Dika." Goda Amel.


"Ish... Kau jangan sembarangan bicara!" Menepuk lengan Amel.


Amel tertawa. "Sekarang pergilah. Dika pasti sudah menunggumu di mobilnya."


"Tapi bagaimana denganmu?" Hana nampak tidak enak meninggalkan Amel seorang diri.


"Tenanglah. Aku akan menunggumu di kantin. Jika kau lama juga tak masalah. Aku sudah terbiasa sendiri beberapa hari ini tanpamu." Seloroh Amel.


"Kau ini..." Hana kembali memukul lengan Amel.


Amel tertawa. "Pergilah." Usirnya sambil melambaikan tangan di depan wajah Hana.


Hana mendengus. Mendorong kursinya ke belakang lalu bangkit dari duduknya.


"Aku pergi dulu." Pamit Hana dan diangguki oleh Amel.


Dengan langkah ragu, Hana terus berjalan hingga sampai di depan mobil Dika.


"Apa dia sudah ada di dalam?" Gumam Hana merasa bingung sebab kaca mobil Dika cukup gelap dan Hana tak dapat melihat apakah Dika sudah berada di dalam mobil atau belum.


Mendengar suara notifikasi pesan masuk di ponselnya, Hana buru-buru mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya.


Masuklah. ~ Dika.


Setelah membaca pesan dari Dika, Hana pun membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.


"Ada apa kau memintaku menemuimu?" Tanya Hana.


Dika hanya diam dengan pandangan lurus ke depan. Tak lama Hana dibuat terkejut saat mobil Dika bergerak mundur.


"Kau ingin membawaku kemana?" Tanya Hana merasa bingung.


Dika tak membalas ucapan Hana dan lebih memilih fokus pada kemudinya.


Aku melupakan jika dia adalah pria menyebalkan! Gerutu Hana dalam hati.


Mobil pun terus melaju hingga sampai di depan gedung apartemen Dika.


"Kenapa kau membawaku ke apartemenmu?" Tanya Hana.


"Turunlah." Titah Dika tanpa menjawab ucapan Hana.


"Aku tidak ingin turun sebelum kau menjawab ucapanku." Cetus Hana.


Dika tak menggubris ucapan Hana. Dika pun keluar lebih dulu dari dalam mobilnya meninggalkan Hana yang merasa sebal karena sikapnya.


"Dia itu benar-benar batu!" Rutuk Hana. Hana pun memilih untuk turun dari dalam mobil lalu berlari mengejar langkah Dika.


"Dika jawab dulu pertanyaanku, kenapa kau membawaku ke apartemenmu?" Tanya Hana lagi setelah sudah masuk ke dalam apartemen Dika.


"Dika!" Hana memegang lengan Dika hingga langkah Dika terhenti.


Dika membalikkan tubuhnya lalu menatap intens wajah Hana.


"Kau ingin tahu kenapa?" Tanya Dika dengan tatapan dinginnya.


Hana mengangguk. Dan sesaat kemudian Hana dibuat terkejut karena Dika tiba-tiba memeluk erat tubuhnya.


"Karena aku merindukanmu." Lirih Dika semakin mengeratkan pelukannya.


***


Berikan vote dan giftnya dulu yuk untuk lanjut ke bab berikutnyašŸ¤—