
"Ayo pergi!" Arka menarik tangan Fitri hingga membuat Fitri menghentikan niatnya untuk menjawab pertanyaan rekan kerjanya.
"Dokter Arka kenapa menarik tanganku? Aku bahkan belum menjawab pertanyaan mereka." Protes Fitri.
"Kau tidak memiliki waktu membalas pertanyaan mereka. Lebih baik sekarang kau kembali bekerja atau kau akan menjadi tawanan selanjutnya yang dipindahtugaskan." Ucap Arka dengan datar.
Fitri menghela nafas kasar lalu diam menuruti pergerakan Arka yang membawanya menjauh dari ruangan Gia dan Fitri. Namun beberapa saat Fitri tertegun saat menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan jantungnya.
Deg
Kenapa jantungku berdetak begitu cepat hanya karena pegangan tangan Dokter Arka? Batin Fitri sambil terus menatap tangan Arka yang masih menggenggam tangannya. Bahkan Arka tak melepasnya sedikit pun saat melewati para Dokter yang menatap heran kepada mereka.
*
Karena situasi yang sudah tidak aman untuk istri dan anak-anaknya jika hubungan mereka lebih lama disembunyikan, akhirnya sore itu Dika mengumpulkan seluruh staff dan pegawai rumah sakit di aula rumah sakit untuk mengumumkan status pernikahannya dan siapakah wanita yang menjadi istrinya. Tak lupa Dika juga mengumumkan kabar bahagia jika saat ini Hana tengah berbadan dua dan mengandung anak kembar.
Banyak dari staff dan pegawai yang begitu terkejut atas informasi yang mereka dapatkan. Mereka sungguh tidak menyangka jika Dika benar sudah menikah dan lebih tidak menyangka siapa wanita yang menjadi istrinya mengingat tidak adanya kedekatan antara Dika dan Hana yang mereka lihat selain mereka yang sering berangkat bersama ke rumah sakit dalam waktu beberapa hari belakangan ini.
"Mama senang akhirnya kau bergerak juga." Sindir Mama Puspa saat mereka berjalan meninggalkan aula rumah sakit.
Dika diam tak menjawab karena ini memang salahnya. Jika ia bertindak lebih cepat dan tidak mengundur waktu hanya karena alasan kesibukan istri dan anaknya pasti terjaga saat ini.
"Apa harus menunggu ada yang terluka lebih dulu baru kau bergerak?" Ucap William yang tiba-tiba sudah berada di samping Dika hingga membuat langkah Dika, Mama Puspa dan Papa Indra terhenti.
"Kau... sedang apa kau di sini?" Wajah Dika sedikit terkejut melihat keberadaan William.
"Tentu saja untuk memastikan calon keponakan kembarku baik-baik saja." Balas William lalu kembali berjalan.
Dika pun kembali berjalan lalu mengejar langkah William yang sudah berada di depannya. "Dari mana kau tahu?" Tanya Dika.
"Kau lupa jika mataku bertebaran dimana-mana?" Tanya William kembali.
"Anak itu memang terlalu lama bergerak." Ucap Mama Puspa pada William.
William mengangguk membenarkan. "Entah mengapa kami bertiga selalu lambat bergerak hingga istri-istri kami menjadi taruhannya." Curhat William.
Mama Puspa menepuk pundak William. "Kau, Gerry dan Dika sama saja." Cetus Mama Puspa mengingat perjalanan rumah tangga William dan Gerry yang tak jauh berbeda dengan anaknya.
William tertawa lalu menggaruk keningnya yang tak gatal. "Sepertinya itu adalah sifat turun temurun yang diturunkan dari Gerry pada kami hingga kami mengikuti jejaknya." Ucap William tak ingin terlalu disalahkan.
Puk
"Aw..." Pukulan cukup keras di bahunya membuat William terpekik cukup kuat.
"Kenapa kau membawa namaku menjadi pusat kesalahan di antara kita?" Ucap Gerry yang sudah berada di belakang William.
^^^
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.