
"Apa?! Jadi dua orang pegawai di rumah sakit ini berniat mencelakai menantu dan cucu-cucu Mama?!" Wajah Mama Puspa semakin berang setelah mendengarkan penjelasan dari Dika.
Dika mengangguk mengiyakan.
"Berani sekali mereka berniat buruk pada menantu dan calon cucu Mama!" Kedua tangan Mama Puspa terkepal erat.
"Mama tenanglah... Hana sudah baik-baik saja." Ucap Hana berupaya menenangkan mertuanya yang nampak tidak bersahabat.
"Mama tidak bisa tenang, Hana. Kau dan cucu-cucu Mama dibuat celaka oleh kedua wanita itu! Mama harus memberi pelajaran pada mereka!" Amuk Mama Puspa.
"Mama jangan bertindak gegabah." Ucap Dika yang sudah paham bagaimana sikap Mamanya.
Mama Puspa menulikan telinganya. "Hana sayang... Mama keluar sebentar san akan kembali." Ucap Mama Puspa seraya mengelus rambut Mama Puspa.
"Mama ingin kemana?" Dika menahan pergelangan tangan Mamanya.
"Mama ingin memberikan pelajaran pada kedua wanita itu. Kau terlalu lama bertindak hingga menantu dan cucu-cucu Mama yang menjadi taruhannya!" Mama Puspa melepas tangan Dika yang memegang tangannya lalu melangkah lebar keluar dari ruangan pemeriksaan.
"Sayang... Mama ingin kemana?" Wajah Hana nampak bingung memikirkan apa yang ingin dilakukan mertuanya.
"Mama pasti ingin memberikan pembalasan pada dua wanita yang telah menyakitimu." Ucap Dika dan diakhiri hembusan nafas kasar di udara.
"Pembalasan seperti apa?" Tanya Hana.
"Jangan terlalu banyak berpikir... tunggulah sebentar di sini. Aku ingin menyusul Mama sebentar." Tutur Dika dengan lembut.
"Tapi..."
"Aku janji tidak akan lama." Ucap Dika.
"Baiklah." Balas Hana.
"Aw..." suara ringisan dua orang wanita terdengar cukup keras saat Dika sudah berada di depan ruangan khusus Gia dan Yuni.
"Mama..." saat masuk ke dalam ruanga wajah Dika berubah tegang melihat Mamanya yang kini tengah menjambak rambut Gia dan Yuni.
"Beraninya kalian berniat mencelakai menantu dan calon cucuku!" Amuk Mama Puspa semakin mencengkram erat rambut Gia dan Yuni.
"Nyonya hentikan!" Gia berupaya menahan tangan Mama Puspa yang terus menarik rambutnya. Namun sayang tenaganya kalah kuat dengan tenaga Mama Puspa yang sudah diliputi rasa amarah padanya.
"Nyonya lepaskan! Ini sungguh sakit!" Yuni pun tak kalah berupaya melepaskan tangan Mama Puspa di rambutnya.
"Mama!" Suara Dika yang terdengar cukup keras tak membuat Mama Puspa menghentikan pergerakannya.
"Ayo nyonya hajar terus!" Ucap Fitri menyemangati Mama Puspa dengan wajah geramnya. Sedangkan Arka hanya diam sambil menatap aksi Mama Puspa di depannya.
"Mama..." Dika menarik tubuh Mama Puspa saat sudah berada di dekatnya.
"Jangan halangi Mama, Dika!" Hardik Mama Puspa menatap berang pada Dika.
"Dokter Dika, Ibu anda sungguh keterlaluan tiba-tiba datang dan menjambak rambut kami!" Protes Gia yang sudah emosi mendapatkan perlakuan tak mengenakkan dari Mama Puspa.
"Kau bilang apa? Saya keterlaluan?!" Mama Puspa pun kembali menjambak rambut Gia. "Kau yang keterlaluan karena berniat mencelakai menantu dan cucuku!" Bentak Mama Puspa.
"Aw... menantu dan cucu apa yang nyonya maksud?" Tanya Gia disela ringisannya.
***
Lanjut? Berikan vote dan hadiahnya di hari senin dulu yuk🤗