Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Apa yang membuatmu terluka?


Hana menatap sendu wajah Dika yang kini sudah terlelap setelah ia tinggalkan sebentar ke dalam kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Ucapan Gerry tentang bagaimana terlukanya Dika atas perbuatannya membuat perasaan bersalah semakin menghimpit dadanya.


"Dika... maafkan aku. Kau benar, aku memang ceroboh dan suka mengambil kesimpulan atas apa yang aku dengar tanpa mencari kebenarannya lebih dulu." Bulir-bulir air mata mulai berjatuhan membasahi kedua pipinya. Hana sungguh tidak menyangka jika selama ini mereka sama-sama terluka atas perpisahan mereka waktu itu.


"Apa benar hingga saat ini kau masih mencintaiku seperti aku yang masih sangat mencintaimu?" Hana tak dapat lagi membendung laju air matanya. Tak sanggup dengan rasa sakit dan sedihnya saat ini, Hana pun segera naik ke atas ranjang lalu memeluk tubuh Dika erat. "Hiks..." sekuat tenaga Hana menahan isakan tangisannya agar tidak mengganggu tidur Dika. Namun usahanya sia-sia. Semakin ia menahannya semakin kuat pula isakan tangisannya terdengar.


Dika yang belum terlelap sepenuhnya pun terjaga. Wajahnya nampak bingun menatap Hana yang kini tengah menangis sambil memeluk erat tubuhnya. Kaos putih yang dikenakannya pun terasa basah oleh air mata Hana.


"Ada apa denganmu?" Tanya Dika sambil mengelus rambut Hana.


Hana segera menjauhkan tubuhnya lalu mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya. "A-aku tidak apa-apa. Ma-maaf telah mengganggu tidurmu." Ucap Hana merasa bersalah.


Dika tak percaya begitu saja. Ia tatap wajah cantik istrinya yang kini tengah menutupi kesedihannya. "Apa yang membuatmu terluka?" Tanya Dika.


"Tidak ada. Aku hanya rindu pada Mamaku." Ucap Han berbohong.


Dan lagi Dika tak percaya begitu saja. Tapi ia memilih diam dan membiarkan Hana berbicara jujur padanya jika ia inginkan.


"Bolehkan aku meminjam tubuhmu sebagai gulingku malam ini?" Tanya Hana penuh harap.


Dika hanya diam namun tangannya bekerja menarik tubuh Hana ke dalam dekapannya. "Tidurlah." Ucap Dika lalu memberikan ciuman singkat di kening Hana.


"Hiks..." Hana semakin tak dapat membendung air matanya. Sikap manis Dika saat ini semakin membuatnya merasa bersalah.


Aku sangat mencintaimu, Dika. Sungguh mencintaimu. Batin Hana sambil semakin mengencangkan pelukannya di tubuh Dika.


Terlalu larut dalam kesedihannya membuat Hana tanpa sadar terlelap dalam pelukan hangat Dika.


"Ada apa denganmu?" gumam Dika menatap wajah cantik Hana yang kini sudah terlelap dengan wajah yang masih basah. Jari jempolnya pun bekerja mengusap air mata yang membasahi pipi Hana. Sepanjang malam Dika dibuat bertanya-tanya tentang kesedihan istrinya saat ini.


"Di-dika maafkan aku." Racau Hana dalam tidurnya.


*


"Hoek..." suara muntahan Hana yang terdengar cukup kuat dari dalam kamar mandi membuat Dika terjaga dari tidurnya.


"Hoek..." dan lagi suara muntahan itu kembali terdengar. Dika pun buru-buru turun dari ranjang menghampiri Hana di dalam kamar mandi. Untung saja pintu kamar mandi tidak terkunci hingga ia bisa dengan mudah masuk ke dalam kamar mandi.


"Ada apa denganmu?" tanya Dika sambil memijat tengkuk Hana.


"Hoek..." Hana kembali memuntahkan cairan dari dalam mulutnya. Ia pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Dika.


Dika memilih diam dan tak lagi bertanya hingga Hana selesai membasuh wajahnya saat rasa mual dalam tubuhnya perlahan menghilang.


"Sepertinya aku masuk angin." Ucap Hana seraya tersenyum kaku pada Dika yang kini menatapnya intens.


***


Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗


Like


Vote


Komen


Hadiah


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui jadwal update.