
"Kau tidak berniat menjodohkan anak-anak kita seperti yang dilakukan Kyara dan Rania?" Tanya Dika saat mereka dalam perjalanan pulang menuju rumah.
Hana menggeleng. "Menurutku biarkan saja anak-anak kita menemukan jodoh mereka dengan caranya masing-masing. Aku tidak ingin perjodohan membuat mereka merasa tertekan dan tidak leluasa mencari sosok yang sesuai dengan keinginan mereka." Balas Hana.
Dika tersenyum. Tangannya pun terulur mengelus rambut Hana. "Kau benar. Biarkan saja mereka menjalani kehidupan masing-masing hingga takdir akan membawa mereka menemukan jodoh mereka masing-masing."
Hana menimpali tangan Dika yang tengah mengelus rambutnya dengan sebelah telapak tangannya. "Ya. Biarkan saja mereka berjalan dengan takdir mereka masing-masing." Ucap Hana.
Mobil pun terus melaju hingga akhirnya sampai di depan rumah. Dika terlihat turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Hana.
"Entah mengapa aku merasa kau terlalu berlebihan akhir-akhir ini." Ucap Hana setelah turun dari dalam mobil.
"Aku tidak berlebihan. Semua ini aku lakukan untuk membahagiakan dan bentuk perhatianku padamu dan anak-anak kita." Balas Dika.
Hana tersenyum mendengarnya. Mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
"Apa kau ingin makan lagi?" Tawar Dika sebelum menaiki tangga.
Hana menggeleng. "Perutku sudah terasa sangat penuh. Saat ini aku hanya ingin tidur." Ungkapnya.
"Baiklah. Kalau begitu ayo naik." Ajak Dika yang diangguki Hana sebagai jawaban.
*
Kebahagiaan Hana dan Dika pun terus bertambah setiap harinya semenjak badai pernikahan telah mereka lewati. Terlebih setelah mengetahui jika Hana mengandung sepasang anak kembar. Sikap Dika pun semakin mencair dengan seiring berjalannya waktu. Pria kaku tak tersentuh itu pun sudah kembali pada sosok beberapa tahun lalu yang hangat dan perhatian pada Hana.
Tiada hari Dika dan Hana lalu tanpa ungkpan cinta dari mereka masing-masing. Hati Hana semakin senang dan berbunga saja mendapatkan ungkapan cinta yang begitu tulus dari pria yang sangat dicintainya itu. Kesedihan yang selalu menemaninya selama beberapa tahun lamanya terbayar sudah dengan cinta dan kasih sayang yang Dika berikan padanya saat ini.
Walau sampai saat ini Dika masih ingin menemui Papa mertuanya untuk hanya sekedar bertanya kabar, namun Hana masih bersikeras untuk menutup akses bagi suaminya itu menemui Papanya yang sudah begitu dalam menoreh luka di hati Mama tercintanya. Menurut Hana biarlah waktu yang memberikan jalan untuk mereka berdamai dengan Papanya tanpa harus menemuinya lebih dulu. Lagi pula saat ini Papanya itu sudah bahagia dengan kehidupannya yang baru dan Hana tidak berniat masuk ke dalam kebahagiaan Papanya itu.
"Aku sangat takut meninggalkanmu pergi bekerja." Ucap Dika sebelum berangkat bekerja pagi itu.
Hana tersenyum mendengarnya. "Pergilah. Lagi pula ada Mama yang menemaniku di sini." Ucap Hana menenangkan hati suaminya.
"Namun tetap saja perasaanku tidak tenang. Aku takut bila kau tiba-tiba saja ingin melahirkan." Ungkap Dika.
Hana menggelengkan kepalanya. "Menurut perkiraan dokter aku akan melahirkan dalam waktu dua minggu lagi dan aku rasa kau tidak perlu mencemaskannya lagi." Tutur Hana.
***