
Empat jam berlalu, akhirnya Dika pun telah sampai di depan sebuah rumah sakit yang menjadi tempat istrinya dirawat. Dengan langkah tergesa-gesa dan rambut yang sedikit berantakan, Dika berjalan ke arah kamar perawatan Hana.
Di depan ruangan perawatan, Mama Rita nampak sudah menunggu kedatangannya karena tadi Dika sempat menelefon untuk menanyakan keberadaan Hana saat ini.
"Mama..." ucap Dika dengan nafas yang terdengar naik turun saat sudah berada tepat di depan Mama Rita.
"Dika... kenapa kau nekat sekali datang malam-malam begini." Mama Rita menepuk pelan lengan Dika. Raut wajahnya terlihat begitu cemas karena sejak tadi menantikan kedatangan menantunya itu.
"Dika harus segera bertemu dengan Hana, Ma." Balas Dika dengan wajah bersalah. "Apa Hana sudah tidur?" Tanya Dika kemudian.
"Sudah... Hana baru saja tertidur satu jam yang lalu."
"Mama... maafkan sikap Dika kepada Hana." Dika merasa bersalah karena sikapnya kini anak dan istrinya yang menjadi korban.
"Mama dapat mengerti keadaanmu, Dika. Sudahlah... tidak ada yang perlu disesali. Kau hanya perlu memperbaikinya untuk ke depannya."
"Terimakasih, Ma..." balas Dika.
Mama Rita tersenyum. "Sekarang masuklah. Hana membutuhkanmu saat ini." Tutur Mama Rita.
Dika mengangguk lalu meminta izin utuk masuk ke dalam ruangan perawatan istrinya. Saat sudah masuk ke dalam ruangan perawatan, raut wajah Dika semakin terlihat bersalah melihat sosok istrinya yang kini terbaring dengan wajah sedikit pucat.
"Sayang..." Dika berjalan mendekat ke arah ranjang Hana dengan kedua bola mata yang mulai mengembun. Dengan gerakan hati-hati ia pun duduk di samping ranjang. Ditatapnya wajah lelap Hana lalu turun ke perut Hana yang terlihat lebih berisi dibandingkan hari sebelumnya.
"Maafkan aku, Hana... Maaafkan Daddy..." Air mata Dika jatuh begitu saja merasakan bersalah yang begitu dalam pada istri dan calon anaknya.
Tangan Dika dengan ragu dan bergetar terulur mengelus perut Hana. "Apa benar kalian sudah ada di sini? Bagaimaan Daddy dengan bodohnya tidak mengetahui hadirnya kalian?" Dika mengusap perut Hana dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya.
Dika menghentikan pergeraknnya saat merasa Hana mulai terganggu olehnya. "Hana... maafkan aku..." lirih Dika sambil terus menatap wajah lelap Hana.
"Anak itu... kenapa dia begitu keras menjaga Hana yang tertidur tanpa memperdulikan tubuhnya yang sudah lelah." Gumam Mama Rita dari atas sofa.
*
Satu jam berlalu, Hana terlihat mulai mengerjapkan kedua matanya. Keningnya nampak mengkerut saat merasakan sebelah tangannya sedikit berat akibat tertimpa sedikit kepala Dika. Hana memiringkan kepalanya untuk melihat siapakah gerangan yang telah memegang tangannya.
Deg
"Di-dika?" Ucap Hana sedikit terbata melihat sosok yang sudah membuatnya tidak bisa tenang akhir-akhir ini. "Ini benar Dika?" Hana terlihat mengerjapkan kedua matanya untuk memastikan penglihatannya. Setelah memastikan jika apa yang ia lihat benar, Hana pun mengalihkan tatapan matanya pada Mama Rita yang kini baru saja bangkit dar atas sofa lalu berjalan ke arahnya.
"Dia baru saja sampai jam setengah dua." Ucap Mama Rita memberitahu pertanyaan yang ada di benak Hana saat ini.
***
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.