Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Menginap kembali


"Jalan menuju rumahmu pasti terendam banjir jika hujan lebat seperti ini." Ucap Dika saat mobilnya melaju di jalan raya.


"Astaga. Aku melupakannya. Banjirnya pasti sudah sampai ke jalan raya." Balas Hana. "Bagaimana ini. Sedikit berbahaya jika kau mengantarkanku pulang ke rumah." Hana menggigit jarinya.


"Apa kau ingin aku antar ke rumah Amel saja?" Tawar Dika.


Hana menggeleng cepat. "Amel saat ini pasti sudah tidur. Lagi pula aku segan dengan kedua orang tuanya."


"Jadi bagaimana?" Dika menatap lurus ke depan tanpa memperhatikan wajah bingung hana saat ini.


"Aku juga tidak tahu. Jika kau masih ingin mengantarkanku pulang, aku takut mobilmu mogok di tengah jalan."


"Apa kedua orang tuamu ada di rumah saat ini?" tanya Dika.


Hana menggeleng walau pun Dika tak melihatnya.


Dika tak lagi bersuara. Menambah laju kecepatan mobilnya saat melihat jalanan sudah mulai sepi.


"Kau ingin membawaku kemana?" Tanya Hana saat mobil Dika melaju ke jalan yang bukan menuju jalan ke rumahnya.


"Ke apartemenku." Balas Dika dengan datar.


"Ke apartemenmu?" Hana melebarkan kedua bolan matanya. "Kenapa kau membawaku ke apartemenmu? Kau berniat jahat padaku ya!" Pekik Hana lalu menyilangkan kedua tangannya di dada.


Lidah Dika berdecak. "Buang semua pikiran kotormu. Aku membawamu ke apartemenku karena kau tidak tahu lagi harus pulang kemana. Lagi pula aku tidak tertarik dengan tubuhmu. Jadi jangan berpikiran yang macam-macam!" Cetus Dika. Walau berbicara cukup panjang, namun wajah Dika tetap tidak menunjukkan ekspresi apa pun.


Hana menghembuskan nafas kasar di udara. Pulang ke apartemen Dika sepertinya lebih baik dari pada ia harus menerjang banjir pulang ke rumahnya.


*


Hana menerimanya. Memperhatikan pakaian yang diberikan Dika sama persis dengan pakaian yang Dika berikan padanya beberapa bulan yang lalu.


"Apa kau tidak memiliki warna baju selain putih?" Tanya Hana.


Dika tak menjawab. Kakinya melangkah meninggalkan Hana dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Dasar kulkas batu! Apa suaranya itu sangat berat jika keluar dari dalam mulutnya!" Hana mendengus. Berbicara dengan Dika bagaikan berbicara dengan benda mati.


Hana melangkah ke arah kamar tamu yang pernah ia tempati sebelumnya. "Apa tak masalah aku langsung memakai kamar ini tanpa izin Dika? Huh, lagi pula dia tidak kunjung keluar dari dalam kamarnya!" Hana merasa bimbang di depan kamar tamu apakah langsung masuk saja atau meminta izin Dika lebih dulu.


"Agh sudahlah. Aku masuk saja!" Putus Hana lalu masuk ke dalam kamar.


Setelah mengganti pakaiannya, Hana keluar dari dalam kamar. Di ruang tamu, Dika sudah nampak duduk di ruang tamu sambil menikmati secangkir teh di depannya.


Ternyata dia ke kamar untuk mengganti baju. Ucap Hana dalam hati sambil terus melangkah ke arah Dika.


"Apa minuman ini untukku?" tanya Hana menunjuk teh hangat yang ada di atas meja yang sepertinya di buatkan khusus untuknya.


Dika hanya diam dengan pandangan fokus pada ponsel di tangannya.


Kulkas dua belas pintu ini benar-benar! jika terus berada di dekatnya lama-lama aku bisa ikut bisu dan membatu seperti es! Hana hanya bisa menggerutu di dalam hati melihat sikap Dika yang selalu bisa membuat emosinya naik ke ubun-ubun.


***


Berikan dukungan untuk karya Shy yuk dengan cara like, komen, vote dan giftnya. Terimakasih