
"Mom jangan percaya pada apa yang Mom lihat saja. Mom harus percaya pada apa yang Daddy ucapkan juga karena Cilla yakin Daddy sangat menyayangi kita." Ucap Cilla.
"Cilla..." Bianca tak dapat membendung air matanya mendengar ucapan bijak putri kecilnya.
"Mom percayalah pada Daddy. Daddy sangat menyayangi kita." Ucap Cilla lagi dengan mata yang sudah tergenang.
Bianca mengangguk lalu merentangkan kedua tangannya pada Cilla.
"Mom jangan bersedih lagi." Ucap Cilla setelah masuk ke dalam pelukan Bianca.
Bianca mengangguk sambil mengusap rambut Cilla. "Maafkan Mom yang sudah membuatmu ikut bersedih." Sesal Bianca.
Cilla mengangguk lalu mengeratkan pelukannya di tubuh Bianca walau terhalang perut buncit Bianca.
"Mom jangan bersedih lagi karena adik di dalam perut Mom juga akan ikut bersedih." Ucap Cilla kemudian.
"Mom tidak akan bersedih lagi, Sayang." Balas Bianca.
Cilla melerai pelukannya di tubuh Bianca. "Kalau begitu Cilla keluar dulu karena Cilla akan membuat tugas di sekolah baru bersama Nany." Pamit Cilla.
"Apa pekerjaan rumahnya banyak?" Tanya Bianca.
Cilla menggeleng. "Cilla bisa mengerjakannya bersama Nany saja Mom." Ucap Cilla tak ingin Bianca membantunya.
Bianca menghela nafas lalu mengangguk. "Baiklah. Jika ada yang perlu ditanyakan datang saja ke kamar Mommy." Ucap Bianca dan Cilla mengangguk sebagai jawaban.
Setelah pintu kamar tertutup dari luar, Bianca pun merebahkan kembali tubuhnya di atas ranjang. "Apa karena efek kehamilanku yang sudah besar membuatku selalu berpikiran berlebihan pada Calvin? Padahal aku dapat merasakan dengan jelas kasih sayang Calvin kepada aku dan Cilla." Gumam Bianca mulai merasa bersalah.
*
"Jadi Bianca masih bersikap dingin kepadamu?" Tanya Gerry setelah selesai membicarakan masalah pekerjaan pada Calvin dan Dika yang kini berada di perusahaannya. Sedang William tidak ikut serta karena harus menjaga Rania dan Baby Flo yang sedang sakit di rumah mereka.
Calvin mengangguk membenarkan. "Wanita itu masih saja mengirimkan pesan kepadanya yang membuat Bianca selalu berpikiran negatif kepadaku." Balas Calvin.
Calvin mengangguk membenarkan. "Efek kehamilan membuatnya berpikiran lebih dangkal dibandingkan biasanya."
Hembusan nafas Dika terdengar kasar di udara. Apa yang dirasakan Calvin saat ini hampir sama persis dengan apa yang dirasakannya saat salah paham dengan Hana.
"Kau hanya perlu mencari waktu yang tepat untuk meluruskan kesalahpahaman diantara kalian." Saran Dika.
Calvin mengangguk paham. "Sayangnya Bianca belum mau diajak membahas permasalahan diantara kami sejak kami berada di Indonesia." terang Calvin.
"Dia hanya butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya agar tidak berefek buruk pada kehamilannya." Timpal Gerry.
"Aku paham. Maka dari itu aku tidak terlalu memaksanya." Balas Calvin.
Percakapan tiga orang dewasa itu pun terus berlanjut hingga akhirnya Dika berpamitan lebih dulu karena mendapatkan telefon dari Hana yang menginginkannya untuk cepat pulang saat ini juga.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba memintaku agar cepat pulang?" Gumam Dika sambil terus berjalan ke arah parkiran mobilnya. Hati dan pikiran Dika dibuat tidak tenang memikirkan Hana yang tiba-tiba saja memintanya untuk pulang. Terlebih saat ditanya alasan apa yang membuat Hana memintanya untuk pulang Hana hanya mengatakan jika ia sangat membutuhkan Dika saat ini.
"Sayang... kau membuatku cemas." Gumam Dika lagi saat sudah masuk ke dalam mobilnya.
***
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.