
Gerry dan William pun kembali terlibat percakapan agar Dika tak merasa curiga dengan apa yang mereka rencanakan. Sedangkan Dika masih fokus berbalas pesan dengan rekan kerjanya tanpa merasa curiga dengan gerak-gerik kedua sahabatnya. Setelah cukup berbalas pesan dengan rekan kerjanya, Dika pun masuk ke dalam percakapan Gerry dan William.
Satu jam pun berlalu, Dika nampak mulai menguap sambil mengusap-usap kedua matanya. Gerry dan William saling pandang. Seringaian tipis nampak tercetak di sebebelah sudut bibir mereka.
"Dika, apa kau sudah mengantuk?" Tanya William menampilkan ekspresi santainya.
Dika kembali menguap. "Mataku ngantuk sekali." Balas Dika.
"Kau ini sungguh cemen sekali. Baru jam segini dan kau sudah mengantuk?" Cibir Gerry.
Dika tak memperdulikan ucapan Gerry karena kini matanya semakin berat.
"Dimana kunci kamar hotelku?" Tanya Dika sambil mengulurkan tangannya pada Gerry.
"Kau belum mengambil kunci kamarmu?" Tanya Gerry.
Dika menggeleng sebagai jawabannya. Pandangannya mulai buram akibat rasa kantuk yang semakin menyerang.
"Tunggu dulu." Balas Gerry lalu bangkit. Gerry pun memanggil salah satu panitia dan meminta tolong mengambilkan kunci kamar hotel untuk Dika.
Tak lama menunggu, panitia pun memberikan kunci kamar hotel Dika pada Gerry.
"Apa kau ingin langsung ke kamarmu?" Tanya Gerry sambil menyerahkan kunci pada Dika.
Dika mengangguk. "Ya. Mataku sudah sangat berat." Balasnya.
Gerry mengangguk paham. "Pergilah, aku dan William masih ingin berada di sini." Balas Gerry.
Dika mengangguk lalu bangkit dari duduknya. Dengan menahan rasa kantuknya, Dika berjalan sempoyongan menuju lift.
"Apa yang akan kita lakukan setelah ini?" Tanya William sambil menatap Dika dengan tersenyum miring.
"Kita tinggal menunggu panggilan untuk menyusulnya." Balas Gerry yang turut tersenyum miring.
William mengangguk paham. Mereka pun kembali menikmati hidangan yang belum habis di atas meja sambil menunggu panggilan dari seseorang di seberang sana.
William turut bangkit. Kedua sahabat itu pun berjalan dengan langkah lebar menuju pintu lift.
*
"Apa ini tidak keterlaluan?" Tanya Rania menatap Dika yang kini tengah dirangkul oleh Gerry dan William.
"Tentu saja tidak, Sayang. Kau ingin sahabatmu cepat menemui jodohnya bukan?" Tanya William yang diangguki oleh Rania.
"Jika tidak dengan cara ini, mereka berdua akan lama untuk bersama. Dan mungkin saja mereka akan melajang hingga tua." Timpal Gerry.
"Tapi..." Rania nampak ragu dengan rencana mereka.
"Sudahlah, sayang... kau percayakan saja pada kami." Ucap William meyakinkan wanita berperut buncit yang berstatus sebagai istrinya itu.
"Huh, baiklah." Balas Rania.
"Apa kau sudah memastikan obat yang diminum Hana sudah berfungsi dengan baik?" Tanya Gerry.
"Ya. Aku sudah memastikan Hana kini tengah tertidur pulas setelah meminum minuman yang aku berikan." Balas Rania.
"Bagus. Kalau begitu ayo kita jalankan aksi kita." Ucap Gerry tak ingin membuang waktu lama.
William dan Rania mengangguk. Rania berjalan lebih dulu menuju kamar Hana yang berada di pojok ruangan. Dengan menggunakan kunci cadangan, Rania pun membuka pintu kamar Hana.
"Kau pastikan lebih dulu jika Hana tidur dengan benar." Ucap Gerry sebelum melangkah masuk ke dalam kamar.
Rania mengangguk lalu masuk ke dalam kamar untuk mengecek kondisi tidur Hana saat ini.
"Hana, maafkan aku. Tapi aku benar-benar ingin kau menikah dengan Dika secepatnya sebelum bayiku lahir ke dunia." Gumam Rania menatap Hana yang kini tengah tertidur pulas.
***
Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya untuk lanjut ke bab berikutnya ya🌹