
Pergerakan tangan Hana mengganggu tidur Dika hingga tak lama kedua kelopak mata Dika terbuka sempurna.
"Di-dika." Hana tertegun melihat Dika yang sudah terbangun.
"Apa kau sudah puas mengagumi ketampananku?" Tanya Dika dengan serak.
"Belum." Balas Hana tanpa sadar. Hana pun segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat menyadari ucapannya.
Dika menarik tipis kedua sudut bibirnya. Kemudian bangkit dari pembaringannya dan meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Aku sungguh malu sekali. Hana menatap wajah datar Dika dengan wajah yang sudah merah. Begitu malunya ia saat ini ketahuan tengah mengagumi ketampanan Dika.
"Aku sudah memutuskan jika hari ini kita akan kembali tinggal di rumah kita." Ucap Dika.
"Kenapa? Apa kau sudah tidak lagi melakukan perjalanan ke luar kota?" Tanya Hana.
Dika mengangguk membenarkan.
"Baiklah. Nanti setelah pulang dari rumah sakit aku akan membereskan barang-barang kita." Ucap Hana.
"Tidak perlu. Aku sudah meminta pelayan untuk membereskannya dan pulang dari rumah sakit nanti kita langsung pulang ke rumah saja." Terang Dika.
"Tapi kita belum berpamitan pada Mama dan Papa."
"Siapa bilang? Aku sudah berpamitan pada Mama dan Papa dan mewakili pamitanmu juga." Terang Dika.
"Tapi aku belum berpamitan langsung." Pungkas Hana.
"Tidak perlu. Mama dan Papa mengerti jika kau tidak langsung berpamitan. Lagi pula kita juga akan sering ke rumah kedua orang tuaku nantinya." Balas Dika.
*
Tiga hari kemudian, Hana terlihat tengah berkumpul bersama Kyara, Rania, Gerry dan William di dalam ruangan kerja Gerry untuk membahas rencana perayaan ulang tahun Dika. Suasana di dalam ruangan Gerry seketika tegang saat Hana menceritakan dengan detail alasan apa yang membuatnya meninggalkan Dika beberapa tahun yang lalu.
Berberda dengan Kyara yang terlihat terkejut setelah mendengar penjelasan Hana, wajah Gerry, Rania dan William nampak tidak begitu terkejut setelah mendengarnya karena mereka sudah mengetahui alasan Hana meninggalkan Dika.
"Hana... kemarilah..." Kyara merentangkan kedua tangannya pada Hana saat melihat Hana tak dapat lagi membendung air matanya.
Hana menggigit bibir bawahnya lalu berhambur ke dalam pelukan Kyara. "Selama ini aku selalu mencoba melupakan Dika dalam hidupku namun aku tidak bisa. Hatiku sangat sakit setiap mengingat kepergiannya. Selama enam tahun aku hidup dalam kerinduan yang tidak terbalaskan." Ucap Hana mengeluarkan sesak di dadanya selama ini.
"Aku dapat merasakan rasa sakitmu selama ini, Hana." Ucap Kyara yang turut menangis."
"Dan saat pertemuan kami kembali, aku harus merasakan rasa sakit berkali-kali lipat karena Dika menunjukkan tatapan kebenciannya kepadaku."
Kyara hanya bisa mengelus punggung Hana untuk menenangkannya. "Sudahi rasa sakitmu saat ini, Hana. Sudah saatnya kau berkata jujur pada Dika. Aku yakin Dika akan mengerti dan percaya alasan dulu kau meninggalkannya." Ucap Kyara.
Hana melerai pelukannya lalu mengangguk. "Semoga saja." Balasnya kemudian seraya tersenyum. Tatapan Hana pun beralih pada William dan Gerry yang tengah menatapnya dengan intens.
"Hana, sudahi sandiwara ini dan hiduplah bahagia dengan Dika. Karena tak berbeda jauh denganmu, Dika juga turut terluka dengan perpisahan kalian beberapa tahun lalu." Ucap Gerry. Gerry pun mulai menceritakan bagaimana hancurnya Dika setelah sandiwara perselingkuhan Hana. Bagaimana sahabatnya itu menjadi pria yang semakin tidak tersentuh bahkan Dika sangat membatasi interaksinya dengan yang namanya wanita.
***
Jangan lupa berikan vote, like dan komennya sebelum lanjut ke bab berikutnya☺️
Jangan lupa follow IG SHy ya : @shy1210_ untuk mengetahui informasi update☺️