Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Tidak bisa diam


"Kau mau apa?" Tanya Hana dengan gugup.


"Apa kau ingin tidur dengan menggunakan jas kerjamu?" Tanya Dika dengan datar.


Hana menurunkan pandangan ke bawah hingga ia menyadari jika ia tertidur tanpa melepas jas kerjanya sangking lelahnya. Tanpa berkata Hana pun bangkit untuk melepas jas Dokternya.


"Bersihkan tubuhmu. Aku tidak ingin tidur dengan wanita yang belum mandi sepertimu." Cetus Dika.


"Baiklah." Balas Hana. Hana mengikat rambutnya yang tergerai hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang putih bersih.


Dika buru-buru mengalihkan pandangannya dari leher Hana saat Hana membalikkan tubuh ke arahnya.


"Apa kau sudah mandi?" Tanya Hana.


Dika hanya mengangguk lalu menjatuhkan bokongnya di sisi ranjang.


Tak ingin terlalu banyak bertanya pada Dika, Hana memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Huh, lagi-lagi aku harus mempersiapkan jantungku untuk tetap berada di posisinya karena akan tidur berdampingan dengan Dika." Gumam Hana saat sudah berada di dalam kamar mandi.


*


Setengah jam membersihkan tubuhnya, Hana keluar dari dalam kamar mandi sudah lengkah dengan pakaian tidur yang melekat di tubuhnya. Hana memperhatikan Dika yang kini tengah sibuk mengetikkan sesuatu di layar laptopnya.


"Besok kita akan pindah ke rumahku." Ucap Dika tiba-tiba hingga membuat langkah Hana terhenti.


"Pindah ke rumahmu?" Tanya Hana dengan bingung.


"Bukan rumah kedua orang tuaku atau pun apartemen." Jelas Dika.


"Jangan terlalu banyak bertanya. Ikuti saja aku besok." Ucap Dika menatap Hana tajam.


Hana menundukkan pandangannya lalu mengangguk. Kenapa dia pemarah sekali. Ucap Hana dalam hati merasa sedih. Hana pun kembali melangkah ke arah lemarinya untuk mengambil selimut baru untuk tidur.


"Tubuhku lelah dan mataku masih sangat mengantuk walau aku sudah mandi." Gumam Hana setelah menjtuhkan bokongnya di sisi ranjang. Hana meraih ponselnya yang ada di atas nakas sekedar melihat pesan masuk yang mungkin penting. Saat merasa tidak ada satu pun pesan yang menurutnya harus dibalas, Hana pun kembali mematikan layar ponselnya.


"Untung saja besok aku tidak bekerja." Gumam Hana sambil menutup mulutnya yang ingin menguap. Hana membaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu menarik selimut menutupi tubuhnya. Sebelum kembali menutup mata, Hana meliril sebentar ke arah Dika yang nampak kembali fokus pada laptop di pangkuannya.


Selamat tidur Dika, semoga nanti tidurmu tidak membuat jantungku bertindak gegabah ingin keluar dari tempatnya. Ucap Hana dalam hati.


*


Malam semakin larut. Dika yang sudah merasa lelah menatap layar laptonya dan sudah mengangtuk pun mematikan layar laptopnya. Setelah meletakkan laptopnya di atas meja, Dika berjalan ke arah ranjang. Pandangannya terjatuh pada sosok wanita yang kini tengah tertidur pulas.


Dika menghentikan langkahnya saat sudah berada di dekat ranjang. Memperhatikan cukup lama wajah wanita yang sudah mengkhianati hubungan kasih mereka dengan tatapan tak terbaca. Dika mengalihkan tatapannya saat Hana bergerak dalam tidurnya.


Dika pun segera naik ke atas ranjang lalu membaringkan tubuhnya di samping Hana. Ukuran ranjang Hana yang cukup kecil memang selalu berhasil mengikis jarak di antara mereka.


"Apa dia tidak bisa tidur dengan tenang." Gumam Dika saat tubuh Hana semakin dekat ke arahnya. Dika berniat ingin menjauhkan tubuh Hana dari sisinya namun niat itu ia urungkan saat melihat guratan lelah di wajah Hana belum hilang sepenuhnya.


Aku memaafkan kebodohanmu saat ini. Ucap Dika dalam hati.


***


Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya untuk lanjut ke bab berikutnya ya🌹