
"Bayi Kyara sangat lucu bukan?" Tanya Rania saat Hana menatap intens wajah putri Kyara.
Hana mengangguk membenarkan. "Dia lucu sekali."
"Hana... apa kau tidak ingin memiliki bayi yang lucu seperti Kyara?" Tanya Rania dengan hati-hati.
Hana terdiam sesaat sebelum menolehkan wajahnya kepada Rania. "Tentu saja aku menginginkannya." Balas Hana seraya tersenyum.
Rania ikut tersenyum. "Apa kau sudah ada niat untuk menikah dalam waktu dekat ini, Hana?" Rania mendekat pada Hana.
Hana kembali terdiam sebelum menjawab. "Aku belum memikirkannya." Balas Hana apa adanya.
Percakapan Hana dan Rania pun sontak membuat perhatian Gerry, Dika dan William teralihkan pada mereka.
"Apa kau tidak memiliki teman dekat pria saat ini?" Rania masih berupaya mengorek informasi dari Hana dengan hati-hati.
Hana menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin fokus pada pekerjaanku saat ini." Ucap Hana.
Rania mengangguk paham. Walau pun mengatakannya dengan tersenyum, namun Rania bisa menangkap raut kesedihan di wajah Hana saat mengatakannya.
Rania bukanlah orang pertama yang mempertanyakan tentang pernikahan pada Hana mengingat saat ini usianya sudah menginjak dua puluh sembilan tahun. Bahkan dibandingkan Rania dan Kyara, umur Hana jauh lebih besar dari pada mereka.
"Maaf jika pertanyaanku menyinggung perasaanmu, Hana." Ucap Rania merasa tidak enak.
Hana tertawa kecil. "Tak masalah. Menurutku kau wajar mempertanyakannya. Apa lagi saat ini kau sudah mau memiliki anak dan Kyara sudah memiliki anak dua di usia kalian yang masih muda." Balas Hana.
Di tempatnya berdiri, Dika nampak terdiam dengan banyaknya pertanyaan yang berkumpul di dalam benaknya saat ini.
*
Dika menghentikan aktivitasnya yang sedang menyantap makanan lalu menatap Gerry tajam. "Jangan berbicara sembarangan!" Sembur Dika.
"Aku tidak berbicara sembarangan. Lagi pula saat ini Hana masih single dan kau pun begitu. Tidak masalah bukan jika kalian kembali merajut cinta yang belum usai." Jelas Gerry.
"Aku tidak berniat kembali pada wanita sepertinya." Tekan Dika.
Gerry menggelengkan kepalanya. "Apa kau tidak berniat mempertanyakan alasan Hana meninggalkanmu begitu saja waktu itu? Mungkin dia memiliki alasan yang kuat untuk itu." Ucap Gerry.
Sebelah tangan Dika terkepal di bawah meja. "Sudah aku katakan aku tidak berniat!" Cetus Dika. Dika memang tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Gerry jika Hana meninggalkannya demi kekasih barunya waktu itu. Dika hanya berkata jika Hana tiba-tiba pergi begitu saja setelah mengatakan putus padanya. Bukan tanpa alasan Dika melakukannya, Dika hanya tidak ingin wanita yang dicintainya itu mendapatkan ucapan buruk dari sahabat baiknya.
Gerry dan William saling pandang. William pun memberikan kode pada Gerry agar tak lagi membahas masalah Dika dan Hana.
"Lanjutkan makananmu, kita harus segera kembali ke rumah sakit untuk menjaga Kyara dan Rania." Ucap William karena Rania memilih untuk menginap di rumah sakit menemani Kyara yang sedang di rawat pasca melahirkan.
Dika tak membalas ucapan William dan lebih memilih melanjutkan memakan makanannya yang belum habis.
"Sepertinya kita memerlukan cara untuk mempersatukan mereka kembali. Kau dapat melihat sendiri bukan jika Dika dan Hana sebenarnya masih saling mencintai?" Ucap William yang diangguki oleh Gerry.
"Cara apa yang kau maksud?" Tanya Gerry sambil menatap punggung Dika yang sudah menjauh darinya.
***
Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya untuk lanjut ke bab berikutnya ya🌹