Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Ada apa dengannya?


Hana membalikkan tubuhnya. Tatapannya langsung bertabrakan dengan tatapan tajam dari mata Dika. "Dika..." lirih Hana.


"Sedang apa kau di sini?" Tanya Dika lagi. Wajahnya menunjukkan ketidakramahan pada Hana.


"A-aku hanya ingin melihat kondisi Gerry." Balas Hana dengan wajah tertunduk.


Dika terdiam beberapa saat. Tatapannya tak lepas dari wajah Hana yang saat ini masih tertunduk. "Pergilah. Kau menghalangi jalanku!" Titah Dika.


Hana menggusur tubuhnya. Memberikan ruang pada Dika untuk masuk ke dalam ruangan Gerry. Hana sejenak mengangkat wajahnya hingga kini ia dapat melihat wajah dingin Dika yang membuatnya membeku.


"Kau tidak perlu menunjukkan rasa simpatimu pada Gerry karena Gerry tidak membutuhkannya dari wanita seperti dirimu." Ucap Dika dengan tajam lalu masuk ke dalam ruangan rawat Gerry.


Hana tertegun. Walau pun hanya perkataan singkat, namun ucapan Dika berhasil menusuk relung hatinya. Hana menghela nafasnya yang kian memberat. Dari tatapan dan ucapan Dika, Hana dapat merasakan kebencian di dalam diri Dika padanya.


"Aku memang pantas mendapatkannya." Lirih Hana. Kakinya pun melangkah meninggalkan ruangan rawat Gerry dengan langkah lesu.


*


Bulan demi bulan pun berlalu. Tanpa terasa tujuh bulan sudah Gerry terbaring koma di rumah sakit. Selama tujuh bulan itu pula Hana merasa tidak lagi tenang bekerja di rumah sakit yang telah membesarkan namanya.


Bagaimana tidak, hatinya terus saja terasa sakit setiap melihat tatapan kebencian dari Dika setiap bertemu dengannya. Acap kali Dika menunjukkan rasa tidak sukanya setiap menatap wajahnya di setiap pertemuan mereka. Walau sudah berusaha untuk menjauh agar tidak bertemu dengan Dika, namun keberuntungan selalu tidak berpihak kepadanya. Karena pasti ada saja keadaan yang membawanya bertemu dengan Dika.


"Gerry sudah sadar dari komanya?" Hana menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya saat mendengar berita sadarnya Gerry hari itu. Bulir-bulir air mata mulai berjatuhan membasahi wajahnya. Perasaan haru memenuhi relung hatinya. Tak berbeda dengan Kyara yang pasti sangat bahagia saat ini, Hana pun turut bahagia mendengar keadaan teman baiknya itu.


Tak ingin membuang waktu untuk memastikan keadaan Gerry saat ini, Hana pun segera melangkah menuju ruangan rawat Gerry. Saat sudah berada dekat dengan ruangan rawat Gerry, Hana menghentikan langkahnya saat melihat Dika keluar dari ruangan Gerry dengan mata yang nampak sembab.


*Apa Dika habis menangis? *Tanya Hana dalam hati.


Dika sejenak tertegun melihat keberadaan Hana di dekatnya, tanpa mengucapakan satu kata pun, Dika berlalu begitu saja melewati tubuh Hana dengan tatapan dinginnya.


"Huh sudahlah. Bukankah aku sudah biasa dengan aura kebencian darinya." Gumam Hana menguatkan hatinya. Hana pun kembali melanjutkan langkahnya mendekat ke ruangan rawat Gerry.


*


Pertemuan Hana dengan Gerry kembali setelah enam tahun lebih berlalu membuat Gerry nampak bingung. Bagaimana tidak, Hana terlihat seperti tidak pernah mengenalnya sebelumnya bahkan Hana memanggilnya dengan panggilan berbeda.


"Selamat atas kesembuhan anda Tuan Gerry." Ucap Hana begitu tulus pada Gerry yang hendak pergi meninggalkan rumah sakit.


Kening Gerry semakin mengkerut. Ada apa dengannya? Batin Gerry. Pandangan Gerry pun tertuju pada Dika yang kini tengah menatap dingin pada Hana. Hingga akhirnya Gerry sadar apa yang membuat Hana seperti ini.


"Terimakasih Dokter Hana." Balas Gerry yang turut mengikuti permainan Hana.


***


Kalau vote, komen dan likenya banyak, SHy usahakan lanjut lagi deh nanti nanti malam🤍