
beberapa burung merak sedang memperlihatkan keindahan warna ekor mereka, membuat taman de sekitar danau kecil itu begitu tampak sempurna.
Seorang wanita muda dengan kulit seputih salju, dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibir merah nya, mata yang indah dengan tatapan sedikit sendu membuat para burung merak malu, karena untuk pertama kali nya keindahan mereka seperti menjadi tidak terlihat.
ilustrasi puteri ming mei
"langit begitu mendung, tapi wajah mu tampak begitu bersinar, apa terjadi sesuatu?" tanya Kaisar Ming menatap heran ke wajah puteri tercinta nya, pria yang penuh kharisma itu mendekati Puteri Ming Mei.
"ayah sebaik nya jangan menggoda puteri mu ini," ucap Puteri Ming Mei malu karena suasana hati nya terbaca ayah nya.
"hahahha... kau puteri ayah, kau tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari ayah mu ini, hahaha" ucap Kaisar lagi, yang juga bisa merasakan kebahagiaan Puteri nya, sambil mengelus janggut panjang nya
"ayah ikut senang melihat mu seperti ini, bisakah kau ceritakan pada ayah?" sambil memegang tangan puteri nya.
"aku tidak mau" ucap puteri sambil menggelembungkan pipi nya yang merah.
"ada yang ingin ayah sampaikan padamu, beberapa hari ini ayah selalu memimpikan mendiang ibu mu dia membicarakan adik nya, bagaimana jika puteri ayah yang cantik ini mengunjungi bibi mu?" Kaisar Ming berhenti bicara dan menatap puteri nya selalu melihat kearah seorang remaja yang berdiri di gerbang taman, membuat Kaisar Ming mengikuti arah pandangan dari Puteri itu.
"Siapa pemuda itu?" tanya kaisar pada puteri nya, sambil menyipitkan matanya menatap Xiao Zhou.
puteri ming mei yang menyadari kesalahan nya langsung menjadi pucat,
"Maafkan aku ayah" ucap Puteri Ming Mei.
"Dia adalah temanku di sekte dulu, aku sendiri yang meminta nya jadi pengawal ku ayah," ucap Puteri Ming Mei lagi.
Kaisar mengerutkan keningnya, tidak percaya Puteri nya melakukan hal semacam ini, dan mulai mengerti sedikit tentang apa yang sedang terjadi.
"ohhh... jadi pemuda itu yang merampas putriku dari tangan ku, berani sekali kau bocah kecil" ucap Kaisar Ming.
Mendengar ucapan ayah nya seperti itu, keringat dingin keluar dari wajah Puteri Ming Mei dan berlutut.
"maafkan aku Yang Mulia, tolong jangan bunuh bocah itu," ucap Puteri Ming Mei yang tanpa sadar mata nya sudah meneteskan air mata.
"membunuh nya?" guman kaisar Ming,
Kaisar memanggil pengawal nya dan menyuruh untuk memanggil Xiao Zhou, tidak begitu lama Xiao Zhou sudah di depan bangunan kecil di tengah danau buatan tempat puteri minum teh di dampingi ayahnya.
"Kau bocah tengik kemari lah," teriak Kaisar Ming,
Xiao Zhou mendekat ke pria tua itu,
"apa paman memanggilku?" tanya Xiao Zhou, memanggil Kaisar Ming yang sore itu tidak mengenakan pakaian kebesaran nya.
Mata Puteri Ming Mei melebar saat Xiao Zhou memanggil Kaisar Ming dengan sebutan paman, dan Xiao Zhou menatap Puteri Ming Mei yang mulai mengedipkan matanya yang berair, bola mata bergerak ke arah Kaisar beberapa kali, seperti sebuah isyarat.
"hahaha... bocah kau ini memang masih polos sekali, dan kau benar aku paman dari wanita cantik ini," ucap kaisar berbohong
"Katakan pada ku berapa usai mu nak?" tanya Kaisar Ming.
"Namaku Xiao Zhou, usiaku 17 tahun paman dan aku bekerja menjadi pengawal puteri," ucap Xiao Zhou sambil membungkuk dan menyatukan tinju nya.
"hahaha kau menarik sekali bocah duduk lah, dan kau keponakan ku tuangkan minum untuk tamu ku,"ucap Kaisar menatap puteri nya.
Puteri Ming Mei segera menghapus air mata nya, dan menuangkan ke cawan yang ada di atas meja.
"hah... gadis bodoh ini," batin Kaisar melihat pertama kali puteri nya yang dingin mengeluarkan air mata.
"ceritakan tentang mu bocah bagaimana kau bertemu dengan gadis bodoh ini?" ucap Kaisar mengolok-olok puteri nya.
Xiao Zhou bercerita tentang diri nya lebih tertarik menjadi alchemis daripada kultivator, awan gelap mulai menjatuhkan tetes-tetes air ke bumi, dan hujan mulai mengguyur tempat itu, menemani perbincangan kedua orang itu.
"paman jika hujan seperti ini aku punya yang lebih menarik" ucap Xiao Zhou sambil mengeluarkan guci cantik nya pemberian Puteri Ming Mei.
"ohhh itu bukan kah arak?" tanya Kaisar
"apakah benar usia mu 17 tahun??" tanya kaisar lagi.
Tangan Putri memegang lengan Xiao Zhou dengan wajah memelas, pemuda itu hanya mengangguk, berpikir jika Puteri Ming Mei ingin minum juga.
Xiao Zhou pun mengisi cawan milik Kaisar dan milik nya dan juga milik Puteri Ming Mei, membuat mata Kaisar Ming melebar.
"kenapa kau menuangkan minuman itu cawan dari puteri?" tanya Kaisar.
"tidak perlu khawatir paman aku dan putri pernah minum bersama, benar kan Puteri? ucap Xiao Zhou, menatap Puteri Ming Mei.
Wajah Puteri Ming Mei sedikit menggeleng, dan menatap ke arah ayah nya dengan mata bersalah.
"oh seperti itu rupanya? keponakan ku ini ternyata memiliki banyak rahasia juga?" ucap Kaisar Ming.
"ja-di kalian pernah minum bersama? tanya Kaisar sedikit gu-gup
"apa kau tidak takut dengan Kaisar?" tanya Kaisar lagi.
"ohhh benar kah? kaisar memang sangat tampan dan juga murah hati, hahahaha...
bagaimana dengan wajah ku anak muda?" tanya kaisar lagi dengan wajah yang dibuat-buat agar tampak berwibawa.
"kalian berdua tolong berhenti minum-minum," ucap puteri yang sudah tidak tahan melihat kelakuan ayah dan xiao zhou.
"hahaha gadis bodoh kami akan berhenti sampai arak ini habis,," ucap Kaisar.
"iya puteri sebaik nya puteri kembali ke kamar biar kami laki-laki menyelesaikan masalah kami disini secara jantan... hahaha... " ucap Xiao Zhou, karena pertama kalinya minum setelah menjadi seorang pengawal.
"kau ini?" ucap Puteri Ming Mei sambil memeluk lengan Xiao Zhou.
"aahhh kalian anak muda tidak tahu malu, melakukan itu di depan orang tua seperti ku" goda kaisar, wajah nya mulai memerah karena minuman itu sudah mempengaruhi nya.
"tenang lah paman itu belum seberapa kami pernah berpelukan lebih dari ini," ucap Xiao Zhou dan menceritakan kejadian malam di taman dirinya memeluk pinggang Puteri.
Kaisar menyemburkan arak yang ada di bibir nya, sedangkan wajah Puteri Ming Mei sudah seperti tomat dan ingin menangis.
"pengawal " panggil kaisar.
"cepat bawakan araku ke sini" teriak Kaisar.
guci-guci besar berdatangan, mereka pun minum sampai malam larut,
puteri memapah tubuh Xiao Zhou ke kamar yang di sediakan di istana Puteri, untuk pengawal yang bertugas hari itu, membaringkan nya di ranjang.
Tiba-tiba saja tangan Xiao Zhou menarik tangan Puteri Ming Mei hingga menindih tubuh Xiao Zhou, kedua berguling-guling dan saling memeluk,
"bocah... apa yang kau lakukan?" ucap Puteri Ming Mei tidak berusaha melawan.
Xiao Zhou hanya tersenyum tipis, matanya mulai terpejam, dan mereka tertidur berpelukan di ranjang besar itu, wajah Puteri Ming Mei begitu tenang dan terlihat beban selama ini di pikiran nya hilang begitu saja, hanya suara nafas halus mereka yang terdengar.
kesesokan harinya.
Puteri Ming Mei bangun dan melihat Xiao Zhou masih terlelap.
"Wajah bocah ini sangat indah bahkan saat tertidur," batin Puteri Ming Mei dan melangkah pelan agar tidak ada yang tahu jika dirinya tidur di kamar pengawal.
dan pelan membuka pintu ingin meninggalkan kamar Xiao Zhou, wajah Puteri Ming Mei berubah pucat melihat seseorang berdiri di depan pintu tak lain adalah ayah nya Kaisar Ming.
"Yang Mulia... in-i tidak seperti itu, aku bisa jelaskan nya Yang Mulia" ucap puteri ming mei gugup.
"ayah sudah memerintahkan semua orang pergi dari semalam, istana ini kosong, ikut ayah sekarang, cepatlah sebelum ada yang melihat," ucap Kaisar.
mereka duduk di ruang keluarga.
"Apa kau mencintai Xiao Zhou?" tanya Kaisar menatap tajam Puteri nya.
"Melebihi aku mencintai diriku sendiri ayah" ucap Puteri Ming Mei.
"aahhhh gadis bodoh," guman Kaisar sambil mengusap wajah nya, dengan kedua tangan nya.
"apa dia mencintai mu?" tanya Kaisar lagi
"dia tidak mencintai ku ayah dia sudah punya dua calon istri," ucap Puteri Ming Mei berlutut di depan ayah nya.
"aku mohon jangan bunuh dia ayah" ucap Puteri Ming Mei sambil terisak.
kaisar pun duduk diam tak bicara.
"yah dewa..., apa yang harus aku lakukan?" guman nya lagi, dan mengelus kepala Puteri nya yang berlutut.
"menjadi seorang ayah lebih sulit dari menjadi seorang Kaisar," batin nya dan menghela nafasnya.
"aku akan meninggalkan nya ayah, ayah tidak perlu khawatir," ucap Puteri Ming Mei masih dengan isak tangis nya, hatinya seperti tersayat saat berpikir akan melupakan pemuda itu.
kaisar menggenggam lembut tangan puteri nya.
"bocah itu adalah jiwa mu, setelah kau bertemu dengan bocah itu, ayah baru bisa melihat senyum, tawa,tangis di wajah mu, yang selama ini ayah rindukan.
Saat ini kau terlihat hidup kembali, setelah kepergian mendiang ibu mu, jadi bersabarlah, dan dapat kan cinta dari pemuda itu, ayah akan mendukung mu," ucap Kaisar sambil memeluk puteri kesayangan nya.
puteri ming mei menangis haru sesenggukan,
"terima kasih ayah, aku begitu senang bisa menjadi Puteri mu," ucap Puteri Ming Mei, membalas pelukan ayahnya.
.......
....
like dan komen nya bedebbahhhh ... pegel gua ngetik...