Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Pembuktian atas ucapanmu


"Tentu saja. Aku perlu pembuktian jika kau adalah pria normal." Tantang Hana tanpa takut. Yang ada dipikirannya saat ini pasti Dika tidak bisa melakukan apa pun seperti kejadian beberapa bulan lalu.


Dika menarik tipis bibirnya ke samping. "Apa kau yakin?" Tanyanya.


Hana mengangguk pasti. "Tapi sebelum itu lebih baik kau menjauhlah dari tubuhku karena aku tahu kau pasti tidak akan melakukan apa-apa." Ucap Hana menyindir.


"Kau akan menyesal telah menantangku, Hana." Wajah Dika berubah semakin dingin. Hana yang melihatnya menjadi takut.


"Apa maksud—" ucapan Hana melayang begitu saja di udara saat merasakan bibirnya telah terbungkam oleh bibir tipis Dika. Hana terbelalak. Tubuhnya seketika menegang mendapatkan perlakuan mengejutkan dari Dika.


Dika menjatuhkan bokongnya di atas sofa tanpa melepaskan pangutannya di bibir Hana.


Hana berusaha melepaskan pangutan Dika namun Dika menahan pergerakannya. Hana dibuat mati kutu. Untuk pertama kalinya ia dapat merasakan berciuman dengan seorang pria dengan benar. Terlepas dari waktu itu ia hanya sebatas mengecup bibir Dika.


Walau pun ini juga pertama kalinya untuk Dika, namun Dika terlihat sangat ahli saat mencium Hana. Penolakan Hana justru membuat Dika semakin memperdalam ciumannya. Ternyata ada untungnya juga ia ikut menonton film adegan dewasa dengan Gerry saat masih sekolah menengah atas dulu. Hingga kini ia dapat mempraktekkannya dengan benar.


Cukup lama Dika bekerja sendiri mencium bibir Hana tanpa balasan. Dika tak pantang menyerah. Kini sebelah tangannya terangkat dan menahan tengkuk Hana hingga Hana tak bisa memiliki kesempatan melepaskan pangutannya. Hana pun mulai terbuai dengan ciuman lembut yang Dika berikan. Bahkan tanpa sadar kini ia telah bekerja sama dengan Dika dengan membalas ciuman Dika.


Kedua insan manusia itu semakin terbuai dalam ciuman panas mereka. Merasa hawa tubuhnya mulai memanas, Dika segera melepaskan pangutannya agar sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi.


"Jangan menantangku atau kau akan mendapatkan hal yang lebih dari ini." Ucap Dika dengan kening yang saling menempel.


Hana tak membalas ucapan Dika. Saat ini ia benar-benar terkejut dengan perlakuan Dika yang tidak pernah ia bayangkan.


"Di-dika..." Hana tergagap. Lidahnya terasa kelu saat ingin mengumpat pria yang kini tengah menatap intens wajahnya.


Cup


Dika kembali mencium bibir Hana barang sesaat. "Aku tidak ingin mendengar umpatanmu." Ucap Dika lalu menjauhkan tubuhnya dari Hana.


Kenapa aku jadi ingin mencicipi bibirnya lebih lama. Ucap Hana dalam hati sambil menatap punggung Dika yang mulai hilang dari balik pintu dapur.


Hana memegang bibirnya yang basah karena ulah Dika. "Kenapa dia terlihat sangat lihai saat menciumku." Gumam Hana mengusap-usap bibirnya. Kehangatan bibir Dika benar-benar membuatnya mulai melayang.


Hana tak melepas jari jempolnya dari bibirnya hingga Dika kembali dari dapur. Melihat tingkah Hana, Dika tanpa sadar menarik tipis kedua sudut bibirnya.


"Makanlah." Ucapnya menyerahkan semangkok mie ke depan Hana.


Hana buru-buru melepaskan jarinya dari bibirnya. Wajahnya nampak memerah menahan malu karena Dika pasti melihat apa yang ia lakukan.


Hana tak membalas ucapan Dika. Pandnagannya kini tertuju pada mangkok Mie di depannya.


Kapan dia membuatnya? Kenapa cepat sekali? Atau aku yang terlalu lama menghayati bagaimana manis bibir Dika tadi?Hana bertanya dalam hati.


***


Hayo... seberapa banyak dukungan teman-teman untuk lanjut ke bab berikutnya?


Like


Komen


Vote


Gift dalam bentuk poin, yuk🌹🤍