
"Mulai besok hingga seterusnya aku akan mengantarkanmu pergi bekerja." Ucap Dika malam itu yang membuat Hana terkejut mendengarnya.
"Kenapa kau ingin mengantarkanku pergi bekerja?" Tanya Hana. Membalikkan tubuhnya pada Dika hingga tatapan mata mereka kini beradu.
"Karena kau adalah istriku." Balas Dika singkat.
Hana terdiam beberapa saat. "Tapi bagaimana jika orang-orang di rumah sakit bertanya-tanya tentang hubungan kita karena kau terus mengantarkanku?" Hana mengungkapkan isi pemikirannya.
"Kau tinggal menjawab jika kau adalah istriku." Balas Dika.
"Apa?" Hana tertegun. Ia tidak menyangka Dika akan berkata seperti itu. Terlebih apa yang nanti akan diucapkannya pasti membuat staff di rumah sakit tempat ia bekerja merasa terkejut dan mungkin tidak percaya.
"Jangan terlalu banyak berpikir dan lakukan apa yang aku perintahkan!" Tekan Dika. Wajahnya berubah dingin menatap Hana.
Hana mengangguk saja. Lagi pula tidak ada gunanya ia melawan ucapan suaminya. Resiko untuk ke depannya biarlah ia tanggung sendiri nantinya.
"Baiklah. Terserah kau saja." Ucap Hana kemudian. Hana hendak kembali membelakangi Dika namun cekalan tangan Dika di tangannya menghentikan niatnya. "Ada apa lagi?" Tanya Hana.
"Siapa yang mengizinkanmu tidur membelakangiku?" Tanya Dika.
"Tidak ada. Tapi bukankah biasanya kita tidur seperti ini?" Tanya Hana kembali.
"Tidak. Dan mulai saat ini kau dilarang tidur membelakangiku!" Perintah Dika.
"Tapi—" ucapan Hana terputus karena Dika sudah lebih dulu menghimpit tubuhnya. "Di-dika. Kau ma-u apa?" Tanya Hana tergagap.
"Aku menginginkanmu." Ucap Dika lalu tanpa aba-aba membenamkan bibirnya di bibir Hana. Walau pun terkejut dengan tindakan Dika, namun Hana tetap membalas ciuman Dika hingga ciuman lembut itu kian memanas.
"Dika..." pekik Hana saat Dika membalikkan posisi mereka hingga kini Hana berada di atas tubuh Dika.
"Puaskan aku malam ini!" Perintah Dika dengan suara seraknya menahan has-ratnya yang sudah naik ke ubun-ubun.
Hana mengangguk lalu dengan cepat melakukan apa yang Dika perintahkan tanpa memperdulikan rasa malunya.
Dika... jangan salahkan aku jika sebentar lagi kau akan memiliki seorang anak dariku. Batin Hana disela kegiatan panas mereka.
*
Bulir-bulir keringat nampak membasahi wajah dan tubuh Hana setelah percintaan mereka yang berlangsung cukup lama. Dika menatap intens wajah cantik Hana yang kini tengah terlelap di pelukannya. Jemarinya mulai bekerja mengelap bulir keringat yang masih menggenangi pelipis Hana.
Dika sangat paham bagaimana saat ini istrinya itu sangat lelah setelah menjadi pemimpin percintaan mereka. Senyuman tipis tersemat di bibir Dika mengingat bagaimana agresifnya Hana saat memimpin percintaan mereka. Namun senyuman itu lenyap begitu saja saat ingatannya tiba-tiba tertuju pada kejadian tadi siang yang membuat darahnya mendidih.
"Kau adalah milikku. Dan tidak ada satu pria pun yang berhak menyentuhmu selain diriku!" Geram Dika mengingat sikap Arka yang memegang tangan Hana saat berada di parkiran. Walau Dika dapat melihat Hana menolak pegangan Arka, namun tetap saja emosinya dibuat naik melihat wajah Hana yang tetap tersenyum saat menolaknya.
"Pria itu harus tahu dia sedang berhadapan dengan siapa." Geram Dika.
***
Lanjut? berikan vote, like dan komennya dulu yuk☺️
Jangan lupa follow IG SHy ya : @shy1210_ untuk mengetahui jadwal update☺️