Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Aku harus pergi


"Orang tuaku memintaku untuk melanjutkan pendidikan setelah aku melakukan koas di luar negeri." Suara Dika terdengar pelan.


"Koas di luar negeri?" Hana tertegun. Dika mengangguk mengiyakan ucapannya.


"Maaf aku baru bisa menyampaikannya kepadamu Hana. Karena selama ini aku masih ragu untuk menuruti keinginan kedua orang tuaku. Namun saat ini aku benar-benar harus menuruti keinginan mereka walau aku benar-benar tak ingin." Helaan nafas Dika mulai memberat.


"Di-dika..." Hana terbata.


"Aku harus pergi karna aku diminta menjaga adik laki-lakiku yang saat ini sedang kuliah di luar negeri. Orang tuaku sangat takut jika adikku terkena pergaulan bebas di negeri orang." Jelas Dika.


Apa kau akan meninggalkanku? Hana hanya bisa berucap dalam hati. Pandangannya mulai kabur saat genangan air mata mulai memenuhi pelupuk matanya.


"Jangan bersedih. Jika kau tak ingin, aku akan memilih tetap berada di sini untukmu." Dika menghapus air mata yang tanpa terasa membasahi pipi Hana.


"Apa kau pergi karna kau juga mendapatkan jaminan beasiswa di sana?" Tebak Hana. Setidaknya Hana cukup tahu tentang tawaran beasiswa yang diberikan pada Dika sejak beberapa bulan yang lalu.


Dika mengangguk. "Aku bisa saja menolak tawaran beasiswa itu." Terang Dika tak ingin Hana salah paham.


Hana menggelengkan kepalanya. "Kapan kau akan pergi?" Tanya Hana.


"Setelah acara wisuda. Namun aku masih memikirkan untuk itu. Jujur aku masih belum sanggup untuk meninggalkanmu." Dika membawa tubuh Hana ke dalam pelukannya.


Hana menangis dalam diam. Pada akhirnya semua orang akan meninggalkanku. Papa dan sebentar lagi Dika. Hana membatin. Dadanya semakin sesak saat membayangkan sebentar lagi tidak akan ada lagi sosok pria yang mewarnai hari-harinya.


"Aku menangis bahagia. Karena sebentar lagi kau akan meraih impianmu sebagai seorang dokter spesialis." Hana tersenyum. Membohongi hatinya yang saat ini terluka.


Dika terdiam. Ditatapnya lama wajah wanita yang sudah membuat hari-harinya bewarna selama tiga tahun belakangan ini. "Jangan memikirkannya jika kau akan terluka. Aku belum memberikan keputusan final pada orang tuaku." Ucap Dika tak ingin Hana menangis karna dirinya. Walau pun saat ini ia benar-benar harus mengikuti keinginan kedua orang tuanya.


*


Siang itu Hana pulang dengan perasaan kacau balau. Wajahnya nampak lesu. Begitu banyak hal yang memenuhi pemikirannya saat ini.


Ceklek


"Kenapa pintunya tidak dikunci?" Wajah Hana berubah cemas saat pintu rumahnya berhasil ia buka. Hana pun buru-buru melangkah masuk ke dalam rumah. Saat hendak membuka pintu kamar Mamanya, pergerakan Hana terhenti saat mendengar suara tangisan Mamanya yang terdengar menyayat hati.


"Kenapa Papa tega meninggalkan Mama? Apa salah Mama selama ini? Apa kurangnya Mama menjadi istri Papa? Mama selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk Papa, tapi kenapa pada akhirnya Papa tetap memilih untuk pergi..." Mama Rita mengusap foto pernikahannya yang kini ada di pangkuannya. Air matanya nampak berjatuhan membasahi bingkai foto.


Hana melepas pegangannya di ganggang pintu. Nafasnya kian memberat. Ia kira Mamanya sudah baik-baik saja beberapa hari ini, namun ternyata dugaannya salah.


"Mama..." lirih Hana mengusap pipinya yang tiba-tiba basah. "Jika kami tetap berada di rumah ini, Mama akan sulit melupakan kenangannya bersama Papa." Hana menatap keseliling rumahnya yang bisa ia jangkau.


***


Lanjut? Berikan vote, gift dan komennya dulu yuk🌹