
Hembusan angin malam yang cukup dingin tak membuat Hana kedinginan walau hanya menggunakan kaos lengan pendek. Hana begitu menikmati setiap jalan yang mereka lewati sambil memeluk erat tubuh Dika.
Dika mengelus tangan Hana yang melingkar dinginggangnya. "Apa kau tidak kedinginan?" Tanya Dika saat merasakan tangan Hana terasa dingin.
Hana menggeleng. "Aku merasa hangat saat memelukmu." Balas Hana.
Sebelah sudut bibir Dika tertarik. "Kenapa kau tidak membawa jaket?" Dika masih tidak percaya dengan perkataan Hana.
"Karna aku tidak membutuhkannya." Balas Hana dengan santai.
Dinginnya hembusan angin malam semakin menusuk ke dalam pori-pori kulit Hana. Hana semakin mempererat pelukannya di tubuh Dika hingga rasa dingin itu lenyap seketika.
Motor terus melaju dengan kecepatan sedang menyalip beberapa kendaraan yang menghalangi jalan mereka.
"Dimana kau ingin membeli makan kucingnya?" Tanya Hana setelah cukup jauh mereka berkendara.
"Aku sudah membelinya sebelum menjemputmu." Balas Dika. Menatap perubahan wajah Hana dari kaca spion.
"Kalau kau sudah membelinya, lalu kau ingin mengajakku kemana?" Tanya Hana. Menatap kembali wajah Dika dari kaca spion motor.
"Kemana saja asal bersamamu." Balas Dika dengan wajah datarnya.
"Apa?" Senyuman manis terbit di bibir Hana saat mendengarkan ucapan Dika yang sangat manis. Hana kembali menatap wajah Dika yang datar tanpa ekspresi.
Bagaimana bisa dia berkata romantis tanpa ekspresi seperti itu? Walau pun merasa tak habis pikir dengan ekspresi Dika, namun hati Hana cukup berbunga mendengarkannya.
Tiga puluh menit berlalu, motor Dika pun memasuki jalanan yang cukup sepi dan udara malam yang terasa semakin dingin.
"Dika... kau ingin mengajakku kemana?" Hana semakin mempererat pelukannya. Merasa dingin dan takut secara bersamaan.
Dika hanya diam dengan ekspresi datarnya.
Dika ingin membawaku kemana? Apa dia ingin membuangku? Ucap Hana dalam hati dengan wajah takut.
"Dika..." Hana kembali memanggil Dika namun Dika tak menoleh menatapnya.
Kecepatan motor Dika semakin kencang membuat Hana semakin ketakutan.
Dika masih diam dengan pandangan lurus ke depan. Rasa ketakutan Hana pun perlahan menyurut saat motor Dika berbelok ke arah kanan ke arah banyaknya tempat diduk di pinggir bukit.
"Dika...." Hana melongo tak percaya menatap pemandangan di depannya.
"Ayo turun." Ajak Dika.
Hana mengangguk namun tak mengalihkan tatapannya dari pemandangan di depannya.
"Dari sini kita bisa melihat keindahan kota tanpa harus menaiki gedung tinggi." Ucap Dika mengelus rambut Hana yang berterbangan.
Hana mengangkat wajahnya menatap wajah Dika. "Tempatnya indah sekali..." Hana memutar kepapanya menatap banyaknya lampu hias yang menerangi bukit tempat meraka berada.
"Ayo ke sana." Ajak Dika menunjuk sebuah kursi yang mengarah ke pinggir bukit."
Hana dengan cepat mengangguk. Tangan mereka saling menggenggam menuju kursi yang Dika tunjuk.
"Kau ingin minum apa?" Tanya Dika saat seorang pelayan datang menghampiri mereka.
"Jeruk hangat saja." Balas Hana.
Dika mengangguk paham lalu memesan minuman dan makanan untuk mereka.
"Kau tahu tempat ini dari mana?" Tanya Hana.
"Waktu kecil dulu aku sering datang ke sini bersama kedua orang tuaku. Orang tuaku lebih senang membawaku ke tempat bernuansa alam seperti ini." Jelas Dika.
Hana mengangguk paham. Kepalanya memutar menatap sekitar dimana cukup banyak pengunjung yang datang bersama keluarganya.
"Apa kau senang?" Tanya Dika menatap intens wajah Hana.
"Aku selalu senang asal itu bersamamu." Balas Hana sambil mengelus punggung tangan Dika.
***
Lanjut lagi? Kencengin vote, gift, like dan komennya dulu yuk untuk mendukung karya SHy🥰