Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Penyesalan Dika


Ke esokan harinya, Hana terlihat tengah menarik kopernya yang berukuran cukup besar keluar dari dalam rumah dengan susah payah. Bulir-bulir keringat nampak membasahi dahinya setelah ia berhasil memasukkan koper ke dalam bagasi mobil dengan dibantu oleh pelayan.


Hana menghembuskan nafas bebas di udara. Pagi ini ia akan berangkat menemui Mamanya di luar kota dengan mengendarai mobilnya seorang diri. Wajah cantiknya nampak sendu saat mengingat bagaimana Dika yang terlihat tidak peduli dengan keberangkatannya bahkan sekedar mengucapkan hati-hati di jalan kepadanya.


Dengan hati yang terasa remuk, Hana masuk ke dalam mobilnya. Hembusan nafasnya kian terasa berat saat mengingat beberapa hari ke depan ia takkan melihat wajah tampan suaminya yang selalu membuatnya jatuh cinta.


"Aku pergi. Aku harap setelah kembali hubungan kita akan kembali baik-baik saja." Gumam Hana lalu mulai menghidupkan mesin mobilnya.


*


Tiga hari sudah Hana pergi meninggalkan rumahnya dengan izin Dika untuk menenangkan hati dan pemikirannya. Dan selama tiga hari itu pula Dika tidak pernah mengabari Hana bahkan sekedar menanyakan kabar istrinya itu. Entah apa yang ada dalam pemikiran Dika hingga membuatnya mati rasa dan bersikap batu mengabaikan istrinya.


Dan entah ada angin apa hari itu, Dika terlihat begitu ingin mendatangi apartemen Hana. Hati dan pemikirannya berkata bahwa ada sesuatu yang akan ia dapatkan di sana. Dengan langkah lebar, Dika memasuki kamar Hana yang terlihat tersusun rapi.


Langkah kakinya langsung menuju pada meja kerja Hana yang ada di sudut ruangan. Dika menjatuhkan bokongnya di atas kursi lalu mulai mencari sesuatu yang sejak satu bulan lalu membuatnya begitu penasaran untuk membukanya.


Dan setelah mendapatkan apa yang ia cari yang tidak lain adalah buku harian milik Hana, Dika langsung membukanya dan membacanya. Setiap goresan tinta dari lembaran pertama hingga lembaran terakhir Dika baca dengan wajah yang berubah-ubah. Ekspresi terkejut, kecewa, sedih dan merasa bersalah menjadi satu di wajah tampannya. Dika menutup sampul buku setelah hampir satu jam ia habiskan untuk membaca buku harian Hana.


"Kenapa kau begitu bodoh, Hana?" Dika mengusap sudut matanya yang tiba-tiba basah. Tanpa membuang waktu lama, ia pun bangkit dari duduknya tanpa meletakkan kembali buku harian Hana ke tempat semula.


"Dika, kau ingin kemana?" Gerry menahan tangan Dika yang hendak masuk ke dalam mobilnya.


Dika menatap Gerry dengan wajah terkejut. Bagaimana bisa Gerry berada di tempat yang sama dengannya saat ini. Dika lebih memelih mengangkat tangannya di udara lalu masuk ke dalam mobil dan mengendarainya melewati Gerry begitu saja.


"Mau kemana dia?" Tanya William dari dalam mobil. Sejak awal keberangkatan Dika menuju apartemen Hana, Gerry dan William memang mengikutinya untuk memberikan suatu informasi penting pada Dika.


"Apa kita akan mengikutinya lagi?" Tanya William.


Gerry menggeleng. "Biarkan saja. Aku rasa dia akan kembali pada jalan yang benar hari ini." Ucap Gerry karena ia dapat menangkap ekspresi penyesalan di wajah tampan Dika tadi.


Di dalam mobilnya, Dika terlihat kembali mengusap sudut matanya yang kembali basah saat mengingat isi buku harian Hana yang menceritakan bagaimana sulitnya kehidupan Hana setelah kepergiaanya.


"Kenapa kau begitu sulit untuk hanya mempercayai cintaku saja tanpa memperdulikan ucapan orang lain?" Gumam Dika sambil mencengkram erat kemudinya.


***


Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗


Like


Vote


Komen


Hadiah


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.