Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Tidak seperti yang dibayangkan


Dengan gerakan pasti Dika menggiring tubuh Hana ke atas ranjang tanpa melepaskan pangutannya. Tubuh Hana dibuat semakin gugup saat Dika membaringkannya secara perlahan di atas ranjang namun tidak melepaskan pangutan di antara mereka.


Jemari Dika mulai memberikan sentuhan lembut di tubuh Hana yang terbuka hingga masuk dari celah handuk yang tersingkap sebagian. Sentuhan Dika membuat Hana menggeliat tak karuan.


"Di-dika..." nafas Hana tersengal. Satu desa-han pun akhirnya lolos dari bibir mungilnya saat jemari Dika terus aktif bermain di pusat tubuhnya. Jemari Dika terus bekerja membuat Hana merasa melayang hingga akhirnya melepaskan selembar handuk yang menutupi tubuh Hana.


Hana sontak menutup bagian intinya dengan kedua tangannya saat merasa kini tubuhnya telah polos tanpa satu helai benang pun. Dika tak membiarkan Hana menutupi keindahan yang tengah ia tatap. Ia lepaskan begitu saja kedua tangan Hana dan menahan kedua tangannya agar tidak lagi menutupi bagian intinya.


Dika kembali memangut bibir mungil Hana yang sempat ia lepaskan lalu dengan tergesa-gesa melepaskan pakaian yang membungkus tubuhnya. Hana terbelalak. Untuk pertama kalinya ia melihat tubuh Dika tanpa tertutupi sehelai benang pun. Hana meringsut merasa takut saat melihat gai-rah suaminya yang sudah memuncak.


Melihat pergerakan Hana membuat Dika dengan sigap menghimpit tubuh Hana hingga membuat pergerakan Hana terhenti.


"Di-dika..." Hana memicingkan kedua matanya merasa malu dengan kondisi tubuh mereka saat ini. Apa lagi saat ini ia dapat merasakan lembutnya kulit Dika yang menempel di kulitnya.


Entah keberanian dari mana Hana menarik leher Dika lalu mencium bibir Dika lebih dulu. Walau sedikit terkejut dengan pergerakan Hana namun Dika dengan cepat membalas ciuman istrinya itu. Jemarinya pun tak tinggal diam memberikan sentuhan-sentuhan di tubuh Hana.


Cukup lama Dika memberikan sentuhan di tubuh Hana sebelum akhirnya ia memposisikan tubuhnya untuk mema-suki wanitanya.


Hana hampir saja berteriak saat merasakan sesuatu yang keras mulai memasuki pusat tubuhnya. Namun teriakannya itu tertelan di dalam tenggorokannya saat bibir Dika sudah membungkam mulutnya. Bulir-bulir air mata mulai berjatuhan di kedua sudut matanya saat Dika memperdalam memasuki tubuhnya.


Walau merasa tiga tega melihat istirnya yang menangis kesakitan, namun Dika pun tidak bisa menghentikan kegiatannya saat ini.


"Maafkan aku." Lirihnya seraya menghapus air mata di kedua sudut mata Hana.


Hana hanya diam dengan wajah menahan rasa sakit yang teramat di bagian inti tubuhnya. Dan malam itu Hana pun memasrahkan hati dan tubuhnya untuk pria yang sangat dicintainya sejak dulu sampai saat ini.


*


"Ternyata kau masih virgin?" Dika menatap Hana yang kini terlelap dengan wajah yang masih basah oleh air mata. Ada rasa bahagia yang mengisi relung hatinya saat dugaannya ternyata salah. Sejak dulu Dika selalu berpikir jika Hana sudah menyerahkan mahkotanya pada selingkuhannya mengingat betapa agresifnya wanita itu jika berada di dekatnya. Untung saja saat itu Dika masih bisa menahan hawa naf-sunya hingga tidak merusak Hana.


Cukup lama Dika terdiam sambil menatap wajah Hana sebelum akhirnya ia membenamkan tubuh Hana ke dalam dekapannya lalu turut memejamkan kedua kelopak matanya menyusul Hana ke alam mimpi.


***