Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Dia sangat beruntung


"Hana..." lirih Kyara.


Hana semakin mendekat ke ranjang Kyara. "Kyara..." Hana mengelap peluh yang membanjiri pelipis Kyara dengan tisu yang baru saja ia ambil.


"Perutku sakit sekali Hana...." Kyara semakin merintih kesakitan disusul dengan suara rintihan Gerry akibat cengkraman tangan Kyara yang semakin kuat di lengannya.


"Sabarlah, Kya. Sebentar lagi bayimu akan keluar. Kau pasti kuat." Hana memberikan elusan lembut di bahu Kyara.


"Apa bayinya tidak bisa dipercepat untuk keluar? Kasihan istriku semakin kesakitan!" Cetus Gerry sambil menahan sakit di lengannya.


"Sabarlah, Gerry. Kita hanya bisa menunggu pembukaan jalan lahir bayimu sempurna." Balas Hana dengan lembut.


Gerry menghela nafas panjang. Walau pun sudah pernah menemani Kyara sebelumnya saat persalinan Baby Rey, namun tetap saja ia merasa tegang menghadapi kembali persalinan Kyara kali ini. Apa lagi pembukaan jalan lahir bayinya kali ini cukup memakan waktu lama.


"Kyara..." kedatangan Mama Riana masuk ke dalam ruangan membuat Hana segera menggusur tubuhnya untuk memberi ruang pada Mama Riana dekat dengan Kyara.


"Mamah... bagaimana dengan Rey?" Walau pun merasakan sakit yang teramat di perutnya, namun Kyara masih tetap memikirkan putranya yang menangis di rumah saat melihatnya kesakitan tadi.


"Tenanglah, saat ini Rey sudah tenang dan sedang ditemani oleh Rania. Saat ini kau tidak boleh banyak pikiran. Kau harus fokus pada persalinanmu." Mama Riana mengelus lembut rambut menantunya.


Dari tempatnya berdiri Hana nampak berkaca-kaca menyaksikan betapa sayangnya Mama Riana pada Kyara yang hanya berstatus sebagai menantunya.


Kyara... kau sangat beruntung mendapatkan suami yang sangat mencintaimu dan mertua sebaik Tante Riana. Ucap Hana dalam hati.


Tak lama Hana dan Mama Riana pun keluar dari ruangan persalinan saat dokter yang akan membantu persalinan Kyara masuk ke dalam ruangan persalinan.


"Dika..." Mama Riana nampak terkejut melihat Dika yang kini berada di depan pintu ruangan persalinan.


Hana menutup rapat pintu ruangan lalu berdiri di samping Mama Riana. "Tante Riana... kalau begitu saya pamit dulu karena sebentar lagi ada pasien yang harus saya periksa keadaanya. Jika sudah selesai saya akan segera kembali ke sini." Pamit Hana.


Mama Riana tersenyum lalu mengangguk. "Doakan Kyara agar persalinannya lancar di dalam sana." Ucap Mama Riana.


Hana mengangguk. "Saya pasti mendoakan yang terbaik untuk Kyara dan bayinya." Balas Hana dengan tulus.


"Terimakasih Hana. Kau memang wanita yang baik." Mama Riana mengelus pundak Hana.


Hana tersenyum. Pandangannya pun jatuh pada Dika yang kini tengah menatapnya dengan dingin. "Saya pamit dulu Dokter Dika." Pamit Hana lalu segera melangkah saat Dika sepertinya enggan membalas ucapannya.


*


Suasana di dalam ruangan perawatan Kyara sore itu nampak ramai dengan kedatangan Rania, Willam, Baby Rey, Dika dan Hana di sana.


"Kyara... adik Rey cantik sekali..." puji Rania menatap gemas pada bayi mungil yang kini sedang tertidur pulas di box bayinya.


Kyara tersenyum. "Bayimu nanti juga pasti cantik." Balas Kyara.


Rania tersenyum lalu mengelus perut buncitnya. "Aku sudah tidak sabar menantikan bayiku lahir ke dunia." Ucap Rania. Pandangan Rania pun beralih pada Hana yang kini berdiri cukup jauh darinya. "Hana.... kemarilah." Pinta Rania yang diangguki oleh Hana.


***


Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya untuk lanjut ke bab berikutnya ya🌹