
"Hana, selamat atas pernikahanmu." Kyara dan Rania datang menghampiri Hana setelah Hana selesai bersalaman dengan Mama Rita.
"Terimakasih, Kya, Rania." Balas Hana dengan tersenyum lembut.
"Aku harap pernikahanmu dan Dika berjalan dengan lancar dan kalian selalu hidup bahagia." Tutur Rania.
"Aku harap juga begitu." Balas Hana sekenanya.
Hana, Rania dan Kyara pun mulai terlibat perbincangan ringan. Begitu pula dengan Dika yang kini sedang berbincang dengan William dan Gerry. Sedangkan Mama Rita berbincang dengan Mama Puspa dan Papa Indra. Jangan tanyakan kemana Papa Hana, karena pria itu sudah berpamitan beberapa menit yang lalu dengan wajah sedihnya. Entah apa yang membuat wajah pria paruh baya itu bersedih. Sebagai anak Hana mencoba tak memperdulikannya dan membiarkan Papanya pergi begitu saja.
Acara hari itu pun terus berlanjut hingga berakhir pukul dua siang. Karena pernikahan Hana dan Dika diadakan secara dadakan, acara hari itu hanya diisi dengan acara akad dan acara hiburan sederhana.
Satu persatu keluarga dan teman-teman Hana dan Dika pun mulai berpamitan untuk pulang. Begitu pula dengan Mama Puspa yang memilih pulang ke apartemen Hana.
"Mama, kenapa Mama tidak menginap di sini saja." Hana merasa berat membiarkan Mamanya tinggal sendiri di apartemennya.
"Mama di apartemen saja. Lagi pula Mama ingin bersiap untuk kepulangan besok hari." Tutur Mama Rita.
Hana menghela nafas panjang. "Kalau begitu Hana ikut Mama saja. Hana ingin membantu Mama." Ucap Hana dengan wajah penuh permintaan.
Mama Rita menggeleng pelan. "Hana... saat ini kau sudah menikah. Kau tidak bisa mengambil keputusan seorang diri. Kau harus meminta izin pada suamimu kemana pun kau pergi." Mama Rita mengelus lembut rambut Hana.
Mama Puspa yang sedikit mencuri dengar percakapan Hana dan Mama Rita pun menyusul Dika yang tengah berbincang dengan Papa Alex. Tak lama, Dika pun menghampiri Mama Rita dan Hana.
"Malam ini kita tidur di apartemenmu saja." Ucap Dika pada Hana hingga membuat pandangan Hana kini teralihkan padanya.
"Apa kau serius?" Wajah Hana berubah ceria.
Dika mengangguk membenarkan.
"Mama... Mama dengar itu. Dika mengajak untuk tidur di apartemen Hana saja malam ini."
*
"Ayo masuk." Ajak Hana pada Dika saat ia sudah membuka kunci apartemennya.
Dika mengangguk lalu mengikuti langkah Hana dan Mama Rita.
"Hana, ayo bawa suamimu masuk ke dalam kamarmu untuk istirahat." Ucap Mama Rita pada Hana.
Hana menatap pada Dika yang terlihat masih sibuk menatap kesetiap sudut apartemennya. "Dika, ayo masuk ke kamar untuk istirahat." Ajak Hana dengan menahan rasa malu di dadanya karena mengajak Dika masuk ke kamarnya.
Dika mengalihkan pandangan pada Hana lalu mengangguk. Saat ini tubuhnya sudah sangat lelah seharian menjamu tamu dan sudah butuh istirahat.
"Kalau begitu Mama masuk ke kamar dulu." Ucap Mama Rita yang diangguki Hana dan Dika.
Hana pun turut melangkah menuju kamarnya diikuti oleh Dika.
"Maaf jika kau tidak nyaman tidur di sini." Ucap Hana tak enak hati karena ukuran kamarnya yang jauh lebih kecil dari kamar apartemen Dika.
"Tak masalah." Balas Dika dengan datar. Pandangan Dika pun jatuh pada ranjang yang hanya berukuran 160 CM. Ukuran ranjang itu cukup membuat jarak diantara mereka terkikis jika tidur bersama di atas sana.
"Aku bisa tidur di kamar Mama jika kau merasa tak nyaman." Ucap Hana seolah paham pemikiran Dika.
"Tidak perlu. Kau bisa berbagi ranjang denganku malam ini." Balas Dika tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
***
Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya untuk lanjut ke bab berikutnya ya🌹