Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Dia pasti cemburu


"Gerry... Kyara..." Hana memberikan sapaan pada Gerry dan Kyara yang kini berdiri di depannya.


"Hana... apa kau tahu bagaimana keadaan Rania?" Kyara nampak cemas.


Hana mengangguk. "Saat ini Rania sedang melakukan persalinan karna bayinya sudah siap untuk lahir." Terang Hana.


"Agh baiklah. Kalau begitu aku pamit ingin ke ruangan persalinan Rania." Ucap Kyara lalu segera berjalan meninggalkan Gerry dan Dika.


"Hana, apa pria ini adalah temanmu?" Tanya Gerry memasang wajah ramah pada Arka.


Hana mengangguk. "Kak Arka adalah temanku sekaligus dokter di rumah sakit ini." Terang Hana.


"Oh..." walau pun bingung karena untuk pertama kalinya ia melihat Hana bersama seorang pria, namun Gerry memilih mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut.


"Apa kau masih ingin tetap di sini atau melihat keadaan Rania?" Tegur Dika.


Gerry menolehkan wajahnya ke samping. Menatap wajah Dika yang kini nampak tak bersahabat. "Hana, kalau begitu aku pamit dulu. Kau bisa menyusulku setelah urusanmu selesai bukan?" Tanya Gerry.


Hana mengangguk. "Aku akan menyusul sebentar lagi." Balasnya lembut.


Dika berjalan lebih dulu meninggalkan Gerry yang masih berbicara dengan Hana. "Jangan terlalu lama, kau lihat wajah suamimu sepertinya sedang tidak bersahabat." Bisik Gerry sangat pelan agar tak terdengar oleh Arka.


"Baiklah." Walau tidak mendengar terlalu jelas ucapan Gerry, namun Hana mengangguk saja.


Gerry kemudian berpamitan pada Arka lalu mengejar langkah Dika.


Aku pastikan jika kulkas itu sedang cemburu saat ini. Ucap Gerry dalam hati sambil tersenyum menyeringai.


"Hana, apa mereka tadi temanmu?" Tanya Arka pada Hana yang masih menatap punggung Dika yang mulai lenyap dari pandangannya.


Hana menolehkan wajahnya ke samping. "Ya, mereka adalah temanku." Balas Hana.


Arka mengangguk paham. "Kalau begitu aku pergi dulu. Jangan lupa membalas pesanku nantinya." Ucap Arka.


Hana mengangguk. "Aku akan membalas pesan yang kau kirimkan nantinya Kak." Balas Hana.


Setelah mendapatkan balasan dari Hana, Arka pun segera melangkah meninggalkan lobby rumah sakit. Sedangkan Hana memilih untuk ke ruangannya lebih dulu sebelum menyusul Kyara ke ruangan persalinan Rania.


*


"Rania, maaf aku terlambat melihatmu." Hana menatap Rania dengan sungkan.


Rania tersenyum lemah. "Tak masalah. Aku tahu kau pasti sibuk bekerja." Balas Rania dengan lembut.


Hana tersenyum. Pandangannya beralih pada bayi mungil yang kini tengah tertidur digendongan Kyara.


"Hai cantik... kau sangat mirip dengan Mommymu." Hana mengelus pipi lembut bayi perempuan Rania.


"Tentu saja." Timpal Rania dengan nada pelan.


Hana tersenyum begitu pula dengan Kyara. Kyara pun mengulurkan bayi Rania pada Hana. "Ambillah. Kau pasti ingin menggendongnya bukan?" Tanya Kyara yang diangguki Hana.


"Apa kau sudah memberikan nama untuk bayimu Rania?" Tanya Hana sambil menatap wajah putri Rania yang kini sudah berada digendongannya.


"Sudah, namun aku akan mengumumkan nama bayi kami pada acara syukurannya nantinya." Jelas Rania.


Hana mengangguk paham.


"Hana... mendekatlah." Pinta Rania.


Hana melakukannya. William yang berada di samping Rania pun sontak memundurkan tubuhnya untuk memberi ruang pada Hana.


"Hana... apa kau menyukai bayiku?" Tanya Rania dengan lembut.


"Tentu saja aku menyukainya." Balas Hana sambil tersenyum.


Rania ikut tersenyum. "Hana... aku harap sebentar lagi kau akan menyusulku dan Kyara memiliki seorang bayi." Ucap Rania sambil mengelus perut Hana dengan sebelah tangannya.


***


Lanjut? Ayuk berikan vote, gift dan komennya dulu🄰