
"Ada apa ini?" Tanya William menatap punggung Dika yang semakin menjauh darinya.
"Aku juga tidak tahu. Jelas-jelas sejak tadi aku bersamamu." Balas Gerry tanpa mengalihkan tatapannya dari Dika.
"Gerry..." ucap William saat mengingat Hana yang masih berada di dalam kamar:
"Apa lagi?" Cetus Gerry.
"Hana...." ucap William lalu masuk begitu saja ke dalam kamar.
Paham maksud ucapan William, Gerry pun segera melangkah masuk ke dalam kamar mengikuti William.
"Hana..." William dan Gerry nampak begitu panik melihat Hana yang terduduk di lantai sambil memegang perutnya.
"Hana... ada apa denganmu?" Raut wajah Gerry berubah cemas melihat Hana yang tengah menahan sakit.
Hana menggelengkan kepalanya seraya menangis. "Dika... Dika pergi. Dia marah kepadaku." Lirih Hana.
William dan Gerry tidak memperdulikan dulu ucapan Hana. Mereka lebih memilih membantu Hana untuk berdiri lalu menuntunnya duduk di atas sofa. Setelahnya William pun berjalan ke arah meja untuk mengambil air putih untuk Hana.
"Ayo diminum dulu." Ucap William.
Hana mengangguk lalu meneguk sedikit air yang diberikan William. "Hiks..." bulir-bulir air mata semakin berjatuhan membasahi kedua pipi Hana.
William dan Gerry saling pandang lalu menghela nafas panjang.
"Hana, sebenarnya ada apa ini? Kenapa Dika pergi begitu saja?" Tanya Gerry.
"Dika... dia marah kepadaku, Gerry. Dia marah setelah aku menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi." Ucap Hana.
"Hana..." Gerry menatap iba pada Hana yang terus menangis. "Aku rasa Dika bukan marah kepadamu. Mungkin saat ini dia hanya kecewa atas apa yang terjadi sebenarnya di dalam hubungan kalian." Tutur Gerry.
Hana mengangguk. "Dia berhak marah dan dia juga berhak kecewa kepadaku." Hana menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tak lama tangannya pun turun mengelus perutnya yang kembali terasa sakit.
"Sudahlah... jangan banyak berpikir. Biarkan Dika menenangkan dirinya lebih dulu. Aku yakin Dika hanya terkejut dengan apa yang terjadi. Dan ingatlah saat ini ada hal yang harus kau jaga." Tutur Gerry.
"Tapi bagaimana jika dia tidak mau memaafkanku, Gerry." Hana semakin takut dengan pemikirannya.
"Tidak akan. Dia pasti akan memaafkanmu." Ucap Gerry dengan yakin.
Hana tak lagi menjawab ucapan Gerry dan lebih memilih diam sambil mengelus perutnya.
Hana menggeleng lemah. "Aku bahkan tidak memiliki kesempatan untuk memberikannya." Lirih Hana.
"Sudahlah... kau masih memiliki banyak waktu untuk memberikannya." Ucap Gerry.
Hana mengangguk saja tanpa bersuara.
"Lebih baik sekarang kita pergi ke rumah orang tua Dika karena acara perayaan ulang tahun Dika akan dilanjutkan di sana." Ucap William.
"Apa kau yakin Dika akan datang ke rumah orang tuanya?" Tanya Gerry.
William mengangguk. "Dia pasti datang walau hatinya sangat hancur saat ini. Kau tahu jelas bukan Dika seperti apa? Tidak mungkin dia mau mengecewakan Tante Puspa yang telah bersusah payah menyiapakan acara ulang tahunnya." Jelas William.
Gerry mengangguk paham. Kemudian mereka pun membantu Hana untuk kembali bangkit.
"Apa kau bisa berjalan sendiri?" Tanya Gerry.
"Aku bisa melakukannya." Balas Hana lalu berjalan lebih dulu dengan kepala tertunduk.
"Will, kau ini sungguh keterlaluan!" Gerry memukul pundak William saat Hana sudah melangkah jauh dari mereka.
"Keterlaluan bagaimana?!" William yang merasa tidak terima pun membalas pukulan Gerry.
"Apa kau tidak sadar ucapanmu tadi kembali membuat Hana bersedih? Kau mengatakan jika Dika tidak mungkin mau mengecewakan Tante Puspa. Sedangkan saat ini Dika mengecewakan Hana yang sudah susah payah menyiapkan perayaan ulang tahun untuknya. Bahkan kau lihat itu? Dika belum menyentuh kuenya sama sekali!" Cecar Gerry.
***
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.