Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Berhenti sebelum berjuang


Deg


Detak jantung Hana berhenti berdetak saat mendengar ucapan Liza. Hana memperhatikan ekspresi Dika yang terlihat biasa saja mendengar ucapan Liza. Seolah ucapan itu tidak berpengaruh apapun padanya.


"Apa kau tahu, Dika, kedua orang tuaku tadi pagi menanyakan keadaanmu saat mereka tahu jika kau adalah teman satu jurusanku di kampus. Dan mereka juga menitipkan salam kepadamu dan untuk Om dan Tante."


Dika menarik bibirnya ke samping. "Sampaikan kembali salamku kepada Om dan Tante. Aku akan menyampaikan salam mereka kepada kedua orang tuaku nantinya." Balas Dika.


Liza melebarkan senyumannya. Kesempatan untuk berbicara panjang lebar kini sudah ada di depan matanya. "Mama dan Papa juga mengharapkan kau datang ke rumah bersama Om dan Tante." Ucap Liza lagi.


Dika terdiam.


"Tapi jika kau tidak ada waktu tak masalah." Lanjut Liza kemudian.


"Aku akan mengusahakan untuk datang. Tapi aku tidak janji." Balas Dika.


Senyum di bibir Liza semakin terkembang. "Terimakasih, Dika." Tanpa diduga Liza menggenggam tangan Dika.


Hana tertunduk. Dadanya mulai sesak melihat adegan di depan matanya. Moodnya yang sangat baik sejak bangun tidur lenyap begitu saja.


Sedangkan Dika buru-buru melepas genggaman tangan Liza


"Maaf." Ucap Liza menyadari kesalahannya.


Dika hanya diam namun tatapannya berubah dingin.


Kedatangan teman-teman mereka pun menghentikan percakapan Liza dan Dika.


"Kalau begitu aku kembali ke kursiku dulu." Pamit Liza yang diangguki oleh Dika.


Setelah kepergian Liza, Dika menoleh ke belakang. Wajah Hana yang tertunduk membuatnya tidak bisa membaca ekspresi wanita itu saat ini. Namun Dika yakin jika Hana dapat melihat apa yang Liza lakukan tadi. Helaan nafas Dika terdengar kasar. Entah mengapa melihat Hana membuatnya merasa bersalah.


"Hana, kenapa dengan wajahmu?" Tanya Amel melihat wajah Hana yang nampak sendu.


Amel menggelengkan kepalanya. "Kau tidak oke, Hana." Tekan Amel.


"Sudahlah. Lebih baik kau duduk karena dosen kita sudah mau masuk." Ucap Hana lalu mengarahkan pandangan pada dosen mereka yang kini sudah masuk ke dalam kelas.


Mau tak mau Amel pun menuruti perkataan Hana. Walau di dalam hatinya kini menebak-nebak ada apa dengan sahabatnya itu.


*


Dua jam berlalu, jam perkuliahan pun selesai. Hana dengan buru-buru keluar dari dalam kelasnya diikuti Amel.


"Kita ke taman saja, ya." Pinta Hana saat mereka sudah keluar dari dalam kelas.


Amel mengangguk menyetujui. Walau pun perutnya sangat lapar saat ini, namun melihat raut kesedihan Hana membuatnya tak bisa menolak ajakan Hana.


"Amel, aku memutuskan untuk membatalkan niatku untu mengejar Dika." Ucap Hana saat baru saja mendaratkan bokongnya di kursi taman.


"Kenapa?" Kening Amel mengkerut.


"Entahlah. Namun aku merasa perjuanganku akan berujung sia-sia. Aku juga tidak ingin galau jika cintaku nantinya bertepuk sebelah tangan. Sebelum berjuang, lebih baik aku menghentikannya." terang Hana.


Kening Amel semakin mengkerut dalam. "Hana, kau ini kenapa? Atas dasar apa kau membatalkan niatmu? Kau dan Dika itu memiliki ketertarikan satu sama lain dan aku yakin itu. Baru kemarin kau mengatakan ingin mencoba mendekati Dika dan mendapatkan hatinya, kenapa sekarang kau dengan mudahnya berubah pikiran?"


Hana menggelengkan kepalanya. "Dia tidak tertarik kepadaku." Balas Hana. Tak ingin pembicaraan mereka semakin panjang, Hana pun menceritakan apa yang didengarnya tadi pagi dan keakraban Dika dan Liza yang tidak seperti biasanya.


***


Lanjut?


Mohon berikan dukungan untuk karya shy dengan cara like, komen dan votenya. Teman-teman juga bisa memberi gift dalam bentuk poin🥰


Semakin banyak dukungannya, shy semakin semangat melanjutkan ceritanya. Hehe☺️