
"Kenapa wajahmu terlihat senang sekali?" Tanya Amel saat Hana mendaratkan bokongnya di kursi sebelahnya.
"Tentu saja aku senang. Karena aku baru saja mendapatkan kenangan dari Dika." Ucap Hana tanpa sadar.
"Apa?!" Pekik Amel.
Mendengar pekikan Amel, Hana pun tersadar dari keceplosannya.
"Kau mendapatkan kenangan dari Dik— em...." Amel tak lagi melanjutkan ucapannya sebab Hana sudah menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Diamlah baru aku melepas tanganku!" Ucap Hana dengan tatapan tajamnya.
Amel menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Kau bilang apa tadi?" Bisik Amel saat tangan Hana sudah terlepas dari bibirnya.
"Aku tidak mengatakan apa-apa." Kilah Hana.
Lidah Amel berdecak. "Kau jangan berbohong. Jelas-jelas aku mendengarmu menyebutkan kenangan dari Dika." Ucap Amel masih berbisik.
Hana menatap ke sekitarnya dimana teman-teman wanitanya kini menatap intens kepadanya. "Aku akan mengatakannya nanti." Ucap Hana dengan mata melirik ke arah samping seolah memberi kode pada Amel.
Amel mengangguk paham dan tak lagi berbicara. Namun di benaknya saat ini bertanya-tanya kenangan apa yang diberikan Dika pada Hana. Karena Amel mendengar dengan jelas ucapan Hana walau Hana tak menyadarinya.
*
"Oh astaga... jadi kau dan Dika sudah—" Amel menggeleng tak percaya atas apa yang didengarnya.
"Ya begitulah. Aku tidak menyangka jika Dika melakukan itu padaku." Wajah Hana nampak memerah. Mengingat apa yang mereka lakukan di apartemen Dika dua hari yang lalu benar-benar membuatnya salah tingkah.
"Lagi pula kau itu berani sekali menantangnya." Cetus Amel.
Hana tertawa. "Aku hanya mengetes kenormalannya. Dan setelah itu aku sudah mendapatkan jawabannya."
"Jadi bagaimana rasanya? Apa ciuman Dika sangat nikmat?" Tanya Amel penasaran.
"Ciumannya sungguh mematikan." Wajah Hana semakin memerah saat membayangkan nikmatnya ciuman Dika.
"Jangan bilang saat ini kau sudah memakan ucapanmu sendiri?" Cibir Amel.
Kening Hana mengkerut. "Apa maksudmu?" Tanyanya.
"Kau dari dulu selalu mengatainya yang tidak-tidak bahkan kau berkata tidak sudi jika menyukainya." Ucap Amel mengingatkan Hana.
Hana dibuat terdiam. Memang benar dulu ia pernah mengatakannya. Namun saat merasakan perhatian Dika kepadanya, entah mengapa pendiriannya dulu lenyap begitu saja.
"Sudahlah. Aku sudah tahu jawabannya." Ucap Amel yang dapat menangkap maksud dari raut wajah Hana.
"Apa maksudmu?" Tanya Hana.
"Aku tahun kau sudah mulai tertarik pada Dika kan? Lagi pula itu wajar. Siapa yang tidak menyukai pria seperti Dika? Apa lagi Dika memberikan perhatian yang menurutku tidak wajar kepadamu, kau pasti terbawa perasaan dengan perhatiannya." Balas Amel.
"Aku tidak seperti yang kau katakan." Hana masih saja berupaya membohongi hatinya.
"Ck. Kau ini terlalu naif, Hana. Lebih baik kau jujur dengan perasaanmu dan melanjutkan sandiwaramu menjadi kenyataan."
"Apa maksudmu?" Hana kembali bertanya.
"Hana... kau ini terlalu lamban jika tentang cinta." Amel dibuat menggeleng melihat sikap sahabatnya.
"Lagi pula kau itu tidak bisa berbicara dengan jelas!" Sembur Hana.
Lidah Amel berdecak. Amel pun menghela nafas sesaat sebelum menjawab pertanyaan Hana.
"Maksudku, lebih baik kau dan Dika pacaran sungguhan saja. Lagi pula orang-orang sudah mengira kalian adalah sepasang kekasih."
"Kau jangan berbicara sembarang Amel." Hana dibuat tak habis pikir dengan saran sahabatnya.
"Aku hanya memberi saran. Dari pada suatu saat nanti kau menyesal saat Dika mengakui kalian bukanlah sepasang kekasih dan Dika sudah mendapatkan pasangan untuknya. Lebih baik saat ini kau bertindak cepat karena aku juga melihat Dika sudah memiliki ketertarikan kepadamu."
***
Lanjut? Mohon beri dukungan untuk karya SHy dengan cara like, komen dan votenya ya agar Shy lebih semangat lanjutin ceritanya😌