Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
penjaga perpustakaan


pulau keseimbangan saat ini.


sudah hampir semua kitab Xiao Zhou baca di ruangan itu, tapi tidak ada satu pun penunjuk yang bisa menyembuhkan nya.


"hemmm.... aku tidak bisa seperti ini terus, aku ingin mencari udara segar," guman Xiao Zhou.


Xiao Zhou berjalan-jalan di kota kecil nya, dan di temani Lou fang,


"penguasa aku sekarang sudah memiliki anak angkat, aku sangat senang sekali," ucap Lou fang.


"benarkah? aku ucapkan selamat kepala desa," ucap Xiao Zhou.


mata Lou fang sedikit melebar menatap kesal ke arah Xiao Zhou,


"hemmm... maksud ku tetua kota," ucap Xiao Zhou yang baru sadar akan tatapan kesal dari Lou fang.


keduanya kembali berbincang dan mereka sudah berada di dekat patung setinggi lima meter,


mata Lou fang seperti berbinar menatap patung dirinya yang terlihat begitu hidup, dan tampak sangat gagah.


terlihat para penduduk suku bul-bul mulai membersihkan patung itu.


"tetua kota... apa akan ada perayaan? kenapa para penduduk begitu semangat melakukan pembersihan di kota mu ini," ucap Xiao Zhou.


"hahaha.... penguasa, apa kau tidak tahu satu bulan lagi kita akan merayakan akhir tahun," ucap Lou fang.


Xiao Zhou hanya mengangguk, kening nya tampak sedikit berkerut, seperti teringat akan sesuatu.


"benarkah, hemmm.... akhirnya penantian ku sudah berakhir, saatnya aku bertemu orang itu," guman Xiao Zhou.


keesokan harinya Xiao Zhou sudah berdiri di depan sebuah perpustakaan di perbatasan bagian barat kota huangdong.


matanya menatap sekeliling, dan mulai melangkah memasuki perpustakaan sepi itu.


dan mendekati seorang pria tua yang seperti sedang tertidur di belakang meja tua, di sudut ruangan dengan rak-rak buku tinggi di belakang nya,


"aaahhh.... anak muda apa yang membawa mu ke tempat ini, apa kau ingin belajar?" tanya pria sepuh itu.


"namaku Xiao Zhou paman, aku ingin bertemu seseorang di tempat ini," ucap Xiao Zhou.


"hohoho.... seperti itu rupanya, baiklah... kau boleh melihat-lihat, lima koin perunggu kau bisa membaca sesuka mu di tempat ini," ucap pria sepuh itu, dan Xiao Zhou menyerahkan lima koin perunggu dari balik jubah nya, dan meletakkan di atas meja pria sepuh itu.


"selamat menikmati anak muda," ucap pria sepuh itu dan memasukan uang Xiao Zhou ke dalam sebuah kotak, dan pria tua itu kembali duduk dengan mata terpejam, seperti begitu bosan dengan kegiatan nya.


keesokan harinya Xiao Zhou kembali mendekati pria tua itu,


"aaahhh.... kau datang lagi, apa kau tidak bertemu dengan teman mu itu kemarin?" tanya pria tua itu.


Xiao Zhou hanya menggelengkan dan menyerahkan lima koin perunggu nya.


"tunggu anak muda, bagaimana jika kau berkerja di tempat ini, kau bisa menunggu teman mu tanpa harus membayar, dan juga kau akan mendapat tempat tinggal di belakang perpustakaan ini," ucap pria tua itu.


Xiao Zhou mengerutkan keningnya sesaat, dan mengangguk.


"hahahah.... itu bagus..., sangat bagus, namaku chow bai, kau boleh memanggil ku paman chow saja, kau bisa membaca peraturan di sini, aku ingin beristirahat di rumah" ucap chow bai dan meninggalkan perpustakaan itu.


"tapi paman chow apa yang harus aku urus di tempat ini?" teriak Xiao Zhou yang melihat paman chow seperti tergesa-gesa meninggalkan nya.


"aaahhh.... anak muda lakukan apapun yang kau suka," ucap paman Chow sambil melambaikan tangannya, tanpa menatap Xiao Zhou.


"aahhh... akhirnya aku bebas, perpustakaan itu adalah warisan ayah ku, aku sudah berjanji untuk menjaganya, jika tidak... aku sudah lama ingin membakar nya," batin chow bai begitu senang akhirnya ada yang menggantikan nya menjaga warisan ayah nya.


"hari ini cukup ramai, setidaknya aku sudah memasukkan dua puluh lima koin perunggu, dan seratus koin perak hasil penyewaan buku," batin Xiao Zhou dan masuk ke belakang melihat tempat tidur nya, yang cukup rapi dan nyaman.


sudah tiga hari Xiao Zhou bekerja menjadi penjaga perpustakaan, tidak ada orang yang mirip dengan gambar yang di berikan Dewa suci Qing Tao, dan juga chow bai tidak pernah menunjukkan batang hidungnya di tempat itu, siang itu.


dan tiba-tiba saja seorang wanita cantik memasuki perpustakaan itu, wajah nya sedikit berbeda dari wajah wanita kekaisaran Wang pada umumnya, tubuh nya begitu tercetak dari balik pakaian nya.



semua mata menatap kearah wanita cantik itu, para pengunjung perpustakaan yang kebanyakan pelajar, terlihat begitu terpesona dengan bibir terbuka lebar menatap keindahan tubuh wanita cantik itu.


"aku rela menjadi budak seumur hidup, jika wanita itu mau menjadi istri ku," bisik seorang pelajar kepada temannya.


wanita cantik itu tidak menghiraukan bisik-bisik di sekitar nya, dan tetap melangkah pasti Xiao Zhou, matanya menatap ke arah lain, dan tampak acuh.


"hemm... akhirnya aku menemukan mu, apa kau akan mengingatkan ku?" batin wanita cantik itu yang tidak lain adalah penari yang pernah di tonton oleh Xiao Zhou dengan Puteri Yun Qixuan.


"apakah kau penjaga tempat ini?" tanya wanita itu.


"benar nyonya, ada yang bisa aku bantu," ucap Xiao Zhou, yang masih terlihat sibuk menatap buku, dan sesekali menggaruk kepalanya.


"bocah ini, tidak menatap ku sama sekali, baru kali ini ada orang yang tidak terpengaruh oleh pesona ku, bahkan tingkah nya begitu acuh," batin wanita bermata sipit itu.


"hemmm... apa buku itu sangat menarik?" tanya wanita itu dan menggerakkan jarinya di antara belahan gunung besar nya yang sedikit mengintip dari belahan pakaian nya.


"Xiao Zhou menutup bukunya, dan menatap wanita itu untuk sesaat.


"jika kau tidak ingin membaca sebaiknya keluar," ucap Xiao Zhou dingin, dan kembali membuka bukunya


wajah wanita itu menjadi semakin kesal,


"aku hanya ingin mencari buku tentang dasar-dasar tata bahasa dataran utama," ucap wanita itu.


"itu ada di rak paling depan nyonya, lima koin perunggu untuk membaca di sini, sepuluh koin perak jika meminjam selama 1 bulan, lima koin emas untuk menjadi pelanggan tetap di perpustakaan ini, dan pencurian akan di kenakan denda sepuluh kali harga buku," ucap Xiao Zhou menunjuk rak yang berada di urutan depan, tanpa menatap kearah wanita itu.


"ini cukup menarik, lihat saja kau akan menyesali tingkah bodoh mu itu bocah," batin wanita itu dan mulai merubah raut wajahnya, yang juga menjadi acuh.


"bocah kau sangat tegas, aku sedikit terhibur di tempat ini, bagaimana jika 100 koin emas dan aku akan membawa buku itu pergi dari tempat ini, bisakah kau mengambilkan nya untuk ku," ucap wanita itu seperti sedang menantang.


Xiao Zhou mengangguk, dan melangkah ke arah rak depan,


"penawaran yang bagus, buku itu harganya cuma lima koin emas nyonya," ucap Xiao Zhou sambil memberikan sebuah buku kepada wanita cantik itu.


wanita itu memberikan sekantong kecil koin emas, kau bisa mengambil kembalian nya, ucap wanita itu, Xiao Zhou memasukkan kantong itu ke balik jubahnya.


beberapa pelajar terlihat kesal melihat Xiao Zhou berdekatan dan berbincang dengan wanita cantik yang menjadi imajinasi liar pelajar muda itu.


wanita itu hanya tersenyum dan melangkah melewati Xiao Zhou, dan seperti tanpa di sengaja kakinya tersandung dan jatuh di pelukan Xiao Zhou, keduanya terjatuh, dan terbaring di lantai perpustakaan, dengan tubuh si wanita menindih tubuh Xiao Zhou.


beberapa pelajar datang membantu wanita impian mereka, dan beberapa dengan sengaja menginjak tubuh Xiao Zhou membiarkan nya tetap di lantai.


"nona, apa anda tidak apa-apa, biarkan aku mengantar anda pulang nona," ucap beberapa pelajar berusia sekitar 18 tahun, yang tampak begitu senang memegang tubuh dari penari itu, dengan tatapan seperti binatang liar.


"hihihi.... kalian masih sangat muda, aku mengerti masa pubertas kalian, tubuh kalian masih penuh energi itu," ucap wanita itu tersenyum menggoda, membuat bagian bawah para pelajar itu mengembang, dan tiba-tiba seorang pria berusia sekitar 30 tahun mendekati wanita cantik itu.


"nyonya Choe, apa anda sudah selesai, sebaiknya kita pulang" ucap pemuda itu,


"ada apa dengan kalian? dasar bocah gila," guman Xiao Zhou dan merangkak di sela-sela pelajar yang berebut ingin melihat wanita cantik itu


Xiao Zhou bangkit dengan wajah kesal, dan mulai merapikan pakaian nya, dan menuju meja tua nya dengan menggelengkan kepalanya.