
"Hana menurutlah, ini semua demi kebaikanmu." Ucap Amel membantu Dika menghadapi sikap keras kepala Hana.
Hana mengangguk lemah di dalam gendongan Dika, lagi pula saat ini kepalanya sudah sangat sakit dan tak mampu lagi membalas ucapan Dika dan Amel.
Dika pun segera melangkah masuk ke dalam rumah sakit diikuti oleh Amel. Setelah melakukan pendaftaran di bagian administrasi, Dika mendudukkan Hana di kursi tunggu sambil menunggu nama Hana dipanggil untuk pemeriksaan.
"Huh, sakit sekali..." lirih Hana memegang kepalanya.
Wajah Amel semakin cemas. "Sabarlah, Hana. Sebentar lagi kau akan diperiksa." Ucap Amel sambil mengelus pundak Hana.
Tak lama menunggu, seorang perawat pun memanggil nama Hana untuk diperiksa.
Dika pun segera bangkit dari duduknya lalu kembali menggendong tubuh Hana. "Dika..." Hana yang hendak protes dengan sikap Dika mengurungkan niatnya saat melihat tatapan tajam Dika.
Setelah masuk ke dalam ruangan pemeriksaan, Hana pun langsung ditangani oleh Dokter.
"Demamnya cukup tinggi." Ucap Dokter saat memeriksa suhu tubuh Hana.
"Apakah harus dirawat dokter?" tanya Amel.
"Untuk saat ini tidak perlu dirawat. Saya akan memberikan obat penurun panas untuk Nona Hana. Namun jika demamnya tidak kunjung turun, mohon untuk membawa Nona Hana kembali untuk pemeriksaan lebih lanjut." Terang Dokter.
"Jangan menggendongku lagi!" Titah Hana saat Dika hendak membantunya turun dari atas brankar.
Dika menulikan telinganya dan tetap menggendong tubuh Hana lalu mendudukkannya di kursi yang berhadapan dengan dokter.
"Kekasih anda sungguh perhatian sekali ya, Nona." Goda dokter pada Hana.
Wajah pucat Hana nampak memerah. Pandangannya beralih menatap Dika dengan tatapan sebal.
"Ya. Mereka memang pasangan yang romantis, Dokter." Timpal Amel dengan senyuman menggoda.
"Kau..." Hana menggeram. Percuma saja ia membalas ucapan Amel sebab sahabatnya itu pasti semakin menggodanya.
Setelah mendapatkan resep obat dari dokter yang memeriksa Hana, mereka pun keluar dari ruangan pemeriksaan.
"Kau yakin bisa berjalan sendiri?" Tanya Amel.
Hana mengangguk. "Kakiku masih berfungsi dengan baik." Balas Hana.
Tak ingin berdebat dengan Hana, Amel pun memberi kode pada Dika untuk membiarkan Hana berjalan sendiri. Untung saja Dika mau menurutinya. Namun baru beberapa langkah berjalan, tubuh Hana sudah mulai goyang.
"Jangan lagi menjadi wanita keras kepala!" Ucap Dika lalu menggendong tubuh Hana tanpa memperdulikan banyak mata yang kini menatap terkejut dengan sikapnya.
"Aku akan berteriak!" Ancam Hana merasa malu dengan tingkah Dika.
"Berteriaklah maka aku akan menciummu." Dika balik mengancam.
Hana dibuat terdiam. Ia tidak bisa menyepelekan ucapan pria dingin yang tengah menggendongnya saat ini. Untuk menyembunyikan rasa malunya, Hana pun menelusupkan wajahnya di dada bidang Dika hingga tak ada yang dapat melihat wajahnya.
Entah mengapa aku merasa menjadi obat nyamuk saat ini. Gerutu Amel dalam hati sambil terus menatap Dika dan Hana yang berada digendongan Dika.
"Apa kau ingin diantarkan pulang?" Tanya Dika setelah mendudukkan tubuh Hana di kursi belakang.
"Tentu saja. Memangnya kemana lagi aku akan pulang." Balas Hana merasa sebal.
"Kau bisa pulang ke apartemenku jika kau ingin." Balas Dika dengan wajah datarnya.
"Aku tidak berminat." Balas Hana.
Dika menganggukkan kepalanya lalu mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil.
"Kalian ini benar-benar tak menganggapku ada, ya?" Sembur Amel yang sudah sangat sebal dianggap tidak ada sejak tadi.
***
Ayo berika vote dan komennya dulu yuk untuk lanjut ke bab berikutnyaš¤