
Dika pun akhirnya berangkat dengan perasan berat hati meninggalkan istrinya selama satu minggu ke luar kota. Mengingat wajah sendu istrinya melepas kepergiannya entah mengapa membuat pemikiran Dika terasa terusik. Selama dalam perjalan Dika hanya diam duduk di samping kemudi sedangkan William dan Gerry terlihat sedang terlibat percakapan di kursi belakang.
Ya, setelah menjemput Dika di rumahnya, mereka pun turut menjemput William di rumah barunya dan Rania. Dika tidak merasa terusik sedikit pun walau kini Gerry dan William tengah tertawa membicarakan kejahilan Baby Rey pada adiknya. Percakapan diantara William dan Gerry pun terhenti saat tatapan William teralihkan ke kursi depan.
"Kenapa dia hanya diam saja sejak tadi?" Tanya William.
Gerry turut menatap ke arah Dika. "Memangnya sejak kapan kau melihatnya sering berbicara?" Balas Gerry dengan menarik sebelah alis matanya.
William sontak kembali tertawa. "Aku melupakannya. Namun aku lihat dia seperti memikirkan sesuatu."
Gerry mengangguk membenarkan. "Dia memang sedang memikirkan Hana yang ditinggalkannya di rumah." Balas Gerry dengan suara sedikit keras agar Dika mendengarnya.
"Oh ya?" William tak kalah berbicara keras. "Pantas saja wajahnya begitu kusut sejak menjemputku tadi." Seloroh William.
Ucapan Gerry dan William pun sontak membuat Dika menolehkan lepalanya ke belakang. "Apa kalian masih ingin menggunakan mulut kalian untuk berbicara?" Tanya Dika dengan wajah datarnya namun dengan nada suara mengancam.
Gerry dan William mengangguk bersamaan. "Tentu saja kami masih ingin menggunakannya." Balas William sambil menahan tawanya melihat wajah kesal Dika.
Dika mendengus lalu kembali mengalihkan wajahnya ke depan. Menanggapi ucapan kedua sahabatnya tentu saja akan berujung kekesalan untuknya. Asisten Jimmy yang berada di samping Dika pun hanya bisa menghela nafas panjang melihat Tuannya mulai berusaha menggoda Dika tentang istrinya.
Setelah melewati perjalanan empat jam lamanya, akhirnya mereka pun sampai di kota tujuan. Dika, Gerry, William dan Asisten Jimmy turun dari dalam mobil lalu masuk ke dalam hotel yang akan menjadi tempat mereka menginap selama satu minggu ke depan.
"Jam berapa kita akan berangkat ke rumah Tuan Zaki?" Tanya William setelah mereka mengambil kunci kamar hotel di bagian resepsionis.
"Jam satu siang. Istirahatlah lebih dulu. Masih ada satu jam lagi sebelum kita berangkat ke rumah Tuan Zaki." Balas Gerry.
*
"Ini rumah Tuan Zaki?" Tanya William menatap sebuah rumah yang terbilang cukup mewah di depannya.
Asisten Jimmy mengangguk membenarkan. Mereka pun terus berjalan hingga sampai di depan pintu rumah bersamaan dengan pintu rumah yang terbuka dari dalam.
"Tuan Zaki?" Sapa Gerry dengan tersenyum tipis pada Zaki.
Zaki tersenyum. "Tuan Gerry, Tuan William, Tuan Dika, kalian sudah sampai?" Zaki menjabat tangan mereka bergantian. "Ayo silahkan masuk." Ajak Zaki dengan ramah.
Dika, Gerry dan William mengangguk lalu mengikuti langkah Zaki masuk ke dalam rumahnya. Zaki terus berjalan menuntun mereka menuju ruang tengah untuk duduk di sana.
Saat baru saja mereka mendaratkan bokong di atas sofa, suara balita yang terdengar begitu manja membuat perhatian mereka teralihkan ke sumber suara.
"Daddy..." balita itu pun berlari ke arah Zaki.
"Arfan, jangan berlari..." suara wanita yang terdengar lembut di belakang balita itu pun membuat pandangan Dika dan Gerry teralihkan pada wanita itu.
"Amel?" Ucap Dika dan Gerry bersamaan.
***