
"Emh, Dika. Kau mau apa?" Hana dibuat gugup karena Dika kini menatapnya dengan intens.
"Kau tidak lupa dengan hutang yang belum kau bayar bukan?" Tanya Dika sambil mendekatkan wajahnya dengan Hana.
"Hu-hutang?" Hana tergagap. Tubuhnya sontak merespon tindakan Dika dengan mundur ke belakang.
"Ya. Hutang makan siangmu." Dika meraih pinggang Hana hingga pergerakan Hana terhenti.
"Oh ya. Aku harus membayarnya dengan apa?" Hana berusaha untuk tenang walau jantungnya kini berdegup begitu kencang.
"Dengan..." Jemari Dika mulai menempel di wajah Hana lalu membelainya. "Dengan tubuhmu." Ucap Dika dengan berbisik di telinga Hana.
"A-apa..." Kedua mata Hana membola. Sedetik kemudian ia terdiam saat sebuah benda kenyal menempel di bibirnya.
Perlahan Hana mulai hanyut dalam ciuman yang Dika berikan. Matanya terpejam dengan sebelah tangannya memeluk erat pinggang Dika. Hana mulai menggunakan instingnya membalas ciuman yang Dika berikan. Ciuman yang awalnya lembut itu pun kian memanas saat tangan Dika sudah berkeliaran kemana-mana.
Terlalu hanyut dalam permainan Dika membuat Hana tidak sadar jika kini tubuhnya sudah polos tanpa sehelai benang pun. Pun dengan handuk yang melilit pinggang Dika sudah hilang dari tubuhnya. Kedua mata Hana terus terpejam hingga akhirnya terbuka diikuti jeritan kecil saat sesuatu yang asing mulai memasukinya.
"Di-dika..." ucap Hana tertahan sambil mencengkram erat punggung Dika.
Dika hanya diam lalu membenamkan kembali ciuman di bibir Hana. Dika membiarkan Hana menyalurkan tasa sakitnya di punggungnya walau punggungnya masih terasa perih karena cakaran Hana kemarin malam dan kini bertambah perih dengan cakaran yang baru. Cukup lama Hana dan Dika menikmati waktu berjalan dengan percintaan mereka yang semakin memanas.
*
Dika menghapus bulir-bulir keringat yang kini membanjiri pelipis Hana dengan jari jempolnya. Hembusan nafas keduanya terdengar tidak teratur setelah melewati percintaan panas mereka yang terbilang cukup lama.
"Ada apa?" Tanya Dika.
Hana menggelengkan kepalanya lalu memilih membenamkan wajahnya di dada bidang Dika. "Tidurlah." Ucap Dika seraya membelai lembut rambut Hana yang terasa lembab.
Dika... kenapa kau kembali menyentuhku? Apa kau tidak takut jika nantinya aku akan hamil? Terlebih minggu ini adalah masa suburku. Ucap Hana dalam hati. Ingin sekali Hana mengungkapkan isi hatinya namun ia sadar tidak akan bisa.
*
Empat hari sudah Hana dan Dika lewati bersama di Bali. Hasil bulan madu yang diharapkan Gerry dan William akhirnya terwujud sudah dengan terbobolnya gawang yang dijaga Hana. Bahkan di luar ekspetasi Gerry dan William yang berpikir jika Dika akan kaku jika berada di atas ranjang karena buktinya Dika begitu ganas hingga membuat tubuh Hana remuk tak tertahankan.
Pagi itu dengan bermalas-malasan Hana memasukkan barang-barang mereka kendalam koper karena siang ini mereka akan kembali ke kota. Hana terlihat menguap beberapa kali merasakan kantuk yang teramat sebab ia baru saja tertidur pukul empat pagi setelah melayani gai-rah suaminya yang seperti tidak ada habisnya.
"Jika terus begini aku yakin benar-benar tidak bisa berjalan dengan benar ke depannya." Rungut Hana. Bagaimana tidak, belum hilang rasa sakit di area intinya Dika telah kembali membuatkan rasa sakit yang baru di tubuhnya. "Dia itu benar-benar ganas!" Rungut Hana lagi.
"Siapa yang ganas?" Tanya Dika yang sudah berada di belakang tubuh Hana.
***
Lanjut? berikan votenya dulu yuk☺️
Jangan lupa follow IG SHy ya : @shy1210_