Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Pembuktian Hana


Acara malam itu pun mulai berlangsung dengan diawali kata sambutan dari Dika sebagai ketua tingkat di angkatan mereka. Pembawaan Dika yang tenang dilengkapi wajah tampannya membuat para kaum hawa diangkatannya semakin dibuat terpesona olehnya.


"Dika itu memang paket komplit ya, Hana!" Ucap Amel sambil menatap Dika yang kini masih menyampaikan kata sambutannya dengan tatapan memuja. "Selain tampan dia juga berbakat di banyak bidang."


Hana mendecakkan lidahnya. "Biasa saja. Dia tidak sekomplit yang kau katakan. Lihat saja wajahnya yang kaku itu sudah mengalahkan kakunya kenebo kering." Cibir Hana.


Amel mendengus. "Mulutmu pandai sekali mencibirnya. Namun kau tetap menjadikannya sebagai pacar pura-puramu." Sindir Amel.


Hana tertawa kecil. "Itu hanya sebuah kebetulan. Jika bukan dia yang masuk ke dalam kelas kita waktu itu, aku mungkin tidak akan menjadikannya tameng." kilah Hana. Padahal jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia menjadikan Dika sebagai tamengnya juga karena ketampanan yang dimiliki pria itu.


Acara malam itu pun terus berlanjut dengan diisi acara hiburan dari teman-teman mereka yang memiliki bakat di bidang musik. Beberapa dari mereka pun menghabiskan malam di rumah Liza sambil bercengkrama satu sama lain.


Hana dan Amel yang sedang asik berbincang dengan teman pria di angkatan mereka pun seketika menghentikan pembicaraan mereka saat Liza tiba-tiba datang menghampiri mereka. Melihat kedatangan Liza, Hana dan Amel pun seketika memasang wajah waspada. Dari senyuman Liza saat ini, mereka dapat menangkap jika wanita itu menyimpan niat tidak baik.


"Hana, kenapa kau tidak ikut berkumpul dengan Dika di sana? Kau terlihat seperti orang lain saja dengannya sejak tadi." Ucap Liza dengan nada menyindir.


"Kau terlihat sangat ikut campur dalam urusan kami, Liza. Lagi pula aku tidak harus selalu menempel pada Dika untuk menunjukkan jika aku adalah kekasihnya. Aku bukanlah kekasih yang posesif. Kami masih bisa menghabiskan waktu bersama di lain tempat." Balas Hana.


"Ck. Kau terlalu pandai bersandiwara, Hana. Lihatlah Dika sejak tadi tidak pernah mengajakmu berbicara sekali pun. Kalian bagaikan dua orang asing. Bukan di sini saja, Dika bahkan tidak pernah berbicara denganmu di dalam kelas dan menunjukkan dia adalah kekasihmu. Aku jadi curiga jika kau lah yang memanfaatkan diam Dika untuk menjadi pacar pura-puranya." Ucap Liza berusaha memojokkan Hana.


Hana berusaha untuk tetap tenang. Semenjak ia mengakui jika Dika adalah kekasihnya, Liza yang biasanya akrab kepadanya berubah menjadi wanita serigala yang siap memangsanya kapan saja.


"Kau sangat ikut campur sekali ya, Liza!" Sentak Amel yang sudah merasa ger sambil menggebrak meja. Sontak saja aksi Amel berhasil membuat perhatian teman-teman mereka teralihkan ke arah mereka.


"Sekarang apa maumu?" Tanya Hana.


Liza tertawa kecil. "Kau. Bertanya apa mauku? Tentu saja aku ingin kau membuktikan jika Dika benar-benar adalah kekasihmu." Tantang Liza.


"Kau ingin aku membuktikan jika Dika adalah kekasihku?" Tanya Hana dengan tersenyum miring.


Liza hanya diam sambil menatap remeh pada Hana.


"Baiklah. Akan aku tunjukkan jika Dika adalah kekasihku." Ucap Hana lagi lalu berdiri dari duduknya. Hana pun segera melangkah ke arah Dika yang kini berada tidak terlalu jauh darinya.


"Dika..." Ucap Hana dengan lirih saat sudah berada di dekat Dika. Hana memejamkan kedua matanya lalu menatap wajah Dika dengan intens. Maafkan aku Dika. Batin Hana.


Dengan segenap keberaniannya, Hana pun berjinjit menyamakan tingginya dengan Dika lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Dika. Tanpa mengucapkan satu kata pun, Hana pun dengan berani menempelkan bibirnya di bibir tipis Dika.


***


Lanjut lagi kalau vote, komen dan likenya banyak deh😍