
Hana menolehkan wajahnya ke belakang. Wajahnya berubah pucat saat melihat tatapan mata Dika yang kini nampak berbeda di penglihatannya. "Di-dika, ada apa?" Hana sedikit tergagap.
"Kenapa kau keluar tidak memakai baju? Apa kau sengaja menggodaku?" Tanya Dika. Wajahnya masih datar dan kaku.
"Ti-tidak. Aku melupakan membawa baju ke dalam kamar mandi."
"Alasan saja." Cetusnya. Pandangannya pun mulai turun menjelajahi tiap inci tubuh Hana yang terlihat oleh matanya. Melihat pandangan Dika membuat Hana gugup dan sontak menutup kedua dadanya dengan tangannya.
"Apa yang ingin kau tutupi?" Tanya Dika dengan tatapan tertuju pada dada Hana.
Hana tak menjawab. Lidahnya terasa kelu untuk berucap. Tak mendapat jawaban dari Hana membuat Dika perlahan menegakkan tubuh Hana dengan memegang kedua bahu Hana.
"Di-dika. Ka-kau mau apa?" Hana hendak memundurkan tubuhnya saat Dika semakin mendekatkan tubuh mereka. Pergerakannya terhenti saat tangan Dika meraih pinggangnya dan menarik tubuhnya hingga menempel dengan tubuh Dika. "Di-dika..." Hana semakin gugup denga posisi seintim ini.
Sebelah tangan Dika perlahan terangkat dan mengelus sebelah pipi Hana. "Kau sengaja menggodaku bukan?" Tanya Dika dengan suara yang berubah serak.
Hana dengan cepat menggeleng. "Sudah aku katakan aku tidak berniat menggodamu."
"Apa kau serius?" Dika mendekatkan wajahnya hingga Hana sontak memejamkan kedua matanya. "Aku rasa kau memang sengaja menggodaku." Dika menghembuskan nafasnya di wajah Hana hingga indera penciuman Hana terisi aroma mint dari mulut Dika.
Hana perlahan membuka kedua kelopak matanya hingga kini tatapannya dan Dika beradu. "Aku tidak ingin menggodamu, Dika. Lagi pula kau tidak mungkin tergoda denganku bukan?" Hana menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat merasa ia salah berbicara.
"Siapa bilang aku tidak tergoda?" Dika semakin mendekatkan wajahnya. "Aku ini masih pria normal, Hana." Ucap Dika dengan pelan.
"A-apa?" Hana memicingkan matanya. "Kau pasti bercan—" ucapan Hana melayang di udara saat merasakan sesuatu yang kenyal menempel di bibir mungilnya.
Dika menciumku? Batinnya sambil memejamkan kedua matanya. Seolah rindunya akhirnya terbayar sudah, Hana pun dengan refleks membalas ciuman Dika yang dulunya selalu membuatnya melayang.
Mendapatkan respon dari Hana membuat Dika semakin memperdalam ciuman mereka hingga ciuman lembut itu pun berubah memanas. Cukup lama Hana dan Dika terlibat dalam ciuman panas yang meraka ciptakan hingga Dika melepas pangutannya saat merasa Hana kesulitan bernafas.
"Kenapa kau menciumku?" Tanya Hana dengan wajah tertunduk.
Dika mengangkat dagu Hana hingga kini tatapan mereka pun beradu. "Karena aku menginginkannya." Balas Dika kemudian.
"A-apa?" Hana tergagap.
Dika tak lagi merespon ucapan Hana dan kembali memangut bibir mungil yang dulunya sering menciumnya secara tiba-tiba. Tangannya pun mulai bekerja memberikan elusan di pinggang Hana hingga membuat darah Hana berdesir hebat.
"Aku menginginkanmu malam ini." Ucap Dika setelah melepaskan pangutannya untuk yang kedua kalinya.
"Dika... kau jangan bercanda." Hana hampir saja menangis mendengar ucapan Dika yang tengah meminta haknya kepadanya.
"Aku tidak pernah bercanda dalam hal seperti ini. Lagi pula tubuhmu ini milikku dan aku menginginkannya sepenuhnya malam ini." Ucapnya dengan tegas.
"Tapi..." Ucapan Hana kembali terbuang begitu saja saat Dika kembali memangut indah bibirnya.
***